Media Asuransi, JAKARTA – PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW), anak usaha dari QNB Group, membukukan profitabilitas yang lebih kuat sejalan dengan pertumbuhan neraca dan perbaikan kualitas aset, serta menjaga modal dan likuiditas tetap kokoh di semester I/2016.
Direktur Utama Bank QNB Indonesia Nick Groene menyatakan kinerja pada semester pertama 2026 menunjukkan bagaimana pertumbuhan yang disiplin dapat mendorong hasil yang berkelanjutan. Di tengah ketidakpastian global dan domestik, Bank QNB Indonesia tetap fokus untuk tumbuh lebih kuat.
“Mendorong bisnis yang lebih sehat melalui penerapan manajemen risiko yang lebih hati-hati, penyaluran pembiayaan yang lebih berkelanjutan, serta membangun relasi jangka panjang dengan para Nasabah,” ujar Nick Groene, dikutip dari keterangan tertulisnya, Senin, 24 Agustus 2026.
Ia menambahkan Bank QNB Indonesia berada pada posisi yang tepat untuk menjadi penghubung antara pelaku usaha di Indonesia dengan pasar regional dan internasional, maupun sebaliknya.
“Dengan memadukan kekuatan jaringan internasional QNB Group, investasi yang berkelanjutan pada teknologi, serta kapabilitas sumber daya manusia, Bank QNB Indonesia terus berupaya untuk menciptakan nilai tambah dalam menjalankan bisnisnya,” tuturnya.
Laba bersih tercatat tumbuh 178 persen mencapai Rp29,6 miliar pada 30 Juni 2026, didukung momentum bisnis yang positif, penerapan strategi penetapan harga yang lebih disiplin, serta fokus yang berkelanjutan dalam menjaga kualitas portofolio.
|Baca juga: Citi Indonesia Cetak Laba Rp994 Miliar, DPK Tumbuh 23% di Semester I/2026
|Baca juga: Destry Maju Jadi Gubernur BI, Ini Pesan Bos Citi untuk Kebijakan Bank Sentral
Meskipun beroperasi di tengah volatilitas pasar keuangan global dan kondisi moneter yang ketat, namun Bank QNB Indonesia tetap menjalankan strategi pertumbuhan yang seimbang dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko
Total aset tumbuh sembilan persen mencapai Rp14,4 triliun pada 30 Juni 2026, dari Rp13,2 triliun pada akhir 2025. Pinjaman bruto tumbuh dua persen mencapai Rp10,0 triliun dari Rp9,8 triliun pada akhir tahun lalu, mencerminkan komitmen mendukung sektor korporasi di Indonesia.
Pertumbuhan ini juga diiringi oleh perbaikan kualitas portofolio. Rasio kredit bermasalah (NPL) Bank QNB Indonesia membaik ke level 1,84 persen pada semester I/2026 dari 3,31 persen pada semester I/2025 yang mencerminkan kehati-hatian Bank QNB Indonesia dalam melakukan penyaluran pinjaman.
Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 4 persen mencapai Rp8,5 triliun, dari Rp8,1 triliun pada akhir 2025, tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan pinjaman dan mempertegas posisi likuiditas Bank QNB Indonesia .
Rasio kecukupan modal (CAR) tetap berada pada level yang kokoh sebesar 53,85 persen, memberikan ruang yang memadai untuk mendukung pertumbuhan bisnis ke depan. Rasio likuiditas lainnya masih berada di atas ketentuan minimum regulator dengan Liquidity Coverage Ratio 144,33 persen dan Net Stable Funding Ratio 129.83 persen.
Memasuki paruh kedua 2026, Bank QNB Indonesia akan terus berfokus pada pengembangan segmen corporate dan institutional banking dengan memperdalam hubungan dengan perusahaan-perusahaan besar, korporasi multinasional, serta BUMN, sambil tetap menerapkan pengelolaan biaya dan risiko secara hati-hati.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Bank QNB Indonesia akan terus mengoptimalkan kolaborasi dengan QNB Group, termasuk jaringan kantor cabang dan entitas anak usahanya di berbagai negara untuk membuka lebih banyak peluang bisnis lintas negara.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

