Media Asuransi, JAKARTA – Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mencatat jumlah peminjam layanan pinjaman daring (Pindar) mencapai lebih dari 169 juta borrower aktif. Dari jumlah borrower sebanyak itu, sekitar 38-40 persen di antaranya adalah pelaku UMKM yang mendapatkan akses pendanaan untuk pertama kalinya.
Di tingkat platform, dampak yang dirasakan borrower tidak berhenti pada angka pinjaman yang cair. Ekosistem yang terbentuk jauh lebih luas dari sekadar transaksi. D
Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, menggambarkan bagaimana platform yang ia pimpin melihat perubahan perilaku ekonomi di antara penggunanya dari waktu ke waktu. “Yang kami lihat adalah bagaimana seorang borrower yang pertama kali meminjam untuk stok dagangan kecil, dua tahun kemudian sudah punya beberapa karyawan dan mulai masuk ke ekosistem perbankan formal,” katanya dalam keterangan resmi.
|Baca juga: Easycash Dorong Generasi Muda Lebih Bijak Atur Keuangan
Easycash mencatat bahwa sebagian besar penggunanya berasal dari segmen yang sebelumnya tidak tersentuh layanan keuangan konvensional. Tingkat kepercayaan yang dibangun melalui pengalaman pertama yang positif menjadi modal terbesar bagi pertumbuhan jangka panjang.
Pandangan serupa disampaikan oleh Direktur PT Sahabat Mikro Fintek (Samir), Yonathan Gautama, yang platformnya juga merambah segmen produktif di luar pulau Jawa. “Ada sesuatu yang sangat kuat yang terjadi ketika seseorang yang tidak pernah dianggap layak oleh sistem keuangan formal, untuk pertama kalinya mendapatkan kepercayaan berupa modal,” tuturnya.
|Baca juga: Total Pinjaman yang Disalurkan Pindar Lebih dari Rp1.388 Triliun
Yonathan menambahkan bahwa dampak pinjaman produktif tidak berhenti pada penerima langsung, tetapi menjalar ke rantai ekonomi di sekitarnya. Ada tenaga kerja yang terserap, pemasok lokal yang ikut tumbuh, dan perputaran uang yang semakin aktif di tingkat komunitas,” ungkapnya.
Bergerak Bersama
AFTECH saat ini menaungi sembilan penyelenggara pindar aktif, yakni Easycash, Samir, AdaKami, Amartha, Julo, Indosaku, PinjamDuit, LumbungDana, dan Danai. Masing-masing beroperasi di segmen dan wilayah yang berbeda, namun seluruhnya berada dalam satu kerangka pengawasan yang sama di bawah OJK dan komitmen bersama terhadap tata kelola yang bertanggung jawab.
|Baca juga: AFTECH : LPBBTI bagi Ekonomi Digital Nasional
AFTECH mendorong seluruh anggotanya untuk secara proaktif mempublikasikan data dampak platform masing-masing, termasuk repayment rate, jumlah UMKM yang didanai, dan laporan audit collection, sebagai bentuk transparansi nyata kepada publik.
Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, mengatakan bahwa pihaknya ingin masyarakat melihat Pindar sebagaimana adanya: industri yang lahir dari masalah nyata, tumbuh dengan inovasi yang bertanggung jawab dan terus berkomitmen untuk melayani mereka yang paling membutuhkan akses keuangan.
“Masih banyak yang harus kami perbaiki, tapi cerita tentang jutaan orang yang hidupnya berubah karena pindar, cerita itu juga harus didengar,” jelas Firlie.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

