1
1

Chief Economist Permata Bank Soroti Risiko Global terhadap Pasar Keuangan RI

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede. | Foto: Media Asuransi/Angga Bratadharma

Media Asuransi, JAKARTA – Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap berada pada kisaran 5,1–5,3 persen. Kondisi itu dengan permintaan domestik masih menjadi motor utama pertumbuhan.

Namun demikian, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyebutkan, risiko eksternal seperti ketegangan geopolitik, perang dagang global, dan perlambatan ekonomi China tetap perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan dan kinerja ekspor nasional.

|Baca juga: Ekonom Permata Bank: Konsumsi Domestik Masih Jadi Penopang Ekonomi Indonesia

Secara keseluruhan, lanjut Josua, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I/2026 yang sebesar 5,61 persen merupakan capaian positif dan kredibel, tetapi belum mencerminkan perbaikan yang menyeluruh.

“Perlambatan belanja modal, kehati-hatian rekrutmen, tekanan biaya, pelemahan manufaktur, dan volatilitas pasar keuangan menunjukkan bahwa kualitas pertumbuhan perlu mendapat perhatian serius,” kata Josua, dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal 1 2026, Selasa, 12 Mei 2026.

Ke depan, ia menambahkan, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter tetap penting untuk menjaga keseimbangan antara dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makroekonomi, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar serta kepercayaan pasar di tengah dinamika global.

Menurutnya pemerintah perlu menjaga daya beli, mempercepat belanja produktif, dan menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sedangkan Bank Indonesia (BI) dinilai perlu terus menjaga stabilitas rupiah dan inflasi sambil memastikan likuiditas mengalir ke sektor produktif.

|Baca juga: KUPASI Beberkan Peluang dan Tantangan New RBC bagi Industri Asuransi

|Baca juga: Prudential Syariah Cetak Kinerja Ciamik di 2025

Sementara dunia usaha, masih kata Josua, perlu untuk terus menerus menjaga efisiensi dan memperkuat rantai pasok tanpa mengorbankan tenaga kerja secara berlebihan. Hal itu penting agar tidak ada guncangan yang menekan perekonomian Tanah Air.

“Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat kuat dalam angka, tetapi juga lebih terasa nyata dalam investasi, penciptaan pekerjaan formal, dan peningkatan pendapatan masyarakat,” tutup Josua.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
Next Post Rupiah Tembus Rp17.500, Bos BI Sebut Ini Biang Keroknya!

Member Login

or