Media Asuransi, JAKARTA – Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto merespons pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Patut disyukuri bahwa MSCI tidak menurunkan ke level lebih rendah dan diharapkan terus ada perbaikan di industri pasar modal Indonesia.
“Dengan ekspektasi not as worst as we expected. Worst case-nya, ya worst case itu adalah kita di-downgrade ke frontier, itu memang tidak. Alhamdulillah sih tidak terjadi ya,” kata Rully, dalam Media Day bertajuk ‘Volatility to Opportunity: Market Outlook and Strategy for Q2 2026‘, di Jakarta, Selasa, 21 April 2026.
|Baca juga: Menteri PANRB: Pelanggaran Besar Berawal dari Hal Kecil, Ini Bukti dan Solusinya
|Baca juga: Mirae Asset Sebut Peluang Investasi di Pasar Keuangan RI Masih Terbuka, Ini Alasannya!
Hal itu, lanjutnya, karena regulator terkait sudah melakukan beberapa langkah kebijakan dalam rangka memperbaiki industri pasar modal Indonesia. Diharapkan perbaikan bisa terus dilakukan dan MSCI memperbaiki citra industri pasar modal Tanah Air di masa mendatang.
“Karena kalau kita lihat sebenarnya dari regulatornya sendiri sudah melakukan beberapa langkah-langkah kebijakan yang mungkin menurut kita cukup responsif. Ada empat pokok kebijakan,” jelas Rully
Adapun empat pokok kebijakan yang dimaksudkan Rully yakni disclosure dari kepemilikan di atas satu persen, merilis data shareholder concentration list, meningkatkan secara detail klasifikasi KSEI yang sudah diperluas, dan menaikkan free float menjadi 15 persen.
|Baca juga: Matahari (LPPF) Resmi Ganti Nama Jadi MDS Retailing, Apa Alasannya?
|Baca juga: Alamtri Minerals Indonesia (ADMR) Tebar Dividen US$120 Juta, Simak Jadwal Lengkapnya!
“Saya rasa ini seharusnya MSCI-nya sudah menerima dengan baik dari apa yang telah dilakukan oleh bursa dan mungkin ke depannya, mungkin sebenarnya yang harus dilihat next-nya itu adalah ketika rebalancing berikutnya. Kalau dari saya sendiri sih merupakan suatu perkembangan yang cukup positif,” tuturnya.
Kendati demikian, Rully mengingatkan kepada para pihak terkait untuk tetap berhati-hati dan mewaspadai sejumlah risiko yang bisa muncul. Saat ini, menjaga stabilitas pasar modal menjadi penting agar investor pasar modal tidak keluar dalam jumlah signifikan.
|Baca juga: Persaingan Kian Sengit, Bos OJK Minta Industri Asuransi Terapkan Strategi Ini
|Baca juga: Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Masih Rendah, OJK Dorong Peran Perempuan Perkuat Integritas
“Masih harus tetap berhati-hati karena keputusan akhirnya itu nanti di Mei. Dan kita lihat juga kalau dari sisi investor yang istilahnya pasif investor foreign, pasif foreign-nya itu ada kemungkinan juga masih bisa keluar. Dan dalam beberapa waktu terakhir juga sebenarnya masih banyak didominasi oleh investor retail transaksi kita,” ucapnya.
“Dan mungkin kalau dari sisi institusinya cenderung lebih berhati-hati,” tutupnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
