1
1

Prudential Indonesia Upayakan Harga Premi Asuransi Tetap Terjangkau di Tengah Inflasi Medis

Chief Customer and Marketing Officer Prudential Indonesia Karin Zulkarnaen. | Foto: Media Asuransi/Muh Fajrul Falah

Media Asuransi, JAKARTA – PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) menilai inflasi medis masih menjadi tantangan utama bagi industri asuransi kesehatan pada tahun ini.

Perusahaan menyebut kenaikan biaya layanan kesehatan yang terus terjadi mendorong perlunya berbagai upaya pengendalian agar dampaknya terhadap premi asuransi tidak semakin membebani masyarakat.

Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth mengatakan inflasi medis masih menjadi fenomena nyata yang terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain.

Menurutnya, inflasi medis tidak semata-mata mencerminkan kenaikan biaya perawatan, melainkan meningkatnya total pengeluaran kesehatan atau healthcare spending.

|Baca juga: Gojek dan Kemenkes Berkolaborasi Fasilitasi Cek Kesehatan Gratis untuk Mitra Driver di 17 Kota

|Baca juga: Bank DBS Indonesia: Keberlanjutan Harus Terlihat dari Cara Bank Membiayai hingga Menciptakan Dampak

|Baca juga: Daya Beli Tertekan, Prudential Yakin Kebutuhan Asuransi Tetap Dibutuhkan Masyarakat

“Inflasi medis itu sangat nyata dan pasti akan terus ada setiap tahunnya. Harapan kita memang semakin kita bisa kontrol inflasi medis itu bisa mendekati general inflation. Ini target kita bersama,” kata Yosie, kepada awak media di Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.

Ia menjelaskan peningkatan pengeluaran kesehatan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari bertambahnya jumlah masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan hingga hadirnya teknologi dan terapi medis baru yang umumnya memerlukan biaya lebih tinggi.

Menurut Yosie, tingkat inflasi medis saat ini masih berada di atas inflasi umum. Kondisi tersebut juga terjadi di sejumlah negara di kawasan Asia, seperti Singapura, Malaysia, hingga Hong Kong.

“Harapan dari OJK dan semuanya adalah inflasi medis bisa ditekan mendekati general inflation yang sekarang masih dua atau tiga kali lipat. Bukan cuma di Indonesia, di Singapura, Malaysia, Hong Kong, dan negara-negara berkembang lainnya juga tetap ada inflasi medis,” katanya.

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Media Asuransi (@mediaasuransinews)

Untuk mengantisipasi dampak inflasi medis terhadap biaya klaim, Prudential melakukan berbagai kajian internal serta memanfaatkan studi yang dilakukan mitra reasuransi di tingkat regional. Hasil kajian tersebut kemudian digunakan untuk merumuskan langkah pengendalian biaya kesehatan.

Salah satu strategi yang dijalankan perusahaan adalah memperkuat kerja sama dengan rumah sakit melalui jaringan PRUPriority Hospital. Melalui skema tersebut, Prudential melakukan negosiasi tarif dan evaluasi kualitas layanan secara berkala.

|Baca juga: BI Bidik India dan Hong Kong untuk Perluasan QRIS Cross Border

|Baca juga: OJK Ungkap 3 Lini Usaha yang Jadi Mesin Utama Pertumbuhan Industri Asuransi Umum di Maret 2026

|Baca juga: RUPST&LB BFI Finance (BFIN): Tebar Dividen hingga Tunjuk Komisaris dan Direksi Baru

Ia menegaskan langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keberlanjutan produk asuransi kesehatan dalam jangka panjang sekaligus menekan potensi kenaikan premi yang terlalu tinggi bagi nasabah.

“Kita harus pikirkan kemampuan membeli dan membayar masyarakat juga. Kita tidak serta-merta bilang premi naik karena inflasi begitu saja. Kita harus pastikan bahwa kita bisa tekan terus supaya re-pricing-nya makin bisa affordable buat masyarakat kita,” katanya.

Selain bernegosiasi dengan rumah sakit, Prudential juga melakukan evaluasi rutin terhadap kualitas layanan dan kepatuhan tarif rumah sakit mitra. Menurut Yosie, perusahaan berupaya mencari titik keseimbangan antara keberlangsungan bisnis rumah sakit, industri asuransi, dan kepentingan nasabah.

“Prioritas utamanya nasabah. Jangan sampai sama-sama menjaga kepentingan, tapi nanti nasabahnya yang dikorbankan,” tutup dia.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IIS Gelar Seminar dan Wisuda Kelima
Next Post Konflik Timur Tengah Berpotensi Tekan Industri Asuransi RI Lewat Lonjakan Klaim

Member Login

or