Media Asuransi, JAKARTA – Direktur & Chief Technical Officer Allianz Utama Indonesia Ignatius Hendrawan mengungkapkan lonjakan perjalanan pada periode libur panjang bukan sekadar tren musiman. Akan tetapi mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin mobile.
Namun di balik itu, lanjut Ignatius, risiko perjalanan juga menjadi semakin kompleks dan tidak bisa lagi dianggap sebagai hal sepele. Data Allianz Utama Indonesia menunjukkan gangguan seperti keterlambatan penerbangan dan masalah bagasi masih mendominasi.
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) segera Gelar RUPSLB, Matangkan Rencana Program Saham untuk Karyawan dan Manajemen
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
“Ini menjadi pengingat bahwa perencanaan perjalanan yang baik perlu dilengkapi perlindungan perjalanan sejak awal,” ujar Ignatius Hendrawan, dikutip dari keterangan resminya, Senin, 11 Mei 2026.
Lebih lanjut, ia menyatakan, traveling seharusnya menjadi momen yang menyenangkan. Untuk itu proteksi perjalanan bukan hanya menjadi opsi tambahan, tetapi harus menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap rencana perjalanan.
“Kesiapan menghadapi risiko akan memberikan peace of mind dan pengalaman perjalanan yang menyenangkan sehingga tujuan traveling tercapai,” kata Ignatius Hendrawan.
|Baca juga: BTN (BBTN) Gandeng MKP Garap Pariwisata Bali, Targetkan Pertumbuhan Dana Murah Rp862 Miliar!
|Baca juga: Allianz Indonesia Kedepankan Perlindungan Nasabah Hadapi El Nino Godzilla
Periode libur panjang di Mei mendorong peningkatan signifikan aktivitas perjalanan masyarakat Indonesia, baik domestik maupun internasional. Bandara yang lebih padat, antrean check-in yang mengular, serta jadwal penerbangan yang lebih dinamis menjadi gambaran umum pada periode ini.
Di tengah tingginya mobilitas tersebut, berbagai risiko perjalanan seperti keterlambatan penerbangan hingga kehilangan bagasi turut meningkat. Bagi traveler, kondisi ini dapat membuat perjalanan yang seharusnya menjadi momen menyenangkan dan rehat sejenak dari padatnya aktivitas justru diwarnai dengan ketidakpastian.
|Baca juga: BRI Life Bayarkan Klaim dan Manfaat Rp1,17 Triliun di Kuartal I/2026
|Baca juga: OJK Prediksi Jumlah Asuransi Syariah Tembus 45 Perusahaan di 2027
Pada periode peak season, gangguan operasional seperti flight delay dan mishandled baggage menjadi salah satu isu yang paling sering terjadi di bandara dengan trafik tinggi. Tidak jarang traveler harus menghadapi keterlambatan berjam-jam atau tiba di destinasi tanpa bagasi, sehingga mengganggu keseluruhan rencana perjalanan.
Di sisi lain, Head of Travel Management & Direct Retail Sompo Insurance Indonesia Maria Susana memproyeksikan penjualan asuransi perjalanan bisa mengalami penurunan apabila perang di Timur Tengah berlanjut lebih dari tiga bulan. Menurutnya penurunan utamanya akan terjadi pada destinasi yang berdampak langsung.
Namun destinasi lain yang tidak terdampak konflik, tambahnya, permintaannya masih berpotensi tumbuh. “Pasti turun dan mungkin ya turun untuk segmen tertentu. Contohnya ya ini kan Middle East ya? Tapi masih banyak kebutuhan yang (ke) destinasi lain, (tentunya) tidak terdampak,” ujar Maria.
|Baca juga: Sun Life Genjot Asuransi Kesehatan Syariah Lewat Produk Baru SHIFA
|Baca juga: Ribuan Rumah Rusak Belum Terlindungi Asuransi, OJK Wanti-wanti Protection Gap Bencana!
Meski demikian, Maria mengakui, dampak terhadap produksi tetap tidak terhindarkan. Pasalnya, banyak maskapai internasional yang menjadikan kota-kota di Timur Tengah sebagai hub transit utama.
“Kalau bilang tak terdampak sama produksi pasti terdampak ya, karena banyak pesawat-pesawat yang transitnya mau nggak mau di Dubai, contohnya ada Emirates, Etihad, ada yang di Doha. Bahkan yang Singapura saja bisa jadi stuck, mereka tidak bisa keluar dan tak bisa masuk juga. Jadi, dampaknya akan cukup besar sih,” tutur Maria.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

