Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyatakan ketidakpastian global kembali meningkat usai re-eskalasi intensitas perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal Juli 2026. Adapun lalu lintas di Selat Hormuz kembali terhambat.
“Sehingga mengganggu produksi dan rantai pasok perdagangan antarnegara serta harga minyak dan berbagai komoditas dunia berbalik naik,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan Juli 2026, Rabu, 22 Juli 2026.
Prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diperkirakan tetap lemah sebesar 3,0 persen dan inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,5 persen. Kebijakan moneter global menjadi lebih ketat sebagai respons terhadap makin tingginya tekanan inflasi tersebut.
|Baca juga: BI-Rate Tetap 5,75% Demi Pacu Pertumbuhan Ekonomi RI
|Baca juga: BI Catat Volume Transaksi Pembayaran Digital Tembus 16,07 Miliar di Triwulan II/2026
Ia menambahkan suku bunga kebijakan moneter AS, Fed Funds Rate (FFR), diperkirakan naik lebih awal ke triwulan IV/2026. Imbal hasil US Treasury juga naik tinggi ke level 4,56 persen (tenor 10 tahun) dan 4,18 persen (tenor dua tahun) pada 20 Juli 2026 dan diprediksi meningkat lagi didorong oleh melebarnya defisit fiskal AS.
Di pasar keuangan global, lanjutnya, aliran modal keluar dari negara emerging markets beralih ke pasar keuangan AS dan aset yang memberikan imbal hasil tinggi dan aman (safe-haven assets) sehingga mendorong penguatan mata uang dolar AS terhadap negara maju (DXY) dan negara berkembang (ADXY).
“Ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global yang kembali meningkat tersebut mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
