1
1

Wajib Paham, Begini Cara Atasi Burnout di Era Digital!

Ilustrasi. | Foto: DC Studio/Freepik

Media Asuransi, JAKARTA – Di era digital, berbagai aktivitas kini bergantung pada teknologi, mulai dari pekerjaan, pendidikan, hingga kebutuhan sehari-hari. Kemudahan ini membuat banyak cara lama ditinggalkan karena dianggap tidak lagi relevan.

Namun, di balik efisiensi tersebut, muncul tantangan baru seperti kelelahan mata akibat terlalu lama menatap layar, hingga gangguan konsentrasi karena paparan informasi yang berlebihan tanpa jeda.

Selain itu, penggunaan media digital secara berlebihan juga dapat memicu tekanan mental, seperti rasa cemas, kesepian, hingga fenomena Fear of Missing Out (FOMO) akibat derasnya arus informasi di media sosial.

|Baca juga: Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional yang Perlu Dipahami

|Baca juga: Benarkah Asuransi Perjalanan Tahunan Lebih Menguntungkan? Coba Baca Informasi Ini!

Tanpa pengelolaan yang baik, kondisi ini berisiko menimbulkan burnout, sehingga penting bagi individu untuk mulai membatasi paparan digital dan menjaga keseimbangan antara aktivitas online dan waktu istirahat. Jadi, bagaimana cara untuk mengatasi atau mencegah agar tidak burnout di era digital ini?

Melansir laman IFG Life, Sabtu, 9 Mei 2026, berikut cara yang dapat membantu kamu agar tetap sehat dan secara mental secure di era digital ini:

Atur prioritas kepentingan kamu

Setiap hari, kamu bisa merangkai to-do list yang dapat membantu kamu mengerjakan tugas yang lebih penting. Dengan cara ini, kamu bisa menghindari burnout karena tumpukan tugas dan jauh lebih ada waktu untuk istirahat yang cukup. Aplikasi seperti Trello atau Trasana bisa menjadi cara untuk manajemen tugas kamu, agar segala tugas bisa terlabel tergantung urgensinya.

Berikan waktu untuk istirahat

Tentunya tak kalah debat kalau istirahat menjadi cara untuk mengatasi kewalahan atau burnout. Di setiap saat kamu lagi fokus mengerjakan suatu tugas, atau analisis informasi, sebaiknya memberi waktu untuk istirahat bahkan jika sejenak saja.

Agar bisa diterapkan secara efektif, kamu bisa mengikuti pomodoro technique, di mana kamu akan bekerja selama 25 menit dan istirahat selama lima menit. Teknik ini juga bisa kamu atur sendiri sesuai beban kerja atau kenyamanan kamu, asal semua kerjaan terselesaikan.

Menjaga kesehatan fisik dan mental

Kesehatan fisik dan mental menjadi salah satu kunci kuat dalam mengatasi nurnout di era digital ini. Berolahraga tiap hari selama 30 menit terbukti dapat melepaskan endorfin yang dapat membuat badan jauh lebih bugar.

Pola makan seimbang dan asupan yang tepat porsi juga menjadi pengaruh dalam kesehatan fisik yang bisa mengakomodasi melawan burnout. Di saat di mana kamu merasa stres atau kewalahan, kebiasaan untuk mengatur pernapasan dapat membantu pikiranmu menjadi lebih rileks dan terkontrol. Ini bisa ditambah dengan meditasi rutin.

Mengenali penanda burnout

Orang terbiasa mengabaikan tanda burnout atau bahkan tidak mengenali sama sekali gejala/penanda yang memberi tahu kalau pikiran atau badan kita akan segera menuju pada burnout.

|Baca juga: Ingin Beli Asuransi untuk Orang Lain? Coba Cek Dulu Informasi Berikut!

|Baca juga: Dari Beban Kerja hingga Lingkungan, Ini Penyebab Karyawan Memilih Resign

|Baca juga: Kenali Toxic Leadership: Ciri, Dampak, dan Penyebab Bos yang Merusak Tim!

Padahal dengan mengetahuinya kita bisa melakukan upaya pradini dalam upaya mencegah terjadinya burnout. Secara fisik gejala burnout bisa diketahui ketika seseorang mengalami insomnia, kelelahan kronis, atau sakit kepala. Secara emosional gejala bisa diketahui ketika seseorang merasa tidak semangat, cemas, atau merasa terisolasi.

Sebaiknya selalu waspada terhadap gejala-gejala ini meskipun kamu dituntut oleh beban pekerjaan berat atau kebiasaan untuk menjalankan gaya hidup yang produktif yang jika tidak diawasi akan menyebabkan efek yang justru kontraproduktif.

Mengadakan puasa digital

Salah satu yang pasti sering kita gunakan di era digital ini adalah gadget atau smartphone di mana kita suka melibatkan diri dalam aktivitas media sosial. Tanpa disadari, ini memengaruhi kesehatan mental kita secara negatif.

Meskipun kita ada tuntutan untuk secara aktif menelusuri media sosial untuk mengetahui viralitas yang baru, namun tidak ada manfaatnya jika kita tidak membatasi diri karena dapat menurunkan kesehatan kamu secara mental. Terutama jika terlalu lama melihat postingan orang lain yang dapat menciptakan rasa kesepian atau kecemasan.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Begini Cara Ideal Memilih Asuransi untuk Keluarga Muda
Next Post BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan

Member Login

or