1
1

Perjalanan Seno Sudono Bangun Usaha Mebel Jati Bersama Askrindo

Pengusaha mebel kayu Jati Seno Sudono binaan Askrindo bersama Kepala Corporate Communication Askrindo Luluk Lukmiyati (kanan) dan Kepala Cabang Askrindo Semarang Gami Aji Libraga (kiri). | Foto: ASKRINDO

Media Asuransi, SEMARANG – Salah satu pengusaha mebel  Jati di Semarang yang mendapat penjaminan kredit dari Askrindo adalah Seno Sudono (74).  Ia ikut memanfaatkan pembiayaan perbankan yang dijamin asuransi kredit untuk menopang usahanya yang sudah dijalankan sejak 1980-an dan masih bertahan hingga sekarang.

Mantan atlet balap sepeda nasional di tahun 1970-an ini, memiliki berbagai prestasi di tingkat nasional maupun internasional. Namun, saat masih berstatus sebagai pegawai negeri di usia 31 tahun, Seno memiliki pemikiran untuk mencoba berbisnis. Ia memilih usaha kayu dengan produk utama berupa kusen, pintu rumah, kitchen set, hingga meja berbahan kayu jati.

|Baca juga: Dari Karyawan Jadi Pengusaha Wingko, UMKM Ini Tumbuh Bersama Dukungan Askrindo

Sebagai modal awal bisnis, dia peroleh dari konversi bonus prestasi saat menjadi atlet balap sepeda. “Saya dulu selesai menjadi atlet masih punya sisa bonus, terus saya menduplikasikan medali dengan medali emas murni. Itu saya gunakan untuk modal,” ungkap Seno.

Keberadaan penjaminan dari Askrindo membuatnya lebih tenang, karena kalau sampai enggak bisa bayar ada Askrindo di belakangnya

Bisnis yang dirintis di pinggiran kota Semarang ini, terus berkembang dan sempat menerima pesanan komponen mebel untuk pasar ekspor ke Taiwan dan Australia dengan nilai omzet puluhan juta rupiah per bulannya dan memiliki karyawan mencapai delapan orang. ‘’Sementara kalau saat ini, omzet usahanya berkisar Rp30 juta per bulan tergantung pesanan yang masuk,’’ ujarnya.

Meski bisnisnya sempat berjaya saat memasok kebutuhan bangku sekolah program SD Inpres di zaman pemerintahan Presiden Soeharto, Seno mengakui saat ini ada penurunan permintaan. “Dua tiga bulan ini  yang order sedikit, karena yang order hanya orang-orang tertentu yang senang kayu jati,” ungkapnya.

Untuk kebutuhan modal kerja, Seno beberapa kali mengambil pinjaman KUR dari perbankan, dan terakhir mencairkan KUR senilai Rp150 juta. ‘’Keberadaan penjaminan dari Askrindo membuatnya lebih tenang, karena kalau sampai enggak bisa bayar ada Askrindo di belakangnya,” ungkapnya.

|Baca juga: Askrindo: Jawa Tengah Pasar Potensial untuk Penjaminan Kredit dan UMKM

Namun, ia menegaskan para pelaku usaha tetap mempunyai kewajiban untuk membayar cicilan tepat waktu. “Dukungan pembiayaan menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha,” kata Seno.

 

Total Penjaminan

Berdasarkan data operasional, total penjaminan KUR oleh Askrindo di Kantor Cabang Semarang mencapai Rp1,3 triliun hingga April 2026 dengan jumlah debitur sebanyak 24.000 orang. Pertumbuhan premi gabungan di wilayah ini tercatat naik 10 persen secara tahunan.

“Total premi yang kami kumpulkan selama 2026 sampai dengan April Rp40,2 miliar. Total klaim gabungan Rp10,7 miliar,” kata Branch Manager Askrindo Semarang Gami Aji Libraga.

Regional Office Head III Askrindo Semarang, Henry Sabar, menambahkan bahwa performa premi di wilayah Jawa Tengah dan DIY tumbuh sembilan persen pada kuartal I 2026. Sektor perdagangan dan perikanan di wilayah pesisir menjadi kontributor utama pertumbuhan tersebut.

Editor : Wahyu Widiastuti

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post SMBC Indonesia (BTPN) Dukung Stabilitas Ekonomi dan Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Global
Next Post Inflasi Medis Picu Kenaikan Biaya Kesehatan, Allianz Indonesia Ingatkan Pentingnya Jaga Proteksi Jangka Panjang

Member Login

or