1
1

Indonesia Membuka Peluang Investasi dari Semua Pihak

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. | Foto: ekon.go.id

Media Asuransi, JAKARTA – Saat ini Indonesia berada di peringkat 16 negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Dalam 20 tahun, Indonesia bercita-cita menjadi nomor empat. Indonesia akan terus berupaya agar dapat masuk dalam kelompok negara dengan ekonomi terpenting dunia. Penguatan hubungan kerja sama ekonomi bilateral dengan berbagai negara tentunya akan membantu Indonesia mencapai tujuannya, termasuk juga kerja sama dengan Jerman.

“Saya bertemu dengan Menteri Ekonomi Federal Robert Habeck dan berharap dapat memulai bisnis antara Jerman, ekonomi terbesar di Eropa, dan Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Lebih dari itu, kami menginginkan akses yang lebih baik terhadap teknologi dan investasi Jerman. Akses pasar yang lebih mudah juga penting bagi kami,” kata Menteri Koordinator Bidang Perkonomian RI, Airlangga Hartarto, dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat, 17 Mei 2024.

Dia menegaskan bahwa Indonesia membuka peluang investasi dari semua pihak. “Saya rasa investasi tidak memiliki bendera. Kami sangat terbuka untuk semua pihak,” tuturnya. Oleh karena itu, yang berinvestasi di Indonesia bukan hanya China, tapi juga ada AS di sisi tembaga (Freeport). Dulu juga ada Jepang di sisi bauksit.

|Baca juga: Pemerintah Tingkatkan Iklim Investasi dan Daya Saing Nasional

Menurut Menko, untuk nikel Indonesia belajar dari sejarah tersebut. Sebelum investasi di nikel, Indonesia mengekspor baja hanya US$2 miliar. Itu sekitar tahun 2014. “Namun sekarang jumlahnya mencapai US$26 miliar hingga US$30 miliar dalam setahun. Jadi ini merupakan nilai tambah bagi masyarakat Indonesia,” jelas Airlangga.

Dia menambahkan bahwa di masa depan nikel Indonesia juga akan berbasis energi hijau melalui pabrik peleburan yang dioperasikan dengan tenaga air, pembangkit listrik tenaga gas, atau bahkan pembangkit listrik tenaga surya. Tentunya akan dilakukan transisi energi di Indonesia. Namun di sisi lain, Indonesia harus tetap kompetitif dengan produk yang dihasilkan, sehingga biaya menjadi hal yang krusial. Meski begitu, Green nickel dan pertambangan berkelanjutan akan terus berproses secara bertahap.

Menko Airlangga tidak menganggap pembatasan perdagangan menjadi rintangan dalam negosiasi perdagangan bebas dengan Uni Eropa. Menurut dia, Indonesia berhak mengelola hasil alamnya sendiri. Pemberlakukan larangan ekspor bahan mentah yang belum diolah tentunya bertujuan agar Indonesia memiliki daya saing global. Dengan begitu, Indonesia dapat membawa nilai tambah ke dalam negeri yang membawa keuntungan bagi rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, terkait negosiasi dengan Uni Eropa, Menko Airlangga mengungkapkan bahwa Indonesia ingin diperlakukan secara adil. Hal ini melihat bagaimana Eropa memperlakukan Indonesia secara berbeda, misalnya dengan Vietnam dan Thailand.

Negosiasi IEU CEPA tak kunjung usai dalam tujuh tahun terakhir. Padahal Indonesia memiliki peran besar dalam tatanan perekonomian dunia. “Indonesia tidak mau menunggu terlalu lama,” tegas Menko Airlangga.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Survei Bank Indonesia: Penjualan Eceran Diprakirakan Tetap Tumbuh
Next Post Sepanjang 2023, Pertamina Hulu Rokan Jadi Penghasil Migas Nomor 1 Indonesia

Member Login

or