1
1

Allianz Indonesia: Kenaikan Biaya Medis Jadi Perhatian Besar bagi Masyarakat

Direktur Utama Allianz Life Indonesia Alexander Grenz. | Foto: Allianz Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Allianz menyadari kenaikan biaya medis telah menjadi perhatian yang semakin besar bagi masyarakat. Hal itu termasuk risiko meningkatnya premi yang dapat mendorong nasabah untuk menghentikan perlindungan asuransi yang dimiliki.

Dengan kondisi semacam itu, Country Manager & Direktur Utama Allianz Life Indonesia Alexander Grenz menjelaskan, Allianz siap menghadirkan satu hal yang bisa diandalkan oleh nasabah. Dalam konteks ini ialah perlindungan kesehatan dengan premi terukur.

|Baca juga: Prudential Indonesia Optimalkan AI dan Digitalisasi untuk Manjakan Nasabah

|Baca juga: Risiko Gagal Bayar Meningkat, Konflik Timur Tengah Tekan Industri Asuransi Kredit

“Di tengah banyaknya ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari, Allianz ingin menghadirkan satu hal yang dapat diandalkan oleh nasabah, yaitu perlindungan kesehatan dengan peningkatan premi yang lebih stabil dan terukur,” ujar Alexander Grenz, dalam keterangan resminya, Kamis, 16 April 2026.

Risiko finansial akibat kesehatan masih menjadi tantangan besar dalam perencanaan keuangan keluarga. Apalagi setiap tahun biaya kesehatan selalu mengalami kenaikan sehingga dapat mengganggu perencanaan keuangan yang telah disusun.

Berdasarkan data terbaru di Health Trends 2026 report dari Mercer Marsh Benefits (MMB), biaya medis diperkirakan meningkat sebesar 12,5 persen di Asia dan 17,8 persen di Indonesia, jauh lebih tinggi dari perkiraan inflasi umum sebesar 2,5 persen.

|Baca juga: Potensi Asuransi Hewan Peliharaan Masih Besar, OJK Dorong Inovasi Produk

|Baca juga: Prudential Indonesia Susun Strategi Kejar Pertumbuhan Premi Lewat Keagenan dan Bancassurance

Salah satu pendorong kenaikan ini adalah inflasi medis yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Menurut laporan MMB, inflasi medis di Indonesia pada 2024 mencapai 15,9 persen dan pada 2025 telah meningkat hingga 17,9 persen.

Kondisi ini mencerminkan meningkatnya tekanan biaya pada sistem kesehatan dan perlindungan kesehatan masyarakat. Dalam hal ini, Allianz memahami nasabah merasa waswas akan biaya perawatan medis yang tinggi, khususnya ketika terjadi risiko penyakit tahap lanjut seperti kanker invasif, stroke, dan serangan jantung.

|Baca juga: Premi Asuransi Diramal Tumbuh 6% di 2026, Bos OJK: Mencerminkan Proses Konsolidasi!

|Baca juga: Saham Woori Finance (BPFI) Berfluktuasi Tajam, Manajemen Akhirnya Buka Suara

Berdasarkan data internal Allianz, rata-rata biaya perawatan untuk ketiga penyakit tersebut mengalami kenaikan yang signifikan setiap tahunnya. Sebagai contoh, dari 2020 hingga 2025, rata-rata biaya perawatan stroke mengalami kenaikan lebih dari 2,5 kali lipat.

Sedangkan untuk kanker meningkat lebih dari dua kali lipat dan bahkan untuk jantung melonjak hingga tiga kali lipat. Tentunya ini menjadi perhatian nasabah di tengah tantangan biaya kesehatan saat ini.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Asuransi Digital Bersama Catat Kenaikan Laba 2 Digit di 2025
Next Post Menakar Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Ekonomi Global

Member Login

or