1
1

Harga Premi Asuransi Energi Terus Turun di Tengah Risiko Global yang Makin Parah, Kok Bisa?

Ilustrasi. | Foto: Insurance Asia/Vlad Deep from Unsplash

Media Asuransi, GLOBAL – Pasar asuransi energi di Asia masih berada di posisi menguntungkan bagi pembeli meskipun risiko global meningkat. Kondisi ini ditopang oleh rendahnya klaim di kawasan serta kapasitas penanggung yang masih berlebih.

Dilansir dari Insurance Asia, Rabu, 22 April 2026, laporan Willis Towers Watson menyebutkan, kerugian yang terkait dengan produksi minyak dan gas di Asia tetap rendah sepanjang 2025. Minimnya klaim besar membuat kawasan ini menjadi salah satu yang berkinerja terbaik dalam portofolio global perusahaan asuransi.

Asia juga masih dipandang sebagai pasar pertumbuhan, khususnya bagi operator minyak dan gas yang memiliki standar keselamatan tinggi dan rekam jejak klaim yang bersih. Kondisi tersebut memungkinkan pembeli memperoleh harga premi yang kompetitif di tengah kenaikan risiko global.

|Baca juga: Risiko Gagal Bayar Meningkat, Konflik Timur Tengah Tekan Industri Asuransi Kredit

|Baca juga: Allianz Indonesia: Kenaikan Biaya Medis Jadi Perhatian Besar bagi Masyarakat

Prospek serupa juga terlihat pada perlindungan untuk kilang dan pabrik petrokimia di Asia memasuki awal 2026. Kapasitas asuransi masih melimpah dan minat penanggung tetap tinggi karena tidak adanya kerugian besar di kawasan ini.

Persaingan paling ketat terjadi pada fasilitas dengan catatan perawatan yang baik dan riwayat klaim yang minim. Tarif premi masih mengalami penurunan, meskipun lajunya lebih lambat dibandingkan dengan pertengahan 2025.

Di sisi lain, penanggung mulai meningkatkan pengawasan terhadap aset yang memiliki eksposur ke Amerika Serikat, mengingat tingkat kerugian di wilayah tersebut lebih tinggi. Kondisi pasar yang lunak di Asia diperkirakan masih berlanjut setidaknya hingga paruh pertama tahun ini.

|Baca juga: Bank Mandiri (BMRI) Cetak Laba Bersih Rp15,4 Triliun di Kuartal I/2026

|Baca juga: GoSend Perkuat Standar Keamanan dengan Hadirkan Kode Terima Paket

Secara global, tekanan terhadap harga tetap berlangsung. Kapasitas untuk risiko produksi minyak dan gas kini telah melampaui US$10 miliar dan terus bertambah seiring masuknya penanggung baru dan fasilitas berbasis broker.

Kendati demikian, belum ada pemicu yang jelas untuk mendorong kenaikan harga secara berkelanjutan, meskipun kerugian, pergerakan modal, dan volatilitas ekonomi berpotensi memperlambat siklus pasar.

Kerugian pada sektor kilang dan petrokimia secara global tercatat lebih tinggi. Nilai kerugian bruto mencapai sekitar US$6,8 miliar sepanjang 2025 dan berlanjut hingga awal 2026. Namun, tambahan kapasitas dari berbagai platform, termasuk Lloyd’s of London, menjaga tingkat persaingan tetap tinggi.

|Baca juga: Mirae Asset: Volatilitas Pasar Buka Peluang untuk Investor Masuk Selektif

Di sisi geopolitik, konflik di Timur Tengah meningkatkan perhatian terhadap risiko pasokan energi. Namun, kerugian yang diasuransikan secara langsung akibat konflik tersebut masih terbatas, sehingga belum cukup untuk menyerap kelebihan modal di pasar.

Selain itu, tekanan juga datang dari faktor ekonomi. S&P Global menilai perusahaan asuransi di Asia Pasifik menghadapi tekanan tidak langsung akibat gangguan pasokan energi yang berkepanjangan, mengingat tingginya ketergantungan kawasan ini terhadap impor.

Dalam skenario dasar, gangguan di Selat Hormuz diperkirakan mereda pada April, meskipun sebagian masalah pasokan masih berlanjut. Dalam kondisi tersebut, harga minyak Brent diproyeksikan berada di kisaran US$92 per barel pada kuartal II dan sekitar US$80 sepanjang tahun.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post BTPN Syariah (BTPS) Tebar Dividen Tunai Tahun Buku 2025, Simak Jadwal Lengkapnya!
Next Post Respons OJK Atas Pengumuman MSCI Terbaru

Member Login

or