1
1

Nasabah Banyak Mengeluh Akibat Pinjaman Ditolak, Ini Penjelasan AdaKami?

Brand Manager PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami) Jonathan Kriss. | Foto: Media Asuransi/Muh Fajrul Falah

Media Asuransi, JAKARTA – PT Pembiayaan Digital Indonesia atau AdaKami memperketat proses penyaluran pinjaman di tengah risiko gagal bayar yang masih menjadi perhatian industri fintech lending. Penguatan pemetaan risiko menjadi salah satu cara perusahaan menjaga kualitas pembiayaan.

Brand Manager AdaKami Jonathan Kriss menyebut pengaduan mengenai pinjaman yang ditolak justru menjadi komplain terbesar nasabah AdaKami dalam sekitar satu setengah tahun terakhir. Menurutnya, perusahaan selama ini tidak serta-merta menyetujui setiap pengajuan pinjaman.

“Jadi nomor satu sekarang, sudah sejak satu setengah tahun yang lalu, komplain tertinggi adalah pinjaman ditolak,” ujar Jonathan, dalam acara Peluncuran Kampanye Transparansi AdaKami di Jakarta, Rabu, 13 Agustus 2026.

|Baca juga: UOB Indonesia Menjadi Bank Pertama di Indonesia yang Hadirkan Manfaat Visa Infinite Privilege

|Baca juga: MSCI Hapus GOTO dan Turunkan CPIN, Mirae Asset Sekuritas Ungkap Potensi Outflow hingga Rp1 Triliun

Ia menjelaskan proses seleksi borrower dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai parameter, mulai dari kemampuan bayar, profil risiko, serta riwayat nasabah dalam menggunakan instrumen keuangan. Bahkan, meskipun calon nasabah sudah memiliki limit, belum tentu otomatis membuat pengajuan pinjaman yang diajukan disetujui.

“Kalau pun sudah dapat limit pinjaman, belum berarti pinjamannya disetujui ya. Jadi setelah dapat limit pinjaman, sebelum mereka mengajukan, itu proses akan dilakukan oleh sistem untuk melihat sebenarnya saat ini dia layak enggak sih mendapatkan pinjaman,” jelasnya.

Jonathan menambahkan parameter risiko terus diperbarui untuk menyesuaikan kondisi ekonomi nasabah. AdaKami juga menyebut penguatan seleksi tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas pembayaran dan menekan potensi gagal bayar.

“Jadi parameter itu yang sebenarnya kita terus gunakan untuk memastikan bahwa kita menjaring nasabah-nasabah yang berkualitas dengan tujuan sebenarnya proses pengembaliannya itu bisa jauh lebih smooth gitu ya,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post ACC dan TAF Berhasil Lampaui Target Pembiayaan di GIIAS 2026
Next Post IHSG Melemah di Akhir Perdagangan Kamis

Member Login

or