Media Asuransi, JAKARTA – Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo menyebutkan keputusan investasi saat ini perlu didasarkan pada tren struktural jangka panjang, bukan hanya sentimen pasar jangka pendek.
“Di tengah perubahan lanskap global, investor perlu melihat peluang secara lebih luas dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental setiap kawasan,” ujar Djoko, dikutip dari keterangan tertulisnya, Rabu, 22 Juli 2026.
Saat ini, lanjutnya, Bank DBS melihat terdapat tiga kawasan utama yang menarik untuk dicermati, yaitu Amerika Serikat, China, serta Asia termasuk Indonesia. Amerika Serikat masih menjadi pemimpin dalam inovasi teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI).
Sedangkan China berhasil mengakselerasi pemanfaatan AI ke berbagai sektor industri sehingga meningkatkan produktivitas. Sementara Asia, termasuk Indonesia, memperoleh manfaat dari pergeseran rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi regional.
“Sebagai mitra tepercaya dalam pengelolaan kekayaan, Bank DBS Indonesia terus menghadirkan insights regional dan panduan investasi agar nasabah dapat mengambil keputusan secara lebih percaya diri,” jelas Djoko.
Selain menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global, lanjutnya, Asia juga memainkan peran strategis dalam rantai pasok industri masa depan, mulai dari produksi semikonduktor di Taiwan dan Korea Selatan hingga pasokan mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan bauksit dari Indonesia.
|Baca juga: Laba Oona Insurance (ABDA) Naik 21,4% di Kuartal I/2026
|Baca juga: Minat Investor Asing ke Saham Bank Jumbo Mulai Pulih, Mirae Asset: Sinyal Positif bagi Pasar RI
“Dengan konsumsi domestik yang kuat serta ketergantungan terhadap ekspor yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan sejumlah negara di kawasan, Indonesia dinilai memiliki daya tahan ekonomi yang lebih baik terhadap gejolak eksternal,” ujarnya.
Executive Director Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya menjelaskan meningkatnya rivalitas Amerika Serikat dan China serta kecenderungan berbagai negara menerapkan kebijakan ekonomi yang lebih proteksionisme membuat setiap negara perlu semakin adaptif dalam menyusun strategi ekonomi dan diplomasi.
Langkah Indonesia memperkuat hubungan dengan berbagai mitra strategis, tambahnya, termasuk bergabung dengan BRICS maupun mempererat kerja sama dengan Amerika Serikat, merupakan bagian dari strategi menjaga kepentingan nasional di tengah perubahan tatanan global.
Namun demikian, daya saing Indonesia pada akhirnya tetap ditentukan oleh kekuatan fundamental ekonomi di dalam negeri. Menurutnya posisi tawar suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan diplomasi, tetapi juga oleh kekuatan fundamental ekonominya.
“Ketika regulasi memberikan kepastian, birokrasi semakin efektif, iklim investasi kondusif, serta pembangunan infrastruktur terus diperkuat, Indonesia memiliki daya saing yang semakin tinggi di tengah dinamika geopolitik global,” pungkas Yunarto.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
