Media ASURANSI, JAKARTA – Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto menilai nilai tukar rupiah di level Rp18.000 per dolar AS berpotensi menjadi keseimbangan baru pada 2027. Rupiah akan cukup sulit kembali ke asumsi Rp16.500 per dolar AS yang tercantum dalam kerangka ekonomi makro.
Eko mengatakan tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari arah kebijakan suku bunga global. Kondisi tersebut perlu diperhatikan pemerintah dalam menyusun asumsi makro RAPBN 2027 agar target nilai tukar tidak terlalu optimistis.
“Menurut saya Rp18.000 adalah keseimbangan baru. Agak sulit tuh kembali ke Rp16.500. 2026 ini sebenarnya targetnya di asumsi makro Rp16.500,” kata Eko, dikutip dari TV Parlemen, Kamis, 13 Agustus 2026.
Menurutnya, peluang rupiah bertahan di level yang lebih lemah dipengaruhi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat. Eko memperkirakan arah suku bunga AS pada 2027 masih menjadi salah satu faktor penting yang menentukan pergerakan nilai tukar rupiah.
Hal ini karena Amerika Serikat juga menghadapi persoalan inflasi. Untuk meredam tekanan tersebut, bank sentral AS berpotensi mempertahankan atau menaikkan suku bunga, sehingga negara lain perlu menyesuaikan kebijakan moneternya.
“Tren suku bunga 2027 itu juga akan lebih cenderung meningkat ya. Kenapa? Karena kita harus lihat bicara rupiah, kurs rupiah, kita juga harus melihat bagaimana perilaku Amerika,” ujarnya.
|Baca juga: BEI Komitmen Pacu Transformasi di Pasar Modal RI, Begini Penjelasannya!
|Baca juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,29% tapi Pekerja di Sektor Perdagangan Berkurang, Kok Bisa?
Eko menilai kondisi tersebut membuat asumsi nilai tukar dalam RAPBN 2027 perlu mendapat perhatian. Dalam kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal, asumsi rupiah sementara berada pada kisaran Rp16.500 hingga Rp17.500 per dolar AS.
Menurut Eko, level Rp18.000 bukan berarti tidak dapat berubah, tetapi menjadi kemungkinan yang perlu diperhitungkan jika tekanan eksternal tetap berlanjut. Ia menilai pemerintah perlu menyesuaikan strategi apabila kondisi nilai tukar bergerak di luar asumsi awal.
Selain rupiah, Eko menilai, inflasi juga menjadi indikator penting yang perlu dipantau pada 2027. Ia memperkirakan inflasi berada di kisaran 1,5 persen hingga sekitar tiga persen, dengan perkembangan harga pangan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Sementara itu, dirinya menyebut, nilai tukar dan inflasi sebagai dua indikator yang perlu dipantau lebih awal untuk melihat arah perekonomian pada 2027. Keduanya berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat serta kondisi sektor keuangan.
Karena itu, Eko menilai, asumsi makro RAPBN 2027 masih membutuhkan sejumlah penyesuaian agar strategi pemerintah dapat merespons tekanan ekonomi, baik dari dalam maupun luar negeri.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
