Media Asuransi, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total investasi industri asuransi komersial mencapai Rp977,81 triliun hingga posisi Mei 2026. Mayoritas dana tersebut masih ditempatkan pada Surat Berharga Negara (SBN), yang porsinya mencapai hampir separuh dari total investasi industri.
Data OJK menunjukkan investasi pada SBN mencapai Rp317,66 triliun atau 42,94 persen dari total portofolio investasi industri asuransi komersial yang mencakup asuransi jiwa, asuransi umum, dan reasuransi. Setelah SBN, penempatan investasi terbesar berada pada instrumen saham dengan porsi 15,13 persen, disusul reksa dana 13,46 persen.
Selain mencatat pertumbuhan aset investasi, industri asuransi juga membukukan hasil investasi sebesar Rp5,51 triliun hingga Mei 2026.
Capaian tersebut diperoleh di tengah kondisi pasar keuangan yang masih dipengaruhi berbagai dinamika, baik dari dalam negeri maupun global, sehingga mendorong perusahaan asuransi tetap menerapkan strategi investasi yang mengutamakan stabilitas portofolio.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan dominasi penempatan investasi pada SBN menunjukkan pelaku industri masih memprioritaskan prinsip kehati-hatian dalam mengelola dana investasi.
|Baca juga: GoTo Cetak Laba Bersih Rp252 Miliar di Kuartal II/2026
|Baca juga: OCBC (NISP) Bukukan Laba Bersih Rp2,7 Triliun di Semester I/2026
“Dominasi penempatan pada SBN mencerminkan strategi investasi industri yang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, khususnya di tengah dinamika pasar keuangan dan ketidakpastian global,” kata Ogi, dalam jawaban tertulis yang dikutip Jumat, 31 Juli 2026.
Menurut OJK, komposisi investasi tersebut menunjukkan perusahaan asuransi belum mengubah strategi investasinya secara agresif meski pasar keuangan menghadapi fluktuasi. Pemilihan instrumen dengan tingkat risiko yang lebih terukur dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas aset.
Hal itu sekaligus memastikan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban kepada pemegang polis dalam jangka panjang. Ogi menjelaskan SBN masih menjadi instrumen yang paling diminati karena memiliki karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan pengelolaan dana industri asuransi.
Selain menawarkan tingkat risiko yang relatif rendah, instrumen tersebut juga memiliki likuiditas yang baik sehingga memudahkan perusahaan dalam mengelola arus kas dan kewajiban jangka panjang.
“Instrumen SBN dinilai memiliki tingkat risiko yang relatif lebih rendah, likuiditas yang baik, serta mampu mendukung pengelolaan kewajiban jangka panjang perusahaan asuransi,” ujarnya.
Dengan komposisi tersebut, SBN tetap menjadi tulang punggung portofolio investasi industri asuransi komersial hingga Mei 2026, sementara saham dan reksa dana menjadi instrumen pelengkap untuk mendukung pengelolaan investasi di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
