Media Asuransi, JAKARTA – PT Asuransi Tri Pakarta (TRIPA) memilih bersikap selektif dalam mengembangkan bisnis asuransi kredit. Di tengah tingginya risiko pada segmen tersebut, perusahaan memfokuskan portofolionya pada pembiayaan berbasis Supply Chain Financing (SCF) yang dinilai memiliki profil risiko lebih terukur.
Direktur Utama TRIPA G.C. Koen Yulianto mengatakan perusahaan tidak mengambil seluruh jenis bisnis asuransi kredit. Perseroan hanya masuk pada segmen yang sesuai dengan kapasitas dan memiliki ekosistem bisnis yang telah terbentuk.
|Baca juga: Asuransi Tri Pakarta Nilai Kenaikan BI-Rate Bawa Berkah bagi Kinerja Investasi
|Baca juga: Asuransi Tri Pakarta Mantap Penuhi Ekuitas Rp1 Triliun di Akhir 2028
“Asuransi kredit kita nggak semuanya. Kita hanya memilih bisnis-bisnis yang memang menurut kita mampu dan kita bisa. Kalau kredit yang umum kita nggak ikut,” ujar Koen usai RUPST, Selasa, 30 Juni 2026.
Koen menjelaskan TRIPA lebih banyak menjamin pembiayaan modal kerja bagi vendor atau kontraktor yang mengerjakan proyek pemerintah melalui skema supply chain financing. Menurutnya, model bisnis tersebut memiliki alur transaksi yang jelas sehingga risiko gagal bayar lebih mudah dikelola.
|Baca juga: AAJI Ingatkan Bahaya Perang Harga Premi di Tengah Lonjakan Inflasi Medis
|Baca juga: OCBC (NISP) Sebut Volatilitas Pasar Bikin Nasabah Makin Butuh Pendampingan Investasi
“Kita ikutnya yang supply chain financing SCF saja. Misalnya pemerintah punya APBN, kemudian ada vendor atau kontraktor yang melaksanakan APBN itu. Nah dia dapat modal kerja dari bank. Nah ini yang masuk ke kita,” katanya.
Selain memiliki profil risiko yang lebih terukur, perusahaan juga mempertimbangkan dukungan dari reasuradur dalam menentukan bisnis yang akan dijamin. Strategi tersebut dinilai membantu menjaga kualitas portofolio asuransi kredit di tengah tantangan industri.
|Baca juga: Bank Jakarta Dorong Pertumbuhan Berkualitas di Tengah Kenaikan Suku Bunga
|Baca juga: Bank Jakarta dan BEI Kompak Dorong Transformasi dan Kualitas di Tengah Dinamika Ekonomi
“Kalau SCF kebetulan karena memang itu siklus yang sudah jadi, risikonya sudah terukur dan reas juga mau kalau yang kayak gitu. Memang kita nggak masuk kepada asuransi kredit yang umum, fokusnya pada SCF,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

