1
1

Anak Muda Makin Aktif Punya Side Hustle, Kesehatan Jangan Sampai Terlupakan!

Ilustrasi. | Foto: Freepik/jcomp

Media Asuransi, JAKARTA – Bekerja dari pagi hingga sore, lalu lanjut mengerjakan proyek freelance pada malam hari. Ada pula yang mengisi waktu luang dengan menjadi content creator, membuka usaha kecil, menjadi mitra pengemudi, hingga menawarkan jasa berdasarkan keahlian yang dimiliki.

Pola seperti ini semakin banyak dijalani generasi muda di usia produktif. Memiliki pekerjaan utama sekaligus pekerjaan tambahan atau side hustle kini menjadi salah satu cara untuk mendapatkan penghasilan ekstra.

Mengutip laman Prudential Indonesia, Sabtu, 5 September 2026, bagi sebagian orang, side hustle bahkan bukan lagi sekadar kegiatan tambahan. Aktivitas tersebut menjadi strategi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mengejar target finansial.

Studi Prudential plc menunjukkan, 43 persen responden di Indonesia memiliki pekerjaan tambahan untuk meningkatkan penghasilan dan mempercepat pencapaian tujuan finansial.

Fenomena tersebut juga tidak lepas dari hustle culture, yaitu pola hidup yang mendorong seseorang untuk terus produktif dan bekerja keras demi mencapai kesuksesan. Akibatnya, waktu istirahat terkadang justru dianggap sebagai waktu yang terbuang.

Semangat untuk terus produktif memang bisa menjadi hal positif. Namun, rutinitas yang terlalu padat juga dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan tubuh dan pikirannya sendiri.

Ketika pekerjaan utama dan side hustle dilakukan tanpa jeda yang cukup, tubuh berisiko mengalami kelelahan berkepanjangan. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat berujung pada burnout, gangguan kecemasan, hingga menurunnya kualitas hidup.

|Baca juga: Dari Beban Kerja hingga Lingkungan, Ini Penyebab Karyawan Memilih Resign

|Baca juga: Kenali Toxic Leadership: Ciri, Dampak, dan Penyebab Bos yang Merusak Tim!

Risiko kesehatan juga semakin perlu diperhatikan oleh kelompok usia produktif. Penyakit kritis yang selama ini kerap dikaitkan dengan usia lanjut kini juga dapat muncul pada usia yang lebih muda.

Pola makan yang kurang sehat, minim aktivitas fisik, serta waktu istirahat yang tidak cukup menjadi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Dengan aktivitas yang semakin padat, menjaga kesehatan seharusnya menjadi bagian dari upaya mempertahankan produktivitas.

Risiko kesehatan tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi keuangan. Ketika seseorang membutuhkan perawatan, biaya yang harus disiapkan bisa menjadi tantangan tersendiri.

Data Mercer 2026 Health Trends memperkirakan kenaikan biaya medis di Indonesia mencapai 17,8 persen. Angka tersebut sekitar tujuh kali lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi inflasi umum yang berada di kisaran 2,5 persen.

|Baca juga: 3 Ciri Pemimpin yang Jadi Penghambat, Bukan Pendorong Kemajuan

|Baca juga: Ingin Beli Asuransi untuk Orang Lain? Coba Cek Dulu Informasi Berikut!

Artinya, biaya untuk mendapatkan layanan kesehatan berpotensi meningkat jauh lebih cepat dibandingkan dengan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Konsultasi dokter, pembelian obat, hingga biaya rawat inap dapat menjadi pengeluaran yang cukup besar apabila tidak dipersiapkan.

Bagi generasi muda yang tengah aktif bekerja dan mengejar berbagai target finansial, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa produktivitas perlu berjalan beriringan dengan perlindungan kesehatan dan kesiapan finansial.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Erajaya Akan Buyback Saham Senilai Rp500 Miliar

Member Login

or