1
1

Bukan Konflik Timur Tengah, AAUI Justru Pelototi Ancaman Ini terhadap Industri Asuransi!

Direktur Eksekutif AAUI Cipto Hartono. | Foto: Media Asuransi/Muh Fajrul Falah

Media Asuransi, JAKARTA – Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai konflik di kawasan Timur Tengah belum berdampak signifikan terhadap mayoritas harga premi asuransi di dalam negeri. Sejauh ini, stabilitas premi masih terjaga, meskipun terdapat potensi risiko lanjutan yang perlu diantisipasi pelaku industri.

Direktur Eksekutif AAUI Cipto Hartono menjelaskan kondisi tersebut tidak lepas dari peran regulasi yang mengatur tarif pada sejumlah lini bisnis utama, sehingga fluktuasi akibat faktor eksternal belum langsung memengaruhi harga premi di pasar domestik saat ini.

|Baca juga: Indofood (INDF) Cetak Penjualan Rp33,89 Triliun di Triwulan I/2026

|Baca juga: Legislator Lempar Pujian untuk IFG Life, Ternyata Ini Alasannya!

“Kami tidak melihat secara langsung konflik di Timur Tengah berdampak ke mayoritas ke premi asuransi. Pertama karena beberapa lini yang penting itu memang dijagain dalam bentuk regulasi rate-nya,” ujarnya, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Meski demikian, AAUI mengakui terdapat dampak terbatas pada lini bisnis tertentu, khususnya yang berkaitan dengan aktivitas pengiriman barang di sektor energi yang melewati jalur distribusi di wilayah rawan konflik di kawasan Timur Tengah. Namun, dampak ini belum meluas ke keseluruhan portofolio industri.

Menurut Cipto, pengaruh konflik terhadap premi masih relatif terkendali karena struktur perdagangan Indonesia tidak hanya bergantung pada kawasan terdampak, melainkan juga melibatkan negara lain yang tidak terlibat konflik sehingga eksposur risikonya menjadi lebih terdiversifikasi.

“Artinya sebenarnya dampak premi terhadap perang di sana ada, yang kami khawatirkan justru inflasi,” kata Cipto.

Ia menilai risiko yang lebih besar bagi industri asuransi justru berasal dari tekanan inflasi yang berpotensi mendorong kenaikan biaya klaim, terutama pada lini bisnis yang bergantung pada barang impor seperti suku cadang kendaraan dan alat kesehatan.

|Baca juga: Bos Citi Indonesia Dukung Rencana OJK Ubah Aturan RBB

|Baca juga: Penyaluran Kredit KB Bank (BBKP) Tumbuh 2,61% Jadi Rp43,19 Triliun di Kuartal I/2026

Cipto menjelaskan gangguan rantai pasok global serta potensi perubahan jalur distribusi akibat konflik berisiko meningkatkan biaya logistik dan harga komponen, yang pada akhirnya akan berdampak langsung terhadap beban klaim perusahaan asuransi di dalam negeri.

“Komponen pengganti dari alat kesehatan, sparepart mobil, suku cadang, dan lain-lain itu kan datangnya dari negara-negara tadi yang mungkin harus muter yang akhirnya meningkatkan biaya,” ucap Cipto.

Lebih lanjut, ia menambahkan, kenaikan biaya tersebut berpotensi mendorong inflasi klaim yang pada akhirnya akan memengaruhi rasio klaim perusahaan asuransi, meskipun saat ini tekanan tersebut masih lebih dipicu oleh kenaikan harga komponen dibandingkan dengan faktor lain.

|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Salurkan Pembiayaan Baru Rp5,5 Triliun di Kuartal I/2026

|Baca juga: Tumbuh 10%, Citi Indonesia Bukukan Laba Bersih Rp2,8 Triliun di 2025

“Kalau biayanya meningkat, akhirnya inflasi klaim juga meningkat. Ujungnya nanti rasio klaim, tapi pada titik ini lebih kepada harga inflasi part-nya,” sambung dia.

Selain itu, Cipto mengatakan, tekanan inflasi di sektor kesehatan telah melampaui tingkat inflasi nasional, sehingga menjadi perhatian tersendiri bagi industri asuransi yang memiliki eksposur besar di lini tersebut.

“Inflasi kesehatan tembus sampai 15 persen lebih, sementara rata-rata inflasi nasional hanya tiga persen,” pungkas Cipto.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bank Mega Syariah Salurkan Pembiayaan Rp9,26 Triliun di Triwulan I/2026
Next Post DAI Blak-blakan Ungkap Peluang Besar Asuransi Swasta di Transportasi Publik

Member Login

or