Media Asuransi, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 2027. Asumsi tersebut menjadi salah satu dasar penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Purbaya mengatakan pemerintah optimistis nilai tukar rupiah dapat tetap terjaga pada 2027 seiring perkiraan membaiknya kondisi ekonomi global dan penguatan koordinasi kebijakan di dalam negeri.
|Baca juga: Ambruk 8,69% dalam Sepekan, Mengapa Risk Premium Membebani IHSG?
|Baca juga: Purbaya Beberkan Indikator Asumsi Makro Fiskal 2027, Pede Ekonomi RI Tumbuh 6,5%
“Dengan berbagai pertimbangan tersebut, pemerintah memperkirakan rupiah di 2027 terjaga stabil pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat,” ujarnya, dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Rabu, 10 Juni 2026.
Menurut Purbaya, meredanya konflik geopolitik dan membaiknya pertumbuhan ekonomi global diharapkan dapat mendukung stabilitas nilai tukar rupiah pada tahun depan.
View this post on Instagram
Meski demikian, pemerintah mengakui rupiah masih menghadapi tekanan hingga Juni 2026. Tekanan itu berasal dari sentimen global, kondisi pasar keuangan yang cenderung risk-off, serta tekanan dari transaksi berjalan dan transaksi finansial domestik.
“Kami juga mencermati perkembangan nilai tukar rupiah hingga Juni 2026 masih menghadapi tekanan, terutama dipengaruhi oleh sentimen global, kondisi risk-off di pasar keuangan, serta tekanan dari transaksi berjalan dan transaksi finansial domestik,” katanya.
|Baca juga: Klaim JKN Tembus 108,72%, BPJS Wanti-wanti Ketahanan Dana
|Baca juga: Rogoh Rp201,98 Miliar, OCBC (NISP) Caplok 20% Saham Great Eastern Life Indónesia!
Pemerintah juga mengandalkan perbaikan tata kelola Devisa Hasil Ekspor (DHE) serta pendalaman pasar keuangan untuk memperkuat pasokan valuta asing di dalam negeri. Langkah itu diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar domestik.
Di sisi lain, arus modal asing mulai menunjukkan perbaikan pada kuartal II/2026. Peningkatan terutama terjadi pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
View this post on Instagram
“Arus modal asing juga menunjukkan perbaikan yang signifikan pada triwulan kedua 2026, terutama pada instrumen SBN dan SRBI. Meskipun pasar saham masih mencatat outflow, namun secara keseluruhan minat investor terhadap instrumen keuangan domestik masih tetap terjaga,” ujarnya.
|Baca juga: BPJS Kesehatan Dorong Penyesuaian Iuran JKN untuk Jaga Keberlanjutan Program
|Baca juga: BPJS Kesehatan Sebut Perpres JKN Baru Berpotensi Tambah Beban hingga Rp35 Triliun
Dalam KEM-PPKF 2027, pemerintah juga menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8 persen hingga 6,5 persen. Sementara inflasi diperkirakan berada pada rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen dan suku bunga SBN tenor 10 tahun pada kisaran 6,5 persen hingga 7,3 persen.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

