Media Asuransi, JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai hasil MSCI August 2026 Index Review memberikan tekanan bagi pasar saham Indonesia. Hal itu setelah MSCI menghapus GOTO dari MSCI Indonesia Investable Market Index dan menurunkan CPIN dari Global Standard Index ke Global Small Cap Index.
Perubahan tersebut berpotensi memicu arus dana keluar secara teknikal, meski dampaknya terhadap IHSG diperkirakan relatif terbatas dan lebih terkonsentrasi pada saham yang terdampak langsung.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan hasil review MSCI kali ini cenderung lebih negatif bagi pasar Indonesia.
|Baca juga: INDEF Sebut Rp18.000 Bisa Jadi Normal Baru di 2027
|Baca juga: UOB Indonesia Menjadi Bank Pertama di Indonesia yang Hadirkan Manfaat Visa Infinite Privilege
Selain perubahan pada GOTO dan CPIN, ia menambahkan, tidak adanya penambahan saham Indonesia ke Global Standard Index juga berarti tidak terdapat arus dana masuk yang dapat mengimbangi potensi outflow.
“MSCI August 2026 Index Review memberikan hasil yang lebih negatif bagi pasar Indonesia. Sesuai ekspektasi kami, CPIN turun dari Global Standard ke Small Cap, sementara risiko pada GOTO terealisasi dengan penghapusan dari MSCI Indonesia Investable Market Index,” ujar Rully, dalam pernyataan resminya, Kamis, 13 Agustus 2026.
Menurut Rully, keputusan MSCI menghapus GOTO berkaitan dengan rendahnya likuiditas saham tersebut setelah bertahan di harga minimum Rp50 sejak Mei. Kondisi tersebut dinilai menimbulkan risiko terhadap kemampuan investor pasif dalam mereplikasi indeks.
|Baca juga: BEI Komitmen Pacu Transformasi di Pasar Modal RI, Begini Penjelasannya!
|Baca juga: Jangan Kejar Pajak Baru, Ekonom Minta Pemerintah Genjot Ekonomi Dulu
“MSCI secara spesifik menyebut rendahnya likuiditas akibat GOTO bertahan di harga minimum Rp50 sejak Mei sebagai penyebab potensi index replicability issues,” kata Rully.
Rully menilai dampak utama dari perubahan tersebut bersifat teknikal, terutama melalui potensi passive outflow menjelang implementasi perubahan indeks pada akhir Agustus.
Namun, tekanan tersebut diperkirakan tidak serta-merta memberikan dampak besar terhadap IHSG secara keseluruhan karena arus dana keluar akan lebih terkonsentrasi pada saham-saham yang mengalami perubahan indeks.
“Dampak utama bersifat teknikal, dengan potensi passive outflow menjelang implementasi akhir Agustus. Tidak adanya penambahan saham Indonesia ke Standard Index juga berarti tidak terdapat offsetting inflow, sejalan dengan pembatasan MSCI yang masih berlaku,” ujar Rully.
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin menilai besaran perubahan bobot Indonesia dalam indeks global menjadi salah satu alasan dampak hasil review kali ini diperkirakan tetap terbatas terhadap pasar secara keseluruhan.
Menurut Wilbert, bobot Indonesia di Emerging Market diperkirakan hanya turun dari sekitar 0,49 persen menjadi 0,46 persen. Dari sisi arus dana keluar, ia memperkirakan, passive outflow sekitar Rp500 miliar hingga Rp1 triliun yang akan terjadi pada hari efektif rebalancing, yakni setelah perdagangan 31 Agustus.
“Dalam jangka pendek mungkin ada dampak terhadap sentimen karena memang tidak ada penambahan saham dan hanya terjadi pengurangan. Namun, dampaknya terhadap pasar secara keseluruhan diperkirakan minimal dan lebih terkonsentrasi pada saham yang terdampak langsung, seperti CPIN,” ujar Wilbert.
Menjelang review MSCI berikutnya pada November, Wilbert menilai, Indonesia perlu menjaga kredibilitas pasar serta komunikasi antara regulator dan MSCI.
Menurutnya, perbaikan secara gradual pada aspek tersebut dapat membuka peluang keputusan MSCI yang lebih positif dan menjadi katalis tambahan bagi arus modal asing maupun pasar secara keseluruhan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
