Media Asuransi, SEMARANG – PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) menegaskan komitmennya untuk terus mendukung keberlanjutan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dukungan diberikan kepada UMKM mulai dari usaha rumahan hingga yang mampu menjangkau pasar luar kota dan luar negeri.

Wujud nyata tersebut ditunjukkan oleh Askrindo Cabang Semarang melalui penyediaan layanan penjaminan kredit, guna mendorong pengembangan bisnis usaha. Branch Manager Askrindo Semarang, Gami Aji L menginformasikan hingga April 2026 Askrindo Semarang telah membukukan penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp1,3 triliun dengan jumlah debitur mencapai 24.000 nasabah.
|Baca juga: Askrindo: Jawa Tengah Pasar Potensial untuk Penjaminan Kredit dan UMKM
Dukungan penjaminan kredit tersebut dimanfaatkan para pelaku UMKM di Semarang untuk mengembangkan usaha mereka. Salah satunya oleh Slamet Riyanto (43), pengusaha wingko babat rumahan yang telah menjalankan usahanya sejak 2010.
Hingga April 2026 Askrindo Semarang telah membukukan penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp1,3 triliun
Untuk menopang usahanya, Slamet memanfaatkan pembiayaan KUR dari perbankan yang dijamin asuransi kredit oleh Askrindo. Ia menceritakan, pinjaman pertama sebesar Rp5 juta, kemudian meningkat hingga pinjaman terakhir mencapai Rp50 juta dengan tenor tiga tahun.
Slamet menuturkan, memulai usaha dengan modal Rp5 juta untuk membeli bahan baku kelapa dan tepung ketan. Dulu, ia harus bergantung pada parutan kelapa dari pasar yang harganya lebih mahal dibandingkan mengolah kelapa utuh. “Dulu kelapa kami ambil dari pasar. Sekarang sudah punya alat parut sendiri sehingga produksi bisa lebih cepat dan harga kelapa juga lebih murah,” tuturnya.
|Baca juga: Total Nilai Pertanggungan KUR Askrindo Capai Rp810,3 Triliun hingga Triwulan I 2026
Seiring waktu, usaha yang dijalankan bersama istrinya Novi tersebut terus berkembang. Saat ini, kapasitas dapur produksinya sudah jauh meningkat. Ketika awalnya hanya menggunakan satu kompor, kini sudah mengoperasikan 12 tungku dari enam unit kompor untuk mencapai target produksi harian. Usahanya mampu memproduksi sekitar 15 hingga 20 loyang wingko per hari dengan harga jual Rp30.000 per loyang.
Slamet mengakui, dukungan tersebut membantu untuk menjaga kelangsungan usahanya sekaligus dapat menambah peralatan produksi. Meski, untuk saat ini produksi agak turun karena kenaikan bahan baku. “Sekarang memang agak menurun. Harga plastik naik, jadi tepungnya juga naik. Tapi yang penting mampu untuk bayar bulanannya,” tegas mantan karyawan sebuah perusahaan meubel besar di Semarang ini.
Editor : Wahyu Widiastuti
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

