Media Asuransi, JAKARTA – Krisis energi global yang terjadi saat ini mendorong perubahan besar di kawasan Asia Tenggara. Lonjakan harga dan gangguan pasokan mengungkap dua kelemahan utama, yakni ketergantungan tinggi pada impor bahan bakar fosil serta rendahnya ketahanan sistem energi di kawasan.
Mengutip Asia Insurance Review, Senin, 20 April 2026, dalam jangka pendek, pemerintah di negara-negara Asia Tenggara masih fokus menjaga stabilitas ekonomi dan menekan inflasi. Namun, dalam jangka panjang, arah kebijakan mulai bergeser ke penguatan ketahanan energi dan keberlanjutan.
Partner KPMG Singapura sekaligus Head of ESG Consulting Sharad Somani mengatakan kondisi ini akan mendorong peningkatan investasi pada energi terbarukan dan rendah karbon sebagai bagian dari strategi energi yang lebih beragam.
|Baca juga: Rp28 Miliar Digelapkan Eks Pegawai, BNI (BBNI) Pastikan Kembalikan Dana Aek Nabara
|Baca juga: BNI Sekuritas Sarankan 6 Saham Pilihan Ini saat IHSG Berpeluang Terkoreksi
Ia menyebut ada tiga prioritas utama yang kini menjadi fokus, yakni diversifikasi energi, efisiensi energi, dan kemandirian energi. Diversifikasi dilakukan dengan menyeimbangkan sumber energi domestik, regional, dan internasional guna meningkatkan ketahanan sistem.
Sementara efisiensi energi ditempuh melalui pengurangan intensitas energi dan dekarbonisasi industri. Adapun kemandirian energi didorong lewat pengembangan energi bersih lokal seperti tenaga surya, angin, panas bumi, biomassa, serta teknologi baru seperti hidrogen hijau.
Somani menilai tren ini memperkuat posisi energi terbarukan bukan hanya sebagai kebutuhan lingkungan, tetapi juga peluang strategis dan ekonomi bagi kawasan.
|Baca juga: Bos OJK Blak-blakan Ungkap Alasan Sempurnakan Aturan terkait PAYDI
|Baca juga: OJK Minta BNI Tuntaskan Penyelesaian Kasus Dugaan Penyimpangan Dana Nasabah KCP Aek Nabara
Di sisi lain, Singapura dinilai memiliki peran penting dalam ekosistem energi Asia Tenggara, terutama sebagai pusat keuangan dan jasa profesional. Negara tersebut juga berpotensi memperkuat kerja sama regional, termasuk melalui perdagangan listrik lintas negara dan pengembangan ASEAN Power Grid.
Meski demikian, dalam jangka pendek, sejumlah negara masih meningkatkan penggunaan batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi. Langkah ini dinilai sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak, meskipun berisiko terhadap target jangka panjang.
Ke depan, KPMG memperkirakan energi terbarukan tetap menjadi pilar utama dalam strategi energi kawasan. Negara yang mampu menyeimbangkan diversifikasi, efisiensi, dan kemandirian energi dinilai akan lebih siap menghadapi volatilitas serta mencapai target keberlanjutan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
