1
1

Jaga Stabilitas Hasil Investasi, Allianz Indonesia Siapkan Strategi Selektif di 2026

Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia Ni Made Daryanti. | Foto: Allianz Life Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Allianz Indonesia tetap mengutamakan prinsip kehati-hatian dengan menjaga keseimbangan portofolio investasi sesuai karakteristik bisnis asuransi jiwa yang berorientasi jangka panjang. Hal itu diterapkan dalam rangka menghadapi pasar yang tetap dinamis.

Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia Ni Made Daryanti menyatakan penempatan investasi dilakukan Allianz Indonesia secara selektif dengan pendekatan fundamental yang disiplin, disertai pengelolaan portofolio yang adaptif untuk memitigasi risiko dan menjaga stabilitas hasil investasi.

|Baca juga: Gunakan Pendekatan Investasi Disiplin, Allianz Indonesia Catat Dana Kelolaan Rp43,7 Triliun di 2025

Memasuki 2026, lanjutnya, strategi pengelolaan investasi diarahkan pada pemilihan aset yang berkualitas, pengelolaan risiko yang terukur, serta fleksibilitas likuiditas. Hal itu guna mendukung kinerja portofolio yang berkelanjutan dan tetap selaras dengan tujuan keuangan jangka panjang nasabah.

“Dalam situasi pasar yang berubah cepat, Allianz Indonesia mengajak nasabah untuk meninjau tujuan investasi, jangka waktu, toleransi risiko, serta alokasi aset secara berkala,” kata Ni Made, dikutip dari keterangan resminya, Jumat, 8 Mei 2026.

|Baca juga: Tugu Insurance (TUGU) Tebar Dividen Tunai Rp355,52 Miliar, Simak Jadwal Lengkapnya!

|Baca juga: Hadapi El Nino Godzilla, Allianz Indonesia Perkuat Manajemen Risiko dan Disiplin Underwriting

Memasuki 2026, kondisi makro domestik diproyeksikan tetap kondusif. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,2 persen hingga 5,8 persen dengan inflasi terjaga di rentang 1,5 sampai dengan 3,5 persen.

Kebijakan fiskal tetap ekspansif, dengan penguatan agenda hilirisasi dan peningkatan belanja modal, termasuk proyeksi belanja modal infrastruktur dan transportasi yang naik sekitar 37 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp156 triliun.

Dukungan terhadap konsumsi juga diperkirakan berlanjut melalui program bantuan sosial yang, jika digabung dengan program makan bergizi gratis, dapat mencapai lebih dari Rp500 triliun atau tumbuh 53 persen YoY.

Sementara di pasar modal, saham Indonesia memasuki 2026 dengan pijakan yang lebih kokoh, ditopang investor domestik dan ekspektasi perbaikan kinerja emiten. Pada saat yang sama, reformasi transparansi di pasar menjadi salah satu perhatian untuk memperluas peluang, termasuk bagi saham berkapitalisasi besar yang dinilai menarik.

|Baca juga: AAJI Komitmen Perkuat Ketahanan Risiko Industri Asuransi Jiwa di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

|Baca juga:Asuransi Multi Artha Guna (AMAG) Bakal Tebar Dividen Tunai Rp148,37 Miliar, Simak Jadwalnya!

Untuk obligasi, imbal hasil berpotensi bergerak naik terbatas seiring kebutuhan penerbitan yang lebih tinggi, namun minat investor institusi domestik diperkirakan tetap menjaga stabilitas. Instrumen pasar uang juga diperkirakan tetap atraktif didukung likuiditas yang memadai dan operasi pasar yang konsisten.

Secara global, proyeksi pertumbuhan PDB dunia masih menunjukkan ketahanan, namun lanskap 2026 menuntut kewaspadaan karena visibilitas politik dan ekonomi yang berkurang.

Selain tema suku bunga dan inflasi, pasar juga mencermati dinamika kebijakan perdagangan, serta peluang pertumbuhan dari sektor informasi dan komunikasi termasuk kecerdasan buatan (AI). Dalam kondisi seperti ini, pengelolaan aktif, fokus pada kualitas aset, dan preferensi pada instrumen yang lebih likuid menjadi semakin penting.

“Diversifikasi tetap menjadi kunci, dan pemilihan instrumen perlu selaras dengan profil risiko agar tujuan proteksi dan investasi berjalan seimbang dalam jangka panjang,” pungkas Ni Made.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Tekan Konsumsi BBM, Pemerintah Siapkan Insentif Kendaraan Listrik Mulai Juni 2026
Next Post IHSG Sesi I Ditutup Melemah Tipis

Member Login

or