1
1

Ekonom Permata Bank: Konsumsi Domestik Masih Jadi Penopang Ekonomi Indonesia

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede. | Foto: Media Asuransi/Angga Bratadharma

Media Asuransi, JAKARTA – Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) merilis analisis terbaru terkait kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal I/2026. Analisis itu mengungkap meski perekonomian mampu tumbuh cukup kuat, namun tetap ada kekhawatiran atau risiko yang perlu diantisipasi sebaik mungkin.

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tercatat tumbuh 5,61 persen secara tahunan (YoY) di kuartal I/2026, meningkat dari 5,39 persen pada kuartal IV/2025 dan menjadi laju pertumbuhan tertinggi sejak kuartal III/2022.

|Baca juga: Prudential Syariah Cetak Kinerja Ciamik di 2025

Pertumbuhan terutama ditopang konsumsi domestik, percepatan belanja pemerintah, serta investasi yang tetap resilien. Namun secara triwulanan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terkontraksi 0,77 persen.

Artinya capaian pertumbuhan tahunan yang tinggi perlu dibaca bersama konteksnya yakni efek pembanding yang rendah pada kuartal I/2025, dorongan musiman Ramadan dan Idulfitri, serta percepatan belanja pemerintah pada awal tahun.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 masih didukung kuat oleh permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

|Baca juga: Naik 13,4%, Allianz Indonesia Catat Premi Rp4,5 Triliun di Kuartal I/2026

|Baca juga: KUPASI Beberkan Peluang dan Tantangan New RBC bagi Industri Asuransi

“Namun demikian, dinamika eksternal seperti perang dagang, konflik geopolitik, dan perlambatan ekonomi global tetap perlu dicermati karena dapat memengaruhi stabilitas dan prospek pertumbuhan ke depan,” kata Josua, dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal 1 2026, Selasa, 12 Mei 2026.

Sebagai kontributor terbesar terhadap PDB, konsumsi rumah tangga tumbuh menjadi 5,52 persen YoY pada kuartal I/2026, meningkat dari 5,11 persen YoY pada kuartal sebelumnya. Penguatan konsumsi didukung meningkatnya aktivitas belanja masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri.

“Serta membaiknya indikator keyakinan konsumen dan penjualan ritel pada Maret 2026,” tuturnya.

Dari sisi investasi, pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) termoderasi menjadi 5,96 persen YoY dari 6,12 persen YoY pada kuartal sebelumnya, namun aktivitas investasi domestik tetap resilien terutama didukung investasi bangunan dan struktur terkait program prioritas pemerintah.

|Baca juga: Harga Saham Lippo General Insurance (LPGI) Fluktuatif, Manajemen Buka Suara!

|Baca juga: Bos Bank Mandiri Tambah Kepemilikan 800 Ribu Saham BMRI untuk Investasi

Sementara itu, belanja pemerintah melonjak signifikan hingga 21,31 persen YoY seiring percepatan realisasi fiskal pada awal tahun, termasuk untuk mendukung program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Secara eksternal, ekspor hanya tumbuh 0,90 persen YoY di tengah meningkatnya ketidakpastian global, sementara impor tumbuh 3,22 persen YoY sejalan dengan kebutuhan bahan baku dan barang modal domestik.

Meskipun kinerja keseluruhan positif, namun dominasi konsumsi dan belanja pemerintah menunjukkan mesin pertumbuhan belum sepenuhnya bertumpu pada ekspansi investasi swasta yang kuat dan berkelanjutan, sebagian pendorongnya masih bersifat musiman dan berbasis kebijakan.

Secara sektoral, sektor akomodasi dan makanan-minuman mencatat pertumbuhan tertinggi dari 7,41 persen YoY pada kuartal sebelumnya menjadi 13,14 persen YoY pada kuartal I/2026, diikuti sektor jasa lainnya serta transportasi dan pergudangan.

|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan

|Baca juga: AAJI Pede Revisi Aturan Unitlink Dorong Keseimbangan Produk Asuransi

Industri pengolahan sebagai kontributor terbesar PDB mengalami moderasi pertumbuhan menjadi 5,04 persen YoY dari 5,40 persen YoY, sementara sektor pertambangan masih tertekan akibat pengendalian produksi sejumlah komoditas mineral utama.

Secara wilayah, pertumbuhan di Bali & Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Jawa tercatat lebih tinggi dari pertumbuhan nasional, masing-masing 7,93 persen YoY, 6,95 persen YoY, dan 5,79 persen YoY, didorong normalisasi pertambangan di Nusa Tenggara Barat, kuatnya industri manufaktur di Sulawesi, dan akselerasi konsumsi domestik di Jawa.

Kehati-hatian dunia usaha turut tercermin dalam pasar tenaga kerja dan sektor manufaktur. Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2026 tercatat 4,68 persen, dengan penduduk bekerja 147,67 juta orang, naik 1,896 juta orang dibandingkan dengan Februari 2025.

Meski penyerapan masih positif, namun kualitasnya perlu dicermati di mana proporsi pekerja formal turun tipis 0,02 poin persentase, sementara pekerja paruh waktu naik 0,16 poin persentase. Risiko yang muncul bukan lonjakan pengangguran besar, melainkan meningkatnya informalitas dan tekanan pendapatan kelompok menengah bawah.

Di sisi manufaktur, Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis kuartal I/2026 masih di zona ekspansi pada level 51,37, namun melambat dari 52,21 pada kuartal sebelumnya. Sinyal perlambatan semakin kuat pada April dengan PMI Manufaktur turun ke 49,1, mengindikasikan kontraksi output, lonjakan biaya input, dan menurunnya keyakinan usaha.

|Baca juga: MSIG Life (LIFE) Tebar Dividen Rp201,60 Miliar, Catat Tanggal Cairnya!

|Baca juga: Saham ABDA Alami Volatilitas, Manajemen Beri Klarifikasi Begini!

Dinamika di sektor riil berkaitan erat dengan pasar keuangan yang belum sepenuhnya pulih. Pertumbuhan PDB yang positif belum cukup menghapus kekhawatiran investor terhadap pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, ketidakpastian geopolitik, sempitnya ruang penurunan suku bunga, serta tekanan fiskal dari subsidi energi.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Prudential Syariah Cetak Kinerja Ciamik di 2025
Next Post Hanya 18% UMKM Indonesia yang Berinvestasi untuk Keamanan Siber

Member Login

or