Media Asuransi, JAKARTA – Gejolak ekonomi, baik di tingkat global maupun domestik, dapat ikut berdampak pada pengelolaan keuangan rumah tangga. Bagi pekerja yang mengandalkan pendapatan bulanan, perubahan harga kebutuhan dan ketidakpastian ekonomi membuat pengaturan anggaran perlu dilakukan secara lebih cermat.
Melansir laman Media Keuangan Kemenkeu, Sabtu, 29 Agustus 2026, ada sejumlah langkah yang dapat diterapkan untuk menjaga kondisi finansial tetap stabil di tengah situasi ekonomi yang dinamis yakni:
1. Siapkan dana darurat
Dana darurat menjadi salah satu fondasi penting dalam perencanaan keuangan, terutama ketika kondisi ekonomi sulit diprediksi. Dana tersebut dapat digunakan untuk menghadapi kebutuhan tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, berkurangnya pendapatan, maupun keadaan darurat lainnya.
Bagi seseorang yang telah berkeluarga, sekitar lima persen dari pendapatan bulanan dapat dialokasikan secara rutin untuk membangun dana darurat. Sementara bagi kepala keluarga yang sudah memiliki anak, jumlah dana darurat yang disiapkan idealnya mencapai setidaknya enam kali total pengeluaran bulanan.
Misalnya, jika kebutuhan bulanan mencapai Rp10 juta, dana darurat yang perlu tersedia sekitar Rp60 juta. Jumlah tersebut berada di luar alokasi untuk tabungan dan investasi.
2. Lindungi kesehatan dengan asuransi
Risiko kesehatan juga perlu menjadi perhatian ketika mengatur keuangan. Tanpa perlindungan yang memadai, biaya pengobatan dapat menggerus tabungan dalam waktu singkat dan mengganggu kestabilan finansial keluarga.
Pekerja umumnya telah mendapatkan perlindungan melalui BPJS Kesehatan. Namun, jika manfaat yang diterima dinilai belum mencukupi, terutama untuk kebutuhan medis tertentu, tambahan asuransi kesehatan dapat dipertimbangkan. Anggaran untuk kebutuhan tersebut dapat berada di kisaran 5-10 persen dari penghasilan bulanan.
Menjaga kesehatan juga dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti rutin berolahraga dan mengonsumsi makanan bergizi. Di sisi lain, pengeluaran konsumtif yang kurang mendesak, termasuk rokok, dapat dikurangi sehingga dana yang tersedia bisa dialihkan untuk kebutuhan yang lebih produktif.
3. Jangan sembarangan menambah utang
Menjaga keseimbangan arus kas menjadi semakin penting ketika kondisi ekonomi penuh ketidakpastian. Salah satu caranya adalah menahan diri untuk mengambil utang baru, khususnya untuk kebutuhan konsumtif yang tidak mendesak.
Bagi masyarakat yang masih memiliki kewajiban seperti kartu kredit, KPR, maupun pinjaman lainnya, porsi pembayaran cicilan sebaiknya dijaga agar tidak melampaui 30 persen dari pendapatan bulanan.
Jika beban cicilan sudah cukup besar, mengambil pinjaman tambahan dapat semakin mempersempit ruang keuangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menabung, maupun berinvestasi.
|Baca juga: Dari Beban Kerja hingga Lingkungan, Ini Penyebab Karyawan Memilih Resign
|Baca juga: Kenali Toxic Leadership: Ciri, Dampak, dan Penyebab Bos yang Merusak Tim!
Untuk membeli barang yang belum mendesak, menabung terlebih dahulu dapat menjadi pilihan daripada mengambil kredit konsumtif. Sementara bagi yang belum memiliki utang, pinjaman sebaiknya diarahkan pada kebutuhan produktif, seperti kepemilikan rumah, dengan tetap memastikan rasio cicilan berada dalam batas yang aman.
4. Evaluasi lagi langganan digital
Pengeluaran untuk berbagai layanan digital sering kali luput dari perhatian karena nominal masing-masing relatif kecil. Padahal, jika dikumpulkan, biaya untuk layanan streaming, hiburan, penyimpanan cloud, hingga berbagai platform digital dapat menjadi beban tersendiri bagi anggaran bulanan.
Karena itu, lakukan evaluasi terhadap seluruh layanan yang masih aktif. Pertahankan langganan yang benar-benar memberikan manfaat, sementara layanan yang jarang digunakan atau sudah tidak dibutuhkan dapat dihentikan.
Langganan yang menunjang pekerjaan masih dapat menjadi prioritas. Namun, pilih kapasitas dan paket yang sesuai dengan kebutuhan agar tidak terjadi pemborosan. Untuk kebutuhan hiburan, pengeluarannya sebaiknya dijaga tidak lebih dari lima persen pendapatan bulanan.
5. Perkuat tabungan dan pilih investasi sesuai risiko
Ketidakpastian ekonomi juga menjadi momentum untuk memperkuat kebiasaan menabung sekaligus menata kembali strategi investasi. Setidaknya 10 persen dari pendapatan bulanan dapat dialokasikan untuk kedua kebutuhan tersebut.
Dana yang dikumpulkan dapat digunakan untuk berbagai target finansial jangka menengah dan panjang, mulai dari biaya pendidikan anak, persiapan pensiun, hingga pembelian rumah.
Dalam situasi ekonomi yang berfluktuasi, instrumen dengan tingkat risiko relatif rendah dapat menjadi pilihan, seperti Surat Berharga Negara (SBN), reksa dana pasar uang, dan emas.
Adapun instrumen yang memiliki risiko lebih tinggi, seperti saham dan reksa dana saham, sebaiknya dipilih setelah investor memahami karakteristik pasar serta menyesuaikannya dengan profil risiko masing-masing.
Pada akhirnya, pengelolaan keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi membutuhkan kedisiplinan dalam mengatur pengeluaran, menyiapkan perlindungan, mengendalikan utang, serta menyisihkan pendapatan untuk kebutuhan masa depan.
Dengan pengelolaan yang lebih terukur, kondisi keuangan tetap dapat dijaga sekaligus mendukung pencapaian target finansial sesuai kemampuan dan jangka waktu yang ditetapkan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

