1
1

BTN Perluas Transformasi Bisnis

Direktur Utama Bank BTN, Nixon LP Napitupulu. | Foto: doc

Media Asuransi, JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (Bank BTN) pada tahun 2024 ini akan fokus pada transformasi untuk memperluas area bisnis dan menyediakan solusi keuangan terintegrasi.

“Implementasinya, perseroan akan melakukan percepatan digital banking dan digitalisasi proses secara massif, yang mendukung pengembangan bisnis berbasis ekosistem perumahan sebagai sumber pertumbuhan baru,” kata Direktur Utama Bank BTN, Nixon LP Napitupulu, dalam keterangan resmi yang dikutip Sabtu, 10 Februari 2024.

Pada tahun 2022, BTN melakukan transformasi perluasan bisnis berbasis ekosistem perumahan. Dalam transformasi ini, perseroan meningkatkan kredit high yield beyond mortgage melalui cross selling kepada nasabah captive. Kemudian pada tahun 2023 lalu, transformasi yang dilakukan perseroan yakni mengembangkan bisnis yang selaras dengan era Disrupsi Digital untuk menguasai ekosistem perumahan.

|Baca juga: Ulang Tahun ke-74, Bank BTN Ingin Terus Fokus di Pembiayaan Perumahan

“Dalam transformasi ini, kami fokus pada penghimpunan DPK low cost dengan meningkatkan CASA (current account and saving account) pada segmen ritel dan institusi serta membangun kapabilitas untuk peningkatan CASA pada wholesale banking,” jelasnya.

Dengan berbagai transformasi yang telah dan akan dilakukan BTN tersebut, Nixon optimistis perseroan akan berhasil mewujudkan visi menjadi The Best Mortgage Bank in Southeast Asia pada tahun 2025. Pada tahun depan rencananya, transformasi yang akan diimplementasikan perseroan adalah menjadi One Stop Financial Solution dalam Ekosistem Perumahan.

“Dalam fase ini perseroan akan menggenjot peningkatan sumber fee berbasis layanan dan transaksional terutama pada bisnis wealth management, digital banking, dan corporate,” tuturnya.

Lebih lanjut Nixon menuturkan bahwa salah satu turunan dari transformasi bisnis yang dilakukan perseroan adalah mengubah model bisnis Kantor Cabang Pembantu (KCP). Dulu KCP BTN yang berjumlah 537 hanya untuk melayani nasabah.

Tetapi sejak tahun 2022 lalu model bisnis KCP diubah. Mulai tahun ini KCP bakal memiliki neraca dan laporan untung-rugi sendiri. Ibarat buku raport, angka-angka yang tertera di dalam neraca itu akan menjadi bahan manajemen dalam menilai kinerja KCP dan pegawai.

“Penilaian produktivitas KCP hanyalah bagian dari transformasi kantor cabang (branch transformation) yang sudah berjalan di Bank BTN sejak April 2022. Melalui transformasi tersebut, kini KCP lebih fokus pada bisnis (kontribusi margin) ketimbang operasional,” kata Nixon.

|Baca juga: BTN Prioritas Targetkan Dana Kelolaan Tumbuh Hingga Rp57 Triliun

Dengan lebih fokus pada bisnis, organisasi KCP pun mengalami perubahan. Sekarang KCP terbagi dalam tiga tipe bisnis yakni general, consumer, dan SME sub-branch. Tak hanya mengubah model bisnis dan tipe KCP, transformasi juga mencangkup penyelarasan key performace indicator (KPI).

Mulai tahun ini semua KCP sudah dapat diukur sampai di mana kontribusinya terhadap profitabilitas perusahaan. “Nanti, setiap bulan produktivitas KCP kami nilai,” ujarnya.

Seeblumnya, pengukuran yang dilakukan manajemen lebih kepada volume bisnis. Belum diukur secara spesifik bagaimana kontribusi profitabilitas masing-masing KCP. Dalam menjalankan model bisnis baru ini, KCP jangan hanya mengejar pertumbuhan aset. Mereka juga harus accountable, apakah pertumbuhan itu menghasilkan profitabilitas yang baik atau tidak.

Tak sampai di situ, KCP juga didorong untuk mengendalikan risiko kredit (NPL). Kalau hanya tumbuh saja tapi manajemen resikonya jelek, tentu tidak baik buat perusahaan. Selain itu, KCP perlu memperhatikan pentingnya pengendalian biaya, karena pada akhirnya akan berpengaruh pada profitabilitas.

Nixon menegaskan bahwa melalui perubahan model bisnis KCP tersebut, kini jumlah KCP yang masuk dalam kategori sangat produktif dan produktif telah mencapai 257 unit. Angka ini tentu masih jauh dari jumlah KCP yang saat ini mencapai 537 unit, tetapi hal ini merupakan momentum yang sangat berarti untuk meningkatkan kinerja perseroan.

Menurutnya, dengan berbagai transformasi tersebut, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun terakhir posisi laba BTN yang saat ini menempati urutan kedelapan, bakal naik menjadi urutan kelima seperti posisi aset.

Editor: S. Edi Santosa

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post LPS Membayarkan Klaim Penjaminan Rp1,78 Triliun
Next Post AFTECH Berkolaborasi dengan INFINITY Tingkatkan Literasi Keuangan dan Telenta Digital Generasi Muda

Member Login

or