Bank Berjuang Mendorong Pertumbuhan Kredit

Perekonomian Indonesia yang mulai membaik di kuartal IV/2020 membuat berbagai kalangan optimistis pertumbuhan kredit tahun ini akan lebih tinggi. Pertumbuhan kredit di RBB (Rencana Bisnis Bank) yang dilaporkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 7,13 persen, tetapi OJk  mengarahkan agar pertumbuhan dapat dijaga sekitar 7,5 persen plus minus 1 persen. Sementara itu, Bank Indonesia justru merevisi proyeksi pertumbuhan kredit/pembiayaan pada tahun 2021 dari semula pada kisaran 7 persen-9 persen menjadi 5 persen-7 persen.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, meminta industri perbankan untuk meningkatkan pertumbuhan kredit khususnya ke sektor UMKM dan konsumsi guna mendorong pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19. Hal ini disampaikan Wimboh Santoso dalam acara dialog OJK dengan pimpinan perbankan yang dilakukan secara fisik dan virtual di Kantor OJK, 16 Februari 2021.

Hadir secara fisik dalam dialog itu Dirut BRI Sunarso, Dirut Bank Mandiri Darmawan Junaidi, Dirut BNI Royke Tumilaar, Plt Dirut BTN Nixon LP Napitupulu, Dirut Bank Shinhan Indonesia Hwang Dae Geu, Dirut Bank Danamon Yasushi Itagaki, Dirut Citibank Indonesia Batara Sianturi, Dirut BCA Jahja Setiaatmadja, Dirut Bank CIMB Tigor M Siahaan, Dirut Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi, dan Dirut Bank DKI Zainuddin Mappa.

OJK juga mendukung kebijakan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan sektor otomotif dengan penurunan PPnBM kendaraan bermotor melalui berbagai ketentuan yang dapat dikeluarkan OJK seperti penurunan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) dan penetapan uang muka kredit kendaraan bermotor. “Kita harus fokus, UMKM jadi prioritas, karena sektor itu dapat didorong dalam jangka pendek khususnya di daerah karena pertumbuhan ini bukan saja di kota tapi di daerah,” kata Wimboh Santoso dalam keterangan resmi.

Ketua OJK juga meminta industri perbankan mempercepat penyaluran kredit pada kuartal pertama tahun ini melanjutkan tren pertumbuhan kredit yang mulai membaik pada kuartal IV/2020. Menurutnya, OJK akan terus mengawal upaya perbankan menyalurkan kredit sesuai rencana bisnis bank (RBB) yang disampaikan ke OJK sebesar 7,13 persen pada 2021. “Pertumbuhan kredit di RBB 7,13 persen. Kami berikan arahan ke masyarakat menjadi sekitar 7,5 persen plus minus 1. Itu jadi acuan kita bersama dan kita akan sering bertemu membahas rencana bisnis ini. Kami bersama pemerintah terus mengkaji kebijakan apa lagi yang bisa dilakukan,” kata Wimboh.

Ketua Himbara, Sunarso, dalam kesempatan tersebut menyambut baik kebijakan OJK di masa pandemi khususnya restrukturisasi kredit yang sudah diperpanjang hingga Maret 2022, serta diperbolehkannya debitur melakukan restrukturisasi ulang dalam jangka tersebut. “Policy response ini sangat tepat. Kami menyambut baik,” katanya.

Sementara itu, Dirut BCA Jahja Setiaatmadja menyatakan optimistis kondisi perekonomian nasional akan membaik, mengingat pada kuartal IV/2020 kredit perbankan sudah positif dan diharapkan tahun ini semakin tumbuh dengan adanya vaksin Covid-19. Menurutnya, kebijakan pemerintah menurunkan PPnBM kendaraan bermotor sudah sejalan dengan kebijakan restrukturisasi kredit yang dikeluarkan OJK dan sangat membantu industri perbankan.

Sementara itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Februari 2021, menilai bahwa ketahanan sistem keuangan tetap terjaga, meskipun risiko dari berlanjutnya dampak Covid-19 terhadap stabilitas sistem keuangan terus dicermati. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Desember 2020 tetap tinggi sebesar 23,81 persen, dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah, yakni 3,06 persen bruto dan 0,98 persen neto.

