1
1

Eastspring Investments Indonesia: Sentimen Pasar Masih Dibayang oleh Arah Kebijakan Pemerintah

Investor sedang mengamati pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia Jakarta beberapa waktu lalu. | Foto: Media Asuransi/Lucky

Media Asuransi, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sejak pembukaan perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, dan dititip melemah sebesar -3,54 persen atau -223,56 poin ke level 6.094,94. Pelemahan IHSG terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan pemerintah.

Dikutip dari Spring Flash ini oleh tim PT Eastspring Investments Indonesia, tekanan utama berasal dari saham-saham seperti ASII (-6,28 persen), BRMS (-14,39 persen), BYAN (-6,47 persen), MORA (-8,77 persen), dan BRPT (-11,05 persen).

Hal itu terjadi seiring pasar menilai arah kebijakan pemerintah terkait tata kelola ekspor komoditas strategis melalui mekanisme one door policy yang diumumkan Presiden RI, Prabowo Subianto, pada hari Rabu, 20 Mei 2026, sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi fiskal dan menjaga stabilitas rupiah.

|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: Kebijakan Baru Berpotensi Tekan Saham Komoditas

Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas seperti CPO, batu bara, dan ferroalloy melalui BUMN, yaitu Danantara Sumber Daya Indonesia, guna meminimalkan praktik under-invoicing, transfer pricing, serta potensi kebocoran devisa. Di sisi lain, sebagian pelaku pasar masih mencermati implikasinya terhadap dinamika mekanisme pasar dan arah implementasi kebijakan ke depan.

Pasar masih mencermati berbagai perkembangan kebijakan serta implikasinya terhadap persepsi risiko domestik.

Sementara itu, rupiah melemah 0,07 persen ke level Rp17.667 per dolar AS setelah sempat menguat pascakenaikan BI Rate sebesar 50 bps (basis points) ke 5,25 persen pada hari Rabu. Pergerakan ini mengindikasikan bahwa pasar masih mencermati berbagai perkembangan kebijakan serta implikasinya terhadap persepsi risiko domestik.

Sejak awal tahun, sentimen investor dibayangi oleh sejumlah faktor, termasuk peringatan MSCI terkait likuiditas dan transparansi pasar, serta revisi outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s dan Fitch menjadi negatif akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran terhadap kredibilitas fiskal.

|Baca juga: Membaca Outlook Kinerja Pasar Obligasi di Tahun Ini

Di sisi lain, pasar obligasi justru menguat terbatas, tecermin dari penurunan imbal hasil SBN tenor lima tahun turun 7 bps ke 6,70 persen dan tenor 10 tahun ke kisaran 6,79 persen dari sebelumnya 6,82 persen. Penurunan ini didukung implementasi bond stabilisation fund oleh Kementerian Keuangan dalam menjaga stabilisasi pasar obligasi.

Eastspring Investments Indonesia memperkirakan, arah sentimen pasar akan sangat dipengaruhi oleh kejelasan detail implementasi serta konsistensi eksekusi kebijakan di lapangan. Dalam konteks tersebut, transparansi mekanisme pelaksanaan, koordinasi antarlembaga, serta komunikasi kebijakan yang terukur akan menjadi faktor penting dalam membentuk tingkat keyakinan pelaku pasar terhadap efektivitas dan keberlanjutan kebijakan.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Siapa Saja yang Berhak Menerima Daging Kurban?
Next Post OJK Bidik Investor Asing Lewat Revisi Aturan Bursa Karbon

Member Login

or