1
1

Membaca Outlook Kinerja Pasar Obligasi di Tahun Ini

Senior Portfolio Manager-Fixed Income MAMI, Syuhada Arief. | Foto: MAMI

Media Asuransi, JAKARTA – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengakui bahwa kondisi saat ini terlihat sulit bagi outlook pasar obligasi. Sehingga wajar dalam kondisi saat ini pelaku pasar memperhitungkan skenario terburuk bagi outlook pasar obligasi, seperti risiko harga minyak tinggi berkepanjangan dan risiko naiknya suku bunga.

Positif aspek yang bisa diambil dari kondisi saat ini adalah pasar sudah priced-in risiko tersebut dan yield SBN 10-tahun relatif terjaga dengan tingkat tertinggi di level 6,9 persen pada periode Maret-April. “Sebaliknya, membaiknya kondisi Selat Hormuz dapat menghidupkan kembali narasi penurunan suku bunga di Amerika Serikat dan mendukung sentimen investasi secara global yang suportif bagi pasar obligasi,” kata Senior Portfolio Manager-Fixed Income MAMI, Syuhada Arief, dalam keterangan resmi yang dikutip Rabu, 20 Mei 2026.

|Baca juga: BEI Mencatat Emisi Obligasi Senilai Rp3 Triliun Sepekan

Dijelaskan bahwa pada  bulan April pasar obligasi bergerak fluktuatif merespons kondisi di Timur Tengah yang dinamis. Di awal bulan pasar merespons positif kabar gencatan senjata AS dan Iran yang mendukung rebound di pasar. Namun hingga kini kesepakatan tidak kunjung tercapai, Selat Hormuz tetap tertutup, dan pesimisme kembali membayangi pasar bahwa konflik dapat terjadi berkepanjangan.

Fluktuasi ini tercermin di pergerakan yield SBN 10Y Indonesia yang sempat turun ke kisaran 6,5 persen di awal bulan, kemudian kembali melonjak ke kisaran 6,8 persen di akhir April. “Ke depannya kami memandang sentimen di pasar akan tetap headline driven sampai ada kepastian kapan jalur pelayaran distribusi minyak dapat kembali normal,” jelas Syuhada.

|Baca juga: Kemenkeu dan BI Komitmen Penerbitan dan Pembelian SBN Dilakukan Transparan

Dalam kondisi saat ini, MAMI melakukan pengelolaan portofolio secara aktif untuk mengantisipasi kondisi pasar dan memanfaatkan peluang yang ada. Saat ini strategi portofolio memiliki preferensi pada obligasi tenor pendek, mempertimbangkan kurva imbal hasil yang relatif flat. Yakni imbal hasil SBN 5-tahun di kisaran 6,5 persen, sementara tenor 10-tahun di kisaran 6,6 persen. Sehingga tenor pendek memberikan value yang menarik dengan yield yang kompetitif namun risiko durasi lebih rendah.

Menurut Syuhada, dalam kondisi pasar yang dinamis saat ini faktor yang paling penting bagi investor adalah tetap disiplin, fokus pada tujuan jangka panjang, serta memahami bahwa volatilitas saat ini merupakan bagian dari siklus pasar yang tidak terhindarkan.

Diversifikasi portofolio disebutnya menjadi strategi utama, dan kelas aset obligasi tetap berperan penting dalam komposisi portofolio investor karena karakteristiknya yang lebih stabil. Hal itu tecermin dari kinerja pasar obligasi Indonesia yang resilien dalam lima tahun ke belakang walau telah melewati periode pandemi, perang Rusia-Ukraina, dan kenaikan suku bunga agresif di 2022-2024.

Sementara itu, tingkat imbal hasil obligasi yang meningkat, dapat menjadi peluang bagi investor untuk berinvestasi di level imbal hasil yang lebih menarik dan mengoptimalkan potensi jangka panjang.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Jelang Iduladha, Berikut Cara Menabung Kurban agar Lebih Tenang
Next Post IHSG Sesi I Tertekan Rencana Pengendalian Harga Komoditas

Member Login

or