1
1

Eastspring Investments Indonesia: Pasar Indonesia Mengalami Konsolidasi Jelang Pengumuman Data Inflasi AS

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). | Foto: Media Asuransi/Arief Wahyudi

Media Asuransi, JAKARTA – Pasar saham Indonesia bergerak melemah pada perdagangan Kamis, 10 September 2026, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi -1,33 persen atau -88,86 poin ke posisi 6.589,34. Tekanan terutama datang akibat pelemahan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Beberapa saham yang menjadi penekan utama Adalah BBRI (-2,92 persen), BYAN (-4,90 persen), BBCA (-153 persen), DSSA (-5,13 persen), dan AMMN (-2,04 persen).

Dikutip dari Spring Flash oleh tim PT Eastspring Investments Indonesia, pergerakan ini terjadi di tengah sikap investor yang cenderung lebih berhati-hati menjelang rilis data inflasi AS, yakni PPI dan CPI, pada 10 dan 11 September waktu setempat. Pelaku pasar mencermati risiko apabila inflasi AS tercatat lebih tinggi dari ekspektasi, yang berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih hawkish, terlebih setelah data sektor tenaga kerja AS pekan lalu menunjukkan perkembangan yang relatif positif.

|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: Kehati-hatian Investor Meningkat di Tengah Dinamika Domestik

Konsensus pasar memperkirakan PPI AS Agustus tumbuh 5,3 persen year on year (yoy), sementara CPI diperkirakan tumbuh 3,4 persen yoy. Meski demikian, pelemahan IHSG hari ini masih dapat dipandang sebagai koreksi yang sehat setelah reli yang cukup kuat dalam dua bulan terakhir. Hingga 10 September 2026, IHSG telah menguat lebih dari 11 persen, sehingga membuka ruang bagi aksi ambil untung dalam jangka pendek.

Di pasar valuta asing, rupiah turut melemah sebesar 0,21 persen menjadi Rp17.547 per dolar AS, salah satunya dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak Brent yang telah menembus US$102 per barel. Sementara itu, pasar obligasi Indonesia juga cenderung melemah, tercermin dari kenaikan imbal hasil SBN di hampir seluruh tenor. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik 1 bps (basis points) menjadi 7,11 persen, sementara tenor 5 tahun turun 1 bps menjadi 6,92 persen.

|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: Pasar Berhati-hati Jelang Agenda Kebijakan Fiskal 2027

Koreksi pasar saat ini masih kami pandang sebagai konsolidasi yang sehat setelah penguatan IHSG yang cukup kuat dalam beberapa bulan terakhir. Setelah melewati fase kapitulasi sebelumnya, kondisi pasar kini menunjukkan perkembangan yang lebih konstruktif, didukung oleh sentimen dan arus dana yang lebih kondusif.

Stabilitas rupiah yang terlihat akhir-akhir ini juga menjadi faktor penting yang membantu menjaga kepercayaan investor terhadap aset Indonesia. Bagi investor, periode konsolidasi seperti saat ini justru dapat memberikan ruang untuk membangun posisi secara bertahap pada level yang lebih menarik, terutama pada aset dengan fundamental yang solid.

Dengan kondisi pasar yang lebih sehat dibandingkan sebelumnya, volatilitas jangka pendek dapat dimanfaatkan secara selektif untuk menangkap potensi pertumbuhan dalam jangka menengah hingga panjang.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post LPS Tegaskan Tak Semua Asuransi Langsung Masuk Cakupan Aktif Penjaminan Polis
Next Post OJK Pastikan Threshold New RBC Masih 120%

Member Login

or