Media Asuransi, JAKARTA – Citibank Indonesia (Citi Indonesia) mencatat laba bersih Rp994 miliar pada semester I/2026. Kinerja tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana nasabah yang tetap kuat.
CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan, pertumbuhan kredit dan pendanaan menjadi salah satu indikator kepercayaan nasabah terhadap bisnis perbankan institusional Citi di Indonesia.
“Pertumbuhan pendanaan dan kredit yang solid, serta rasio NPL yang terjaga mendekati nol mencerminkan kepercayaan mendalam para klien kami terhadap platform perbankan institusional Citi Indonesia,” kata Batara dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 20 Juli 2026.
Dari sisi pendanaan, total Dana Pihak Ketiga (DPK) Citi Indonesia mencapai Rp72,6 triliun. Angka ini meningkat 23,29 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan DPK terutama berasal dari dana giro yang naik 36,54 persen menjadi Rp60,4 triliun. Kondisi tersebut turut memperbesar porsi dana murah atau Current Account and Savings Account (CASA) menjadi 83,23 persen, dari sebelumnya 75,16 persen.
|Baca juga: Tren Baru, Masyarakat Singapura Sudah Tajir Melintir tapi Ogah Pensiun, Ini Alasannya!
|Baca juga: Tokio Marine Diramal Kembali Cetak Pertumbuhan Laba di 2027
Sementara itu, penyaluran kredit juga masih menunjukkan pertumbuhan. Kredit Citi Indonesia tercatat Rp29,9 triliun, meningkat 8,05 persen secara tahunan dan 11,05 persen dibandingkan dengan posisi akhir 2025.
Ekspansi kredit tersebut tetap dibarengi dengan kualitas aset yang terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat hanya 0,19 persen.
Dari sisi permodalan dan likuiditas, posisi Citi Indonesia juga masih kuat. Rasio kecukupan modal (CAR/KPMM) berada di level 31,43 persen, sedangkan Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 276,26 persen.
Meski demikian, pertumbuhan laba tidak lepas dari tekanan volatilitas pasar. Pergerakan pasar turut memengaruhi keuntungan dari penjualan aset keuangan sehingga laju profitabilitas mengalami moderasi.
Di tengah kondisi tersebut, Citi Indonesia tetap menjaga efisiensi operasional. Rasio biaya terhadap pendapatan atau Cost to Income Ratio (CIR) berada di level 51,17 persen.
Batara mengatakan perseroan akan terus mengembangkan bisnis melalui tiga pilar utama, yakni Banking, Markets, dan Services. Ketiga lini tersebut menjadi fondasi Citi dalam mendukung kebutuhan nasabah sekaligus menghadapi perubahan kondisi pasar.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

