Media Asuransi, JAKARTA – PT Reasuransi Indonesia Utama (Indonesia Re) menilai tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi meningkatkan biaya reasuransi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Kondisi ini turut memicu kenaikan premi risiko perang, khususnya pada lini asuransi marine yang berkaitan langsung dengan aktivitas pengiriman melalui wilayah berisiko. Hal tersebut tentunya patut diwaspadai dan diantisipasi sebaik mungkin.
|Baca juga: DAI Beberkan Alasan Risiko Perang Tidak Ditanggung Asuransi
|Baca juga: STMA Trisakti Gelar Seminar Nasional Bahas Stabilitas Pertumbuhan Industri Perasuransian
|Baca juga: DAI Respons Begini soal Industri Asuransi Belum Dilibatkan dalam Program MBG
Direktur Teknik Operasi Indonesia Re Delil Khairat mengatakan kombinasi pelemahan rupiah dan meningkatnya risiko geopolitik mulai memengaruhi perhitungan risiko di industri asuransi nasional, terutama yang memiliki eksposur terhadap reasuradur global.
Menurut Delil, ketergantungan pada mata uang asing dalam skema retrosesi membuat biaya reasuransi menjadi lebih sensitif terhadap pergerakan nilai tukar, sehingga tekanan kurs dapat berdampak langsung terhadap beban perusahaan asuransi domestik.
“Ada kemungkinan itu terjadi. Terutama kalau situasi di Timur Tengah memburuk. Saat ini dampaknya sudah terlihat di lini marine, khususnya pada premi risiko perang yang terdampak langsung,” ujar Delil, di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.
Ia menjelaskan dampak paling cepat terlihat pada lini asuransi
|Baca juga: Astra International (ASII) Bakal Tebar Dividen Final Rp292 per Saham, Simak Jadwal Lengkapnya!
|Baca juga: Inilah Peraih CEO Award 2026 Media Asuransi
|Baca juga: DAI Ungkap Konflik Timur Tengah Bisa Jadi Penyebab Premi Asuransi Naik Meski Tidak Ada Klaim
, terutama yang berkaitan dengan pengiriman barang melalui kawasan konflik, di mana peningkatan risiko perang secara langsung mendorong kenaikan premi perlindungan.
Sementara itu, Delil menilai kondisi pada lini asuransi lain seperti properti masih relatif stabil untuk saat ini, seiring dengan belum adanya tekanan signifikan dari faktor eksternal terhadap risiko di sektor tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa situasi tersebut dapat berubah apabila eskalasi konflik terus berlanjut.
“Kalau properti saat ini masih soft. Tetapi kalau eskalasi di Timur Tengah meningkat, preminya bisa ikut naik,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut, ketidakpastian global akibat dinamika geopolitik membuat pelaku reasuransi menghadapi tantangan dalam memproyeksikan risiko dalam jangka menengah, terutama terkait arah pergerakan premi dan biaya reasuransi ke depan.
Menurut Delil, perkembangan konflik di Timur Tengah akan menjadi faktor kunci yang menentukan stabilitas pasar reasuransi global, termasuk bagi industri di Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan pasar internasional.
“Kami tidak bisa memprediksi karena semuanya tergantung perkembangan di Timur Tengah. Kalau ada ceasefire dan perang berhenti, tentu kondisinya bisa membaik. Tetapi kalau konflik berlanjut, semua kemungkinan bisa terjadi,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
