1
1

Bos BI: Kebijakan Moneter Terus Diperkuat untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. | Foto: Bank Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyebutkan kebijakan moneter BI terus diperkuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal itu yang membuat suku bunga BI-Rate pada Maret 2026 tetap dipertahankan sebesar 4,75 persen.

“(Hal itu dilakukan) guna mendukung upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang meningkat,” kata Perry, dalam konferensi pers hasil RDG BI, di Jakarta, Rabu, 22 April 2026.

|Baca juga: Permata Bank (BNLI) Perluas Layanan Syariah di Tengah Inklusi yang Masih Rendah

Kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah juga terus diperkuat dengan intervensi di pasar off-shore melalui NDF dan intervensi di pasar domestik melalui pasar spot, DNDF, serta pembelian SBN di pasar sekunder, didukung dengan penguatan kebijakan transaksi pasar valas.

Bank Indonesia, lanjutnya, juga terus mengoptimalkan berbagai instrumen moneter pro-market untuk mendorong peningkatan aliran masuk modal asing ke dalam negeri sehingga mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah.

Sementara posisi instrumen moneter SRBI pada 21 April 2026 tercatat sebesar Rp885,41 triliun, antara lain didukung dengan kepemilikan nonresiden yang mencapai Rp165,98 triliun (18,75 persen dari total outstanding) sehingga turut mendukung upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Bank Indonesia juga membeli SBN sebagai bentuk sinergi erat antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal dan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan, yang pada 2026 (hingga 21 April 2026) mencapai Rp111,54 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp56,53 triliun.

|Baca juga: Harga Premi Asuransi Energi Terus Turun di Tengah Risiko Global yang Makin Parah, Kok Bisa?

|Baca juga: BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75% di Tengah Tekanan Global

“Pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai mekanisme pasar, terukur, transparan, dan konsisten dengan program moneter dalam menjaga stabilitas perekonomian dan mempertahankan kredibilitas kebijakan moneter,” kata Perry.

Stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat

Lebih lanjut, kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. BI meningkatkan intensitas intervensi valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.

“Struktur suku bunga instrumen moneter juga diperkuat untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing,” ucapnya.

Bank Indonesia, lanjutnya, turut memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui penyesuaian threshold tunai beli valas terhadap rupiah, peningkatan threshold jual DNDF/Forward, dan peningkatan threshold beli dan jual swap, yang berlaku mulai April 2026.

|Baca juga: TBS Energi Utama (TOBA) Siap Tebar Dividen Rp152,9 Miliar, Cek Jadwalnya di Sini!

|Baca juga: BTPN Syariah (BTPS) Tebar Dividen Tunai Tahun Buku 2025, Simak Jadwal Lengkapnya!

Dengan langkah tersebut, masih kata Perry, nilai tukar rupiah dapat dijaga relatif stabil yang pada 21 April 2026 tercatat sebesar Rp17.140 per dolar AS, atau melemah 0,87 persen (ptp) dibandingkan dengan level akhir Maret 2026.

“Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” tuturnya.

Jumlah uang beredar tetap terjaga

Di sisi lain, pertumbuhan jumlah uang beredar tetap terjaga sejalan dengan kebijakan ekspansi likuiditas yang ditempuh BI. Pertumbuhan M0 pada Maret 2026 tetap tinggi sebesar 11,8 persen secara tahunan (yoy). Dari komponennya, pertumbuhan M0 pada Maret 2026 terutama dipengaruhi oleh giro bank umum di BI.

“Yang tumbuh sebesar 38,3 persen dan uang kartal yang tumbuh sebesar 8,6 persen,” kata Perry.

|Baca juga: Begini Respons Mirae Asset Sekuritas Indonesia terkait Pengumuman MSCI

|Baca juga: Indo Tambangraya Megah (ITMG) Siap Tebar Dividen Tunai US$64,54 Juta, Berikut Jadwal Lengkapnya!

Dari faktor yang memengaruhi, pertumbuhan M0 pada Maret 2026 didorong oleh ekspansi fiskal dan strategi operasi moneter. Sejalan dengan itu, uang beredar dalam arti luas (M2) pada Februari 2026 tumbuh sebesar 8,7 persen (yoy), setelah pada Januari 2026 tumbuh sebesar 10,0 persen (yoy).

Dari faktor yang memengaruhi, pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan penyaluran kredit. Ke depan, pertumbuhan uang beredar akan terus dikelola sehingga tetap konsisten menjaga stabilitas dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan BI dan pemerintah.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post RUPS Trisula Textile Industries (BELL) Sepakati Pembagian Dividen Rp10 Miliar
Next Post IHSG Diprediksi Menguat, Berikut 6 Rekomendasi Saham Pilihan dari BNI Sekuritas

Member Login

or