1
🇮🇩 Indonesia✓
🇬🇧 English✓
🇨🇳 中文 (简体)✓
🇯🇵 日本語✓
🇰🇷 한국어✓
🇸🇦 العربية✓
🇲🇾 Melayu✓
🇹🇭 ภาษาไทย✓
🇻🇳 Tiếng Việt✓
1

Pembiayaan Syariah Diprediksi Jadi Mesin Baru Ekonomi RI hingga 2045

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Ekonom Syariah dan Anggota Komite Pengembangan Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (KPKS OJK) Dian Masyita. | Foto: Media Asuransi/Muh Fajrul Falah

Media Asuransi, JAKARTA – Pembiayaan syariah diproyeksikan memiliki peran yang semakin strategis dalam memperkuat struktur perekonomian nasional dan mendukung pencapaian target pembangunan Indonesia Emas 2045.

Ekonom Syariah sekaligus Anggota Komite Pengembangan Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (KPKS OJK) Dian Masyita mengatakan penguatan ekosistem ekonomi syariah telah masuk dalam rencana strategis pembangunan nasional.

Menurut Dian, posisi keuangan syariah saat ini tidak lagi sebatas alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan layanan keuangan berbasis syariah. Sektor tersebut dinilai dapat menjadi salah satu instrumen dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berdaya saing.

“Sistem keuangan syariah menawarkan asas keadilan, transparansi, serta kepastian yang sifatnya universal. Konsep ini dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terbatas pada latar belakang tertentu,” ujar Dian dalam Kick Off BCA Syariah Journalist Competition 2026 di Jakarta, Rabu, 30 September 2026.

Dian menjelaskan terdapat empat aspek yang menjadi fokus pengembangan ekonomi syariah ke depan. Pertama, meningkatkan posisi dan daya saing keuangan syariah Indonesia di pasar global.

|Baca juga: Bank DBS Indonesia dan Batavia Hadirkan Reksa Dana Syariah Offshore Berdenominasi Dolar AS

|Baca juga: BCA Syariah Bidik Gen Z, Pembiayaan Emas Mulai Jadi Pilihan

Kedua, mengoptimalkan keuangan sosial syariah melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ketiga, memperkuat ekosistem industri halal melalui integrasi rantai pasok dengan pembiayaan perbankan.

Sementara itu, aspek keempat adalah penguatan regulasi dan infrastruktur, termasuk tata kelola kelembagaan, kepastian hukum, serta pengembangan infrastruktur perbankan digital.

Di sisi industri, Kepala Satuan Kerja Bisnis Retail dan Konsumer BCA Syariah Bukit Mas Siahaan mengatakan, pembiayaan konsumer menjadi salah satu segmen yang terus dikembangkan perseroan untuk menjaga pertumbuhan bisnis.

Menurut dia, sejumlah produk pembiayaan konsumer seperti Pembiayaan Kepemilikan Rumah (KPR iB), Pembiayaan Kendaraan Bermotor (KBO iB), dan pembiayaan emas masih menunjukkan tren pertumbuhan positif di tengah dinamika ekonomi dan perubahan suku bunga.

“Keuangan syariah memberikan nilai tambah berupa kepastian margin dan angsuran tetap hingga akhir tenor. Karakteristik ini menjadi perlindungan (hedge) yang aman bagi perencanaan keuangan nasabah di tengah kondisi ekonomi yang dinamis,” pungkas Bukit.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Inflasi pada September 2026 Sebesar 3,28%
Next Post HUT ke-33, APARI Wisuda 622 Profesional Pialang Asuransi dan Reasuransi

Member Login

or