1
1

Analis Nilai Pelemahan Bitcoin di Awal Tahun Bukan Sekadar Koreksi

Mata uang digital Bitcoin. | Foto: Dirjen Pajak

Media Asuransi, JAKARTA – Pergerakan Bitcoin (BTC) sepanjang 2026 masih berada dalam tekanan dengan koreksi year-to-date (ytd) per akhir April 20206, di kisaran minus 12,77 persen hingga minus 20,33 persen. Kondisi ini menunjukkan pasar kripto tengah menghadapi tekanan dari berbagai faktor global, mulai dari kebijakan moneter hingga ketegangan geopolitik.

Tekanan utama berasal dari kebijakan The Fed yang masih mempertahankan suku bunga di level tinggi, seiring inflasi yang belum sepenuhnya terkendali, terutama dari sektor energi. Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah serta kebijakan terkait pasokan minyak global turut mendorong lonjakan harga energi, yang pada akhirnya memperkuat sentimen risk-off di pasar keuangan.

|Baca juga: Bank Mega Syariah Salurkan Pembiayaan Rp9,26 Triliun di Triwulan I/2026

|Baca juga: Bukan Konflik Timur Tengah, AAUI Justru Pelototi Ancaman Ini terhadap Industri Asuransi!

Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengatakan kondisi ini membuat Bitcoin semakin dipengaruhi oleh faktor makro. “Dalam situasi saat ini, Bitcoin bergerak sejalan dengan aset berisiko lainnya. Selama tekanan dari suku bunga tinggi dan geopolitik masih berlangsung, ruang kenaikan cenderung terbatas,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Senin, 4 Mei 2026.

|Baca juga: Bitcoin Business Index (BBI) Perkuat Framework UMKM-BRI untuk Dorong Ketahanan Bisnis Indonesia

Dia jelaskan, selain faktor makro, tekanan juga datang dari pasar derivatif. Likuidasi posisi leverage yang cukup besar, terutama dari posisi long, mempercepat penurunan harga dan memperbesar volatilitas. Kondisi ini menunjukkan pasar sebelumnya berada dalam posisi yang cukup agresif, sehingga rentan terhadap koreksi tajam.

Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini berada dalam fase penentuan arah. Jika tidak mampu kembali menembus area resistance di sekitar US$76.000, maka tekanan berpotensi berlanjut. Dalam skenario ini, Bitcoin berisiko menguji level support di kisaran US$74.200. Jika level tersebut tidak mampu bertahan maka potensi penurunan berikutnya dapat mengarah ke area US$72.600.

|Baca juga: Bitcoin Tiba-Tiba Melejit Usai Gencatan Senjata AS-Iran

“Dalam jangka pendek, struktur harga masih menunjukkan tekanan. Jika resistance tidak berhasil ditembus maka ada kemungkinan harga akan menguji support yang lebih rendah,” jelas Fyqieh.

Namun, terdapat juga peluang pemulihan apabila kondisi eksternal mulai membaik. Jika Bitcoin mampu kembali menembus level resistance tersebut maka peluang untuk kembali ke fase konsolidasi atau rebound akan terbuka. Perubahan arah ini akan sangat bergantung pada meredanya tensi geopolitik atau adanya sinyal pelonggaran kebijakan dari The Fed.

Di tengah tekanan jangka pendek, prospek jangka menengah Bitcoin masih didukung oleh faktor fundamental. Adopsi institusional terus meningkat, dengan semakin banyak perusahaan yang memasukkan Bitcoin ke dalam strategi keuangan mereka.

|Baca juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Mengapa Investor Justru Beli Bitcoin?

Selain itu, potensi arus masuk dana ke ETF Bitcoin juga dapat mengurangi suplai di pasar dan menjadi pendorong kenaikan harga. Data on-chain juga menunjukkan adanya akumulasi oleh investor besar atau whale selama periode koreksi. Pola ini secara historis sering menjadi indikasi terbentuknya dasar harga sebelum terjadi pergerakan naik.

“Akumulasi oleh investor besar saat harga melemah bisa menjadi sinyal bahwa pasar mulai membentuk level dasar. Jika didukung oleh kembalinya arus dana institusional, ini bisa membuka peluang kenaikan dalam jangka menengah,” tambah Fyqieh.

|Baca juga: RUPSLB JMA Syariah (JMAS) Rombak Formasi Komisaris dan Direksi, Ini Susunan Barunya!

|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Salurkan Pembiayaan Baru Rp5,5 Triliun di Kuartal I/2026

Secara keseluruhan, pergerakan Bitcoin saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil. Dalam jangka pendek, tekanan masih mendominasi dengan potensi uji support di area US$74.200 hingga US$72.600. Namun, dalam jangka menengah, peluang pemulihan tetap terbuka apabila tekanan makro mereda dan minat institusional kembali meningkat.

“Pasar saat ini masih dalam fase penyesuaian. Arah selanjutnya akan sangat ditentukan oleh faktor eksternal, tetapi peluang rebound tetap ada jika kondisi mulai membaik,” tutup Fyqieh.

Editor: S. Edi Santosa

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IHSG Menguat di Sesi I Senin
Next Post Dorong Gaya Hidup Sehat, Sequis Life Dukung Ajang Triathlon Ramah Pemula

Member Login

or