1
1

Mirae Asset: Volatilitas Pasar Buka Peluang untuk Investor Masuk Selektif

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji. | Foto: Media Asuransi/Angga Bratadharma

Media Asuransi, JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai volatilitas pasar membuka peluang bagi investor untuk masuk secara selektif yang harapannya bisa memaksimalkan keuntungan. Meski demikian, ketelitian dan kecermatan diperlukan guna meminimalisir kerugian di masa mendatang.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji menilai volatilitas pasar membuka peluang melalui strategi berburu saham diskon dengan pendekatan value investing.

|Baca juga: Mirae Asset Sebut Peluang Investasi di Pasar Keuangan RI Masih Terbuka, Ini Alasannya!

“Momentum dividen dan kinerja emiten dapat dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, terutama pada saham komoditas dan big caps,” ujar Nafan, dalam Media Day bertajuk ‘Volatility to Opportunity: Market Outlook and Strategy for Q2 2026‘, di Jakarta, Selasa, 21 April 2026.

Secara teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak dalam rentang support di 7.346–7.447 dan resisten di 7.677–7.774 dalam jangka pendek. Dalam paparannya, Nafan juga menyoroti sejumlah saham big caps yang menarik untuk diakumulasi pada kuartal II/2026, di antaranya ADRO, BBCA, BBRI, BBNI, BMRI, serta EXCL.

“Selain itu, saham berbasis komoditas seperti ANTM, BRMS, UNTR, dan MDKA juga dinilai menarik seiring kuatnya harga emas dan dinamika geopolitik global,” kata Nafan.

Mirae Asset Sekuritas menilai volatilitas pasar bukan semata risiko, tetapi juga peluang yang dapat dimanfaatkan melalui strategi investasi yang tepat. Dengan kombinasi fundamental domestik yang solid serta peluang sektoral yang selektif, investor diharapkan dapat lebih adaptif dalam menangkap momentum pasar pada kuartal II/2026.

|Baca juga: Matahari (LPPF) Resmi Ganti Nama Jadi MDS Retailing, Apa Alasannya?

|Baca juga: Alamtri Minerals Indonesia (ADMR) Tebar Dividen US$120 Juta, Simak Jadwal Lengkapnya!

Di sisi lain, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Daniel Aditya Widjaja menambahkan, kinerja operator telekomunikasi menunjukkan pemulihan lebih kuat dari ekspektasi. Average Revenue Per User (ARPU) dari dua operator utama, yakni Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT) dan XLSmart (EXCL) mencatatkan rekor tertinggi pada kuartal IV/2025.

“Pencapaian ARPU ini mencerminkan pergeseran industri dari kompetisi harga menuju kompetisi berbasis nilai,” ujar Daniel.

Dirinya menyatakan potensi pertumbuhan juga didorong oleh bisnis GPU-as-a-Service (GPUaaS) yang mulai memberikan berkontribusi terhadap pendapatan ISAT, dengan estimasi kontribusi sekitar US$50–70 juta pada 2026.

|Baca juga: Dicecar BEI tentang Volatilitas Saham, Manajemen JMA Syariah (JMAS) Buka Suara!

|Baca juga: Persaingan Kian Sengit, Bos OJK Minta Industri Asuransi Terapkan Strategi Ini

Selain itu, rencana spin-off aset fiber Telkom dinilai berpotensi mendorong pembagian dividen spesial dengan estimasi yield sekitar 12–13 persen pada 2026. Lebih lanjut, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor telekomunikasi.

“Dengan EXCL sebagai top pick yang didukung potensi pertumbuhan EBITDA sebesar 17,7 persen secara tahunan pada tahun fiskal 2026,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bank Mandiri (BMRI) Cetak Laba Bersih Rp15,4 Triliun di Kuartal I/2026
Next Post Tumbuh 17,4%, Bank Mandiri (BMRI) Salurkan Kredit Rp1.530 Triliun di Kuartal I/2026

Member Login

or