1
1

Insights DBS Chief Investment Office 4Q26: Ketahanan Pasar Berikan Imbal Hasil Poin-poin Utama Investasi

Gedung Bank DBS Indonesia | Foto: Bank DBS

Media Asuransi, JAKARTA – Pasar memasuki kuartal IV/2026 dengan titik krusial yang dapat menentukan arah gerak selanjutnya. Di tengah harga energi yang masih tinggi, kenaikan imbal hasil obligasi, meningkatnya kembali ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian arah kebijakan, aset berisiko tetap menunjukkan ketahanan yang kuat.

“Kinerja laba perusahaan yang solid dan siklus belanja modal (capex) untuk kecerdasan buatan (AI) terus menopang momentum ekonomi,” kata DBS Chief Investment Office pada kuartal IV 2026 yang digelar secara virtual, Senin, 28 September 2026.

Namun, lanskap investasi semakin selektif seiring investor mencermati kebutuhan pendanaan, arus kas bebas, dan valuasi. Alih-alih menarik diri dari pasar, investor disarankan untuk tetap berinvestasi melalui portofolio terdiversifikasi yang mencakup berbagai kelas aset.

“Sekaligus memperluas eksposur di luar kelompok kecil saham teknologi yang mendorong kenaikan pasar sebelumnya,” ungkap DBS Chief Investment Office pada kuartal IV 2026.

Penguatan pasar saham kian meluas secara signifikan ke berbagai sektor. Sektor energi, kesehatan, dan keuangan mulai mencatatkan momentum positif, sementara sektor teknologi terkonsolidasi. Perkembangan ini didukung pertumbuhan laba yang kuat di berbagai sektor serta semakin meluasnya manfaat AI ke berbagai lini perekonomian.

Pergeseran fokus tidak menandakan berakhirnya tema AI, melainkan menandai fase penciptaan nilai berikutnya, di mana investor mulai melirik perusahaan yang mampu mengubah adopsi AI menjadi peningkatan produktivitas, margin lebih kuat, dan pertumbuhan pendapatan berkelanjutan, alih-alih berfokus pada perusahaan penyedia infrastruktur.

DBS tetap optimistis terhadap perusahaan yang akan memperoleh manfaat jangka panjang dari AI, namun DBS lebih memilih perusahaan yang mengadopsi teknologi ini dengan kebutuhan belanja modal lebih rendah, serta sektor-sektor yang diuntungkan oleh aktivitas pasar modal yang lebih kuat, ketahanan energi, dan efisiensi operasional.

Tingkat suku bunga yang tinggi dalam jangka waktu lama tetap menjadi kendala utama untuk pengelolaan portofolio.

Besarnya penerbitan obligasi pemerintah, peningkatan pinjaman oleh perusahaan teknologi berskala besar, inflasi yang sulit mereda, serta berkurangnya panduan ke depan dari Federal Reserve mendorong kenaikan premi tenor dan memperbesar perbedaan risiko di pasar kredit.

Asumsi tradisional bahwa penerbit obligasi dengan peringkat kredit tertinggi selalu menawarkan tingkat keamanan terbesar kini mulai dipertanyakan, seiring perusahaan berperingkat AA yang meningkatkan utang harus bersaing dengan pemerintah dalam memperoleh pendanaan.

Oleh karena itu, DBS Chief Investment Office pada kuartal IV 2026 lebih memilih obligasi dengan durasi 5–7 tahun serta penerbit berperingkat BBB/BB yang memiliki arus kas tangguh, tingkat utang yang terkendali, dan kapasitas yang kredibel untuk mengurangi utang.

|Baca juga: Zurich Soroti Dampak Gangguan Kesehatan Mental terhadap Produktivitas dan Ketahanan Ekonomi

|Baca juga: Maksimalkan Cuan, Investor Jangan Hanya Ikuti Dinamika Pasar dan Kejar Peluang

Strategi ini juga dilengkapi dengan instrumen obligasi tradisional melalui TIPS (Surat Berharga Negara AS yang terlindung dari inflasi), agency mortgage-backed securities (MBS), saham sektor keuangan secara selektif, serta instrumen beragun agunan (collateralised structures).

Sementara aset alternatif tetap menjadi elemen penting untuk menjaga ketahanan portofolio, terutama ketika kemampuan saham dan obligasi konvensional dalam memberikan manfaat diversifikasi menjadi kurang andal di tengah kondisi inflasi.

Sedangkan emas berpotensi memperoleh dukungan dari pembelian bank sentral yang berkelanjutan, permintaan yang kuat dari Asia, kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal, serta tren investasi yang didorong oleh pelemahan nilai mata uang.

Sementara itu, aset privat dan dana lindung nilai menawarkan sumber pertumbuhan, pendapatan, dan potensi imbal hasil tambahan (alpha) yang berbeda.

Di tengah keterbatasan modal, peluang dinilai lebih menarik pada transaksi pasar sekunder, investasi bersama, pembiayaan senior beragunan dan berbasis aset, infrastruktur dengan pendapatan berbasis kontrak, strategi relative value, serta pengelola strategi equity long-short dengan eksposur bersih rendah.

Dengan demikian, alokasi aset alternatif yang terdiversifikasi dapat membantu meredam penurunan nilai portofolio tanpa menggeser peran utama saham dan obligasi publik.

Lebih lanjut, kondisi makroekonomi global masih menunjukkan dinamika beragam di berbagai kawasan. Ekonomi Amerika Serikat terus memperoleh dukungan dari investasi terkait AI dan konsumsi yang tetap tangguh, sementara Eropa dan Jepang mencatatkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan meskipun menghadapi kenaikan biaya energi.

Di Asia, kuatnya ekspor teknologi dan investasi manufaktur membantu mengimbangi permintaan domestik China yang lebih lemah. Ketahanan ekonomi ini memberikan ruang bagi sejumlah bank sentral untuk tetap berfokus pada pengendalian inflasi.

“Sehingga memperkuat kemungkinan pengetatan kebijakan moneter yang berlangsung relatif serentak, tetapi dengan intensitas yang berbeda-beda. Kondisi ini sekaligus membuat volatilitas pasar obligasi tetap tinggi,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bos Prudential Syariah: Permintaan Investasi Syariah Besar, Ekosistem Perlu Diperkuat
Next Post CB FEST 2026: Perkuat Layanan Kebanksentralan untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi

Member Login

or