Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menegaskan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) perlu terus diperkuat untuk memitigasi dampak rambatan tingginya ketidakpastian global. Neraca perdagangan Indonesia pada Januari hingga Mei 2026 secara kumulatif mencatat surplus sebesar 4,03 miliar dolar AS.
“Dengan perkembangan pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan Juli 2026, Rabu, 22 Juli 2026.
Ia menambahkan dari transaksi modal dan finansial, berbagai penguatan respons kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia bersinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah untuk meningkatkan imbal hasil instrumen keuangan domestik dapat mendorong berlanjutnya aliran masuk modal asing.
|Baca juga: Bank DBS Indonesia Sebut Keputusan Investasi Perlu Didasarkan Tren Struktural Jangka Panjang
|Baca juga: BI-Rate Tetap 5,75% Demi Pacu Pertumbuhan Ekonomi RI
Aliran investasi portofolio asing pada triwulan II/2026 mencatat net inflows sebesar 8,5 miliar dolar AS terutama didukung SBN dan SRBI, yang kemudian berlanjut pada triwulan III/2026 atau hingga 20 Juli 2026 terutama dari SBN yang mencatat net inflows sebesar 0,1 miliar dolar AS.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tetap terjaga sebesar 145,6 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Ke depan, BI memprediksi kinerja transaksi berjalan 2026 tetap sehat dalam kisaran defisit 1,3 persen sampai dengan 0,5 persen dari PDB. Penguatan sinergi kebijakan pemerintah dan BI terus ditempuh untuk memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional.
“Sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dalam menghadapi gejolak global,” tutupnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

