1
1

Pengguna Aplikasi Bank Jago (ARTO) Capai 15,2 Juta, Aktivitas Investasi Tumbuh 38,2%

Head of Digital Lending Business Bank Jago Irene Santoso. | Foto:: Bank Jago

Media Asuransi, JAKARTA – Jumlah pengguna PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang memanfaatkan fitur pengelolaan keuangan di Aplikasi Jago terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Hingga Maret 2026, tercatat sekitar 43,2 juta Kantong telah digunakan oleh 15,2 juta pengguna. Sementara itu, jumlah pengguna yang terhubung dengan platform investasi mitra tercatat tumbuh 38,2 persen secara tahunan per 31 Desember 2025.

|Baca juga: Prudential Indonesia Tunggu Kejelasan Skema terkait Potensi Bisnis di Pembangunan Kampung Nelayan

|Baca juga: Dicecar BEI tentang Volatilitas Saham, Manajemen JMA Syariah (JMAS) Buka Suara!

Perkembangan tersebut menunjukkan tren peningkatan pemanfaatan layanan perbankan digital, tidak hanya untuk transaksi, tetapi juga untuk pengelolaan keuangan dan investasi dalam satu platform.

Bank Jago menandai lima tahun perjalanan Aplikasi Jago sejak April 2021. Dalam periode tersebut, aplikasi ini berkembang dari layanan perbankan digital untuk menabung dan bertransaksi menjadi platform yang juga memfasilitasi penempatan dana dan investasi secara terintegrasi.

Salah satu fitur yang digunakan adalah Kantong, yang memungkinkan pengguna memisahkan dana ke dalam beberapa pos sesuai tujuan. Konsep ini serupa dengan kebiasaan masyarakat dalam mengelola uang secara terpisah berdasarkan kebutuhan.

|Baca juga: Dihujani Keluhan, Asuransi MAG (AMAG) Klarifikasi Proses Klaim Kendaraan Sudah Sesuai Prosedur

|Baca juga: Matahari Department (LPPF) Tebar Dividen Rp250 per Saham, Simak Jadwal Lengkap dan Tata Caranya

“Cara mengatur uang ini terbukti efektif mendorong pengguna Aplikasi Jago menjadi lebih disiplin dalam menempatkan uang dan mencapai tujuan keuangannya,” ujar Head of Digital Lending Business Bank Jago Irene Santoso, dalam keterangan resminya yang dikutip Senin, 20 April 2026.

Rata-rata pengguna memiliki hampir tiga Kantong. Fitur Kantong Pengeluaran menjadi yang paling banyak digunakan, terutama untuk kebutuhan harian seperti konsumsi dan pengeluaran rutin.

Selain itu, fitur ini juga digunakan untuk pembayaran tagihan, kebutuhan usaha, serta alokasi dana musiman seperti Tunjangan Hari Raya (THR) dan keperluan hari besar.

Aplikasi Jago juga dilengkapi fitur Analisis Pengeluaran yang menyajikan rincian pemasukan dan pengeluaran yang telah dikategorikan. Dengan dukungan teknologi machine learning, sistem secara otomatis mengelompokkan transaksi, meskipun pengguna tetap dapat menyesuaikan kategori sesuai kebutuhan.

|Baca juga: Rp28 Miliar Digelapkan Eks Pegawai, BNI (BBNI) Pastikan Kembalikan Dana Aek Nabara

|Baca juga: BNI Sekuritas Sarankan 6 Saham Pilihan Ini saat IHSG Berpeluang Terkoreksi

Di sisi lain, aktivitas investasi pengguna juga menunjukkan peningkatan. Hal ini tercermin dari pertumbuhan jumlah pengguna yang terhubung dengan platform investasi mitra seperti Bibit dan Stockbit.

Dari sisi komposisi, reksa dana menjadi instrumen paling banyak dipilih dengan porsi 44 persen, diikuti saham 42 persen dan obligasi 14 persen. “Minat investasi yang meningkat di pasar saham juga terlihat dari pembukaan Rekening Dana Nasabah (RDN) Bank Jago yang naik lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025,” kata Irene.

Seiring meningkatnya penggunaan berbagai instrumen investasi, kebutuhan akan integrasi data portofolio juga menjadi perhatian. Bank Jago menghadirkan fitur yang memungkinkan pengguna melihat portofolio investasi dalam satu tampilan yang terhubung dengan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) serta platform mitra.

|Baca juga: Bos OJK Blak-blakan Ungkap Alasan Sempurnakan Aturan terkait PAYDI

|Baca juga: OJK Minta BNI Tuntaskan Penyelesaian Kasus Dugaan Penyimpangan Dana Nasabah KCP Aek Nabara

“Sama halnya dengan seni menempatkan uang, seni berinvestasi bukan hanya tentang memilih instrumen investasi yang tepat tetapi juga memahami seluruh portofolio investasi yang kita miliki,” ujar Irene.

“Saat ini, tantangan yang dihadapi pengguna bukan lagi pada terbatasnya pilihan instrumen investasi, melainkan informasi aset investasi yang tersebar dan tidak saling terhubung sehingga nasabah berpotensi mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak lengkap,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post OJK Sebut Perempuan Mendominasi di Birokrasi, tapi Masih Dibayangi Kekerasan
Next Post IHSG Melemah ke 7.621 di Sesi I

Member Login

or