1
1

Bank Jakarta dan BEI Kompak Dorong Transformasi dan Kualitas di Tengah Dinamika Ekonomi

Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo (ketiga dari kanan) dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffry Hendrik (kedua dari kiri). | Foto: Bank Jakarta

Media Asuransi, JAKARTA – Industri keuangan nasional dinilai masih memiliki fundamental yang kuat di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Namun, perubahan lanskap bisnis dan perilaku pasar membuat pelaku industri harus melakukan transformasi agar tetap relevan dan mampu tumbuh secara berkelanjutan.

Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan secara fundamental kondisi perbankan nasional masih berada dalam kondisi yang baik. Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit yang masih positif, permodalan yang kuat, likuiditas yang terjaga, serta rasio kredit bermasalah (NPL) yang relatif rendah.

“Persoalannya sebenarnya bukan di fundamentalnya, tetapi medan permainannya berubah,” kata Agus, dalam bincang-bincang ‘Shaping the Next Era of Indonesia’s Capital Market‘, Investor Day 2026, di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, dikutip dari keterangannya, Rabu, 1 Juli 2026.

|Baca juga: Tumbuh 29,8%, BEI Cetak Pendapatan Konsolidasi Rp3,66 Triliun di 2025

Menurut dia, dalam beberapa tahun terakhir industri perbankan menghadapi berbagai dinamika yang sulit diprediksi, mulai dari pandemi covid-19, konflik geopolitik global hingga perubahan kebijakan perdagangan internasional. Kondisi tersebut membuat bank tidak lagi dapat menjalankan strategi bisnis secara business as usual.

Agus mengingatkan adanya tekanan terhadap biaya dana (CoF) perbankan. Menurut dia, bunga deposito dalam lelang dana antarbank sempat menyentuh level 11,5 persen, yang menjadi sinyal meningkatnya biaya penghimpunan dana bagi industri perbankan.

Menghadapi perubahan tersebut, Bank Jakarta menjalankan transformasi di berbagai aspek bisnis. Transformasi dilakukan mulai dari penguatan model bisnis, digitalisasi layanan, manajemen risiko hingga budaya kerja perusahaan.

Sebagai bank yang mayoritas sahamnya dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Jakarta memfokuskan pengembangan bisnis pada penguatan ekosistem pemerintah daerah. Perputaran anggaran di lingkungan Pemprov DKI Jakarta memiliki potensi besar yang dapat menjadi sumber pertumbuhan bisnis berkelanjutan bagi perseroan.

|Baca juga: BEI Sebut IHSG Cetak 24 Kali All Time High di 2025

Selain itu, Bank Jakarta juga mempercepat transformasi digital secara menyeluruh, mulai dari pembaruan infrastruktur teknologi, pengembangan aplikasi hingga peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Di sisi lain, penguatan manajemen risiko juga menjadi perhatian utama. Menurut Agus, risiko yang dihadapi industri perbankan saat ini tidak lagi terbatas pada risiko kredit, tetapi semakin multidimensi, termasuk ancaman keamanan siber. “Risiko ke depan itu akan semakin multidimensi,” ujarnya.

BEI dorong investor berkualitas

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffry Hendrik menekankan pentingnya penguatan kualitas investor dalam mendukung pendalaman pasar modal Indonesia.

Menurut Jeffry, bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO), BEI terus mendorong peningkatan transparansi pasar, penyediaan data investor yang lebih granular, pendalaman pasar, serta penguatan keterbukaan informasi kepada publik.

“Kami yakin dengan transparansi yang lebih baik, tentu akan ada kepercayaan yang lebih tinggi,” kata Jeffry.

Ia mengungkapkan jumlah investor domestik saat ini telah melampaui 28 juta. Namun, peningkatan jumlah investor harus diiringi dengan peningkatan kualitas agar dapat menjadi fondasi yang kuat bagi pasar modal nasional.

Jeffry menegaskan pasar modal membutuhkan investor yang memiliki literasi dan pemahaman investasi yang memadai. Investor juga perlu memahami profil risiko masing-masing dan tidak semata-mata mengikuti tren pasar.

“Mampu melakukan analisis, tidak hanya ikut-ikutan apa kata influencer, tidak FOMO,” ujarnya.

|Baca juga: Pendapatan Asuransi Tri Pakarta (TRIPA) Naik 9,52% Jadi Rp1,57 Triliun pada 2025

Pesan tersebut sejalan dengan strategi yang diterapkan Bank Jakarta dalam menghadapi dinamika ekonomi saat ini. Agus mengatakan perusahaan tidak lagi mengejar pertumbuhan semata, melainkan mengutamakan pertumbuhan yang sehat dan berkualitas.

“Kita enggak kejar-kejaran nyari pertumbuhan besar, tetapi yang kita kejar adalah pertumbuhan yang sehat dan berkualitas,” kata Agus.

Baik sektor perbankan maupun pasar modal menilai bahwa kualitas akan menjadi faktor penentu dalam menjaga ketahanan industri keuangan ke depan. Transformasi digital, penguatan tata kelola, transparansi, serta peningkatan literasi keuangan dinilai menjadi fondasi penting untuk menghadapi perubahan yang semakin cepat dan kompleks.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Pembiayaan dan DPK Perbankan Syariah Tumbuh Tinggi
Next Post Menuju BEI Makin Profesional dan Bebas Kepentingan

Member Login

or