Media Asuransi, JAKARTA – Head of Global Financial Markets Bank DBS Indonesia Ronny Setiawan menyebutkan volatilitas yang terjadi di Indonesia pada awal tahun sampai sekarang terbilang cukup tinggi. Saat kondisi ekonomi masih membaik di Januari, ada harapan penurunan suku bunga karena bisa menggeliatkan aktivitas perekonomian.
“Kalau penurunan suku bunga biasanya resentimennya bagus karena investasi jalan, aset growth jalan, dan bagus segalanya,” kata Ronny, dalam Media Briefing DBS Institutional Forum 2026, di Jakarta, Rabu, 29 Juli 2026.
Akan tetapi, lanjutnya, situasi geopolitik yang memanas terutama akibat adanya perang membuat kondisi perekonomian berbalik arah. Jika awalnya ekonomi terbilang positif menjadi sekarang ini muncul banyak kekhawatiran terutama terkait tekanan inflasi hingga tekanan dari sisi suku bunga.
“Maksudnya yang tadinya bullish, sekarang banyak kekhawatirannya terutama dari tekanan inflasi. Kalau inflasi meningkat biasanya ada tekanan dari suku bunga yang kemudian suku bunga dinaikkan,” tuturnya.
|Baca juga: OJK Belum Bisa Pastikan Dampak Iuran Program Penjaminan Polis terhadap Premi Asuransi
|Baca juga: BP BUMN Minta Direksi Bank Mandiri (BMRI) Fokus Tingkatkan Kualitas SDM
Menurutnya hal itu terbukti di Indonesia di mana secara year to date (ytd) suku bunga acuan atau BI-Rate terus mengalami kenaikan dengan tujuan menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sementara pada Juli ini, terpantau BI-Rate dipertahankan oleh Bank Indonesia (BI).
“Ke depannya kita melihatnya, kalau kita lihat dari pasar, mungkin pertanyaannya apakah the worst has been priced in? Gimana caranya kita tahu the worst has been priced in? Jadi kalau market turun atau IHSG turun 30 persen, itu kan momentum,” ucapnya.
“Jadi kita tiap Jumat buka berita turun lima persen, terus saat dia mulai melandai, mulai sideways, itu mungkin sudah the worst has been priced in. Itu salah satu yang paling nampak dari harga dulu, dari price action,” tambahnya.
Kemudian yang kedua, tambahnya, adalah dari sisi fundamental story. Menurutnya yang paling mudah untuk melihat price action adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Apabila dilihat data beberapa waktu sebelumnya, terlihat ada percepatan pelemahan mata yang Garuda.
“Jadi kalau kita lihat, kecepatan kenaikan dolar rupiah atau pelemahan rupiah dalam hal ini, itu Rp17 ribu ke Rp18 ribu cepat sekali. Biasanya 1.000 poin itu lama, bisa satu tahun, bisa 1,5 tahun. Tapi Rp17 ribu ke Rp18 ribu itu cuma 1,5 bulan,” ucapnya.
“Tapi sekarang sudah di Rp18 ribu, kebanyakan market itu, kalau kita orang awam, oh habis Rp18 ribu, Rp20 ribunya kapan? Tapi kalau kita lihat historical itu tidak common,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