“Di tengah kondisi likuiditas yang longgar dan pertumbuhan DPK yang tinggi yakni sebesar 10,57 persen yoy, perbaikan fungsi intermediasi dari sektor keuangan belum kuat. Hal ini tecermin dari kontraksi kredit pada Januari 2021 sebesar 1,92 persen yoy. Memang lebih baik dibandingkan kontraksi 2,41 persen yoy pada Desember 2020. Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia merevisi proyeksi pertumbuhan kredit/pembiayaan pada tahun 2021 dari semula pada kisaran 7 persen-9 persen menjadi 5 persen-7 persen,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

Bank Indonesia juga merilis hasil survei yang menunjukkan kebutuhan pembiayaan akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini merupakan hasil Survei Permintaan dan Penawaran Pembiayaan Perbankan Januari 2021, yang dilakukan BI. Kebutuhan pembiayaan korporasi terindikasi meningkat pada 3 bulan mendatang, terutama untuk mendukung aktivitas operasional. Hal ini terindikasi dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kebutuhan pembiayaan korporasi 3 bulan mendatang sebesar 27,1 persen. 

Peningkatan kebutuhan pembiayaan terutama terjadi pada sektor Pertambangan dan penggalian; pertanian, perikanan dan kehutanan; informasi dan komunikasi serta real estat. Kebutuhan pembiayaan korporasi tersebut sebagian direncanakan menggunakan Dana Sendiri (Laba Ditahan) serta sebagian lainnya dari kredit bank.

Di sisi lain, penambahan pembiayaan rumah tangga pada 3 bulan dan 6 bulan ke depan diindikasi masih terbatas. Bank umum masih menjadi preferensi utama rumah tangga dalam rencana pengajuan pembiayaan ke depan, terutama dalam bentuk Kredit Multi Guna, Kredit Pemilikan Rumah, dan Kredit Kendaraan Bermotor.

Dari sisi penawaran perbankan, penyaluran kredit baru terindikasi meningkat pada kuartal I/2021, tercermin pada SBT perkiraan penyaluran kredit baru sebesar 67,4 persen. Berdasarkan kelompok bank, pertumbuhan secara triwulanan diprakirakan terjadi pada seluruh kategori bank dan untuk seluruh jenis kredit. Prakiraan meningkatnya penyaluran kredit ini didorong oleh optimisme terhadap perkembangan distribusi vaksin Covid-19, yang diharapkan
dapat menekan penyebaran virus sehingga berdampak terhadap kondisi perekonomian.

Sejalan dengan proyeksi positif pada sektor properti yang ditopang oleh prospek perbaikan ekonomi nasional, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) membidik pertumbuhan laba bersih tahun 2021 pada kisaran 50 persen-70 persen. Untuk mencapai target tersebut, BTN menargetkan kredit dan DPK tumbuh pada kisaran 7 persen-9 persen. Plt Dirut BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan, perseroan pun tetap mengutamakan upaya mendorong sektor pembangunan perumahan sebagai core business BTN.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk membidik kredit tumbuh hingga 9 persen tahun ini. Optimisme tumbuh seiring dengan pemulihan ekonomi yang mulai terlihat sejak kuartal IV/2020. Direktur Corporate Banking BNI, Silvano Winston Rumantir, mengatakan bahwa pertumbuhan kredit itu bakal didorong oleh segmen korporasi seiring dengan semakin pulihnya ekonomi. “Kami memperkirakan pertumbuhan membaik secara moderat tahun ini pada kisaran 6 persen-9 persen,” kata Silvano dalam paparan kinerja perseroan secara daring, akhir Januari 2021.

BNI masih dapat melihat potensi pertumbuhan kredit di segmen lain. Untuk segmen konsumer misalnya, potensi pertumbuhan berasal dari rekening gaji atau payroll system yang tumbuh dobel digit. “Sementara untuk pertumbuhan kredit segmen menengah dan kecil, kami akan fokus memperbaiki kualitas kredit dan mengoptimalkan cross selling,” jelas Silvano.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) membidik angka pertumbuhan kredit hingga 7 persen pada tahun 2021. “Target pertumbuhan yang dicanangkan BRI yakni pertumbuhan kredit di 2021 Insyaallah sekitar 6 persen. Syukur kalau dapat 7 persen,” kata Direktur Utama BRI, Sunarso, dalam konfrensi pers secara daring, usai RUPS-LB BRI, akhir Januari 2021.

Sunarso mengatakan, BRI akan tetap fokus pada penyaluran kredit ke UMKM dengan membidik porsi penyaluran kredit UMKM sebesar 85 persen. Untuk memperbesar dukungan dan pemberdayaan bagi UMKM dan pelaku usaha ultra mikro, BRI akan mendorong digitalisasi proses penyaluran pembiayaan.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) membidik pertumbuhan kredit 4 persen- 6 persen di tahun 2021. Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengatakan hal itu dapat terealisasi seiring dengan terjadinya pemulihan ekonomi nasional. “Target kami kredit tahun ini bisa tumbuh 4 persen sampai 6 persen. Kami melihat beberapa hal yang dilakukan pemerintah sudah sangat bagus,” kata Vera dalam konferensi pers secara daring, awal Februari 2021. S. Edi Santosa