Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat ketahanan industri perbankan tetap kuat untuk memitigasi ketidakpastian global terhadap sistem keuangan. Kondisi ini ditandai kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi, risiko kredit yang terjaga rendah, dan likuiditas perbankan secara industri tetap memadai.
“Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan pada Mei 2026 tercatat tinggi sebesar 23,74 persen, yang tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan Juli 2026, Rabu, 22 Juli 2026.
Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) perbankan secara agregat tetap rendah 2,17 persen (bruto) dan 0,84 persen (neto) pada Mei 2026. Sementara itu, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) industri perbankan tercatat sebesar 23,08 persen pada Juni 2026 atau turun dari 24,74 persen pada Mei 2026.
|Baca juga: Prospek Pasar Saham di China Disebut Dipengaruhi Kombinasi Kompleks
|Baca juga: Mirae Asset: Keputusan MSCI Mempertahankan RI di Kategori Emerging Market Jadi Katalis Positif
Hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, termasuk dampak rambatan berlanjutnya perang di Timur Tengah yang ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang tetap terjaga baik.
“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan makroprudensial dan sinergi kebijakan bersama KSSK dalam rangka turut menjaga stabilitas sistem keuangan, termasuk menjaga kecukupan likuiditas dan memitigasi segmentasi likuiditas antarbank,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
