Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin di luar jadwal rapat reguler menjadi 5,50 persen. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya memperkuat nilai tukar rupiah yang terus tertekan.
Senior Economist Bank DBS Radhika Rao mengatakan keputusan itu diambil sekitar 10 hari sebelum jadwal rapat kebijakan berikutnya. Menurut dia, fokus utama kebijakan tersebut adalah menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global.
|Baca juga: Purbaya Beberkan Indikator Asumsi Makro Fiskal 2027, Pede Ekonomi RI Tumbuh 6,5%
|Baca juga: Purbaya Ramal Rupiah di Level Rp16.800-Rp17.500 per Dolar AS di 2027
“Bank Indonesia melakukan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin di luar jadwal menjadi 5,50 persen,” kata Radhika, dalam keterangannya yang dikutip Kamis, 11 Juni 2026.
Radhika mencatat rupiah menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan tahun ini. Nilainya telah melemah lebih dari delapan persen sejak awal tahun dan sempat menguji level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
BI menjelaskan kenaikan suku bunga dilakukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah yang terdampak tingginya volatilitas global akibat konflik di Timur Tengah. Kebijakan itu juga bertujuan menjaga inflasi tetap berada dalam target pada 2026 dan 2027.
|Baca juga: Perkuat Stabilitas Nilai Tukar Rupiah, BI-Rate Naik 25 Bps Jadi 5,50%
|Baca juga: Allianz Indonesia Perkuat Komitmen Waste Management: Dari Sampah Organik Jadi Produk Bernilai
“Tujuannya untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dampak volatilitas global yang tinggi akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran target,” ujar Radhika.
View this post on Instagram
Ia menambahkan keputusan tersebut menyusul kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Mei lalu. Langkah itu dilakukan untuk menjaga daya tarik aset keuangan Indonesia di tengah tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
Selain faktor nilai tukar, DBS juga melihat risiko inflasi berpotensi meningkat pada semester II/2026. Tekanan harga dapat muncul apabila konflik di Asia Barat berlangsung lebih lama dan mengganggu pasar energi maupun komoditas global.
|Baca juga: SCGC Lepas Sebagian Kepemilikan, Saham Publik Chandra Asri (TPIA) Melonjak Jadi 25,7%
|Baca juga: Profil Jeffrey Woo, Bos Baru FWD Insurance Indonesia
Radhika menilai pelemahan rupiah yang masih berlanjut, penurunan cadangan devisa, serta kebutuhan menjaga aliran modal asing menjadi alasan yang memperkuat arah kebijakan moneter yang lebih ketat.
“Panduan kebijakan dalam jangka pendek akan mendukung rupiah. Namun, penguatan yang lebih berkelanjutan tetap membutuhkan peningkatan arus masuk modal, kebijakan yang ramah pasar, atau meredanya krisis minyak,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

