Media Asuransi, JAKARTA – Bagi seorang pensiunan, pelayanan yang baik bukan sekadar urusan administrasi. Kemudahan mengakses informasi, melakukan autentikasi, dan menerima manfaat tepat waktu juga menjadi bagian penting dari ketenangan menjalani masa purnabakti.
Di sinilah tantangan PT TASPEN (Persero) yaitu memastikan layanan perlindungan sosial tidak hanya tersedia, tetapi juga mudah dijangkau dan dipahami oleh setiap peserta. Setidaknya pengalaman itu dirasakan dan diceritakan Mudas, seorang pensiunan guru SD berusia 75 tahun yang juga merupakan peserta pensiun TASPEN.
Pengalaman Mudas ceritakan tepat di saat TASPEN ikut serta menyemarakkan Hari Pelanggan Nasional (Hapelnas) 2026 secara serentak di 57 Kantor Cabang TASPEN pada 4 September 2026, melalui berbagai aktivitas yang mendekatkan layanan dengan peserta.
|Baca juga: OJK Kantongi Sertifikasi ISO 9001:2015 untuk Pengawasan Industri PPDP
Pada peringatan Hapelnas 2026, Direksi TASPEN melakukan kunjungan ke sejumlah kantor cabang serta kediaman peserta pensiun untuk menyapa langsung para peserta TASPEN. Salah satu peserta pensiun yang dikunjungi kala itu adalah Mudas. Di situlah Mudas menyampaikan apresiasinya atas perhatian dan pelayanan yang diberikan.
Mudas memandang kunjungan langsung ke kediamannya menjadi bentuk kepedulian TASPEN yang memberikan pengalaman positif dan berkesan bagi peserta. “Saya senang sekali bisa dikunjungi langsung oleh TASPEN. Selama ini pelayanan TASPEN juga mudah dan banyak membantu,” ujarnya.
Tidak hanya kepedulian atas kunjungan tersebut, ia juga mengaku merasakan kemudahan autentikasi melalui swafoto di aplikasi Andal by Taspen serta manfaat pensiun yang diterima setiap bulan.
“Setiap bulan saya lakukan autentikasi sekarang cukup selfie melalui aplikasi Andal by Taspen, lebih mudah dan tidak perlu repot datang ke kantor. Manfaat pensiun saya juga diterima setiap bulan tepat waktu,” ujarnya.
Corporate Secretary TASPEN Henra menyatakan melalui peringatan Hari Pelanggan Nasional, TASPEN ingin memastikan setiap layanan yang diberikan dapat memenuhi kebutuhan peserta, menghadirkan rasa nyaman, kepedulian, dan pengalaman yang positif.
“Bagi kami, senyum pelanggan merupakan cerminan dari komitmen kami untuk terus memberikan pelayanan terbaik,” kata Henra.
|Baca juga: Bos AAJI Ungkap Cara Perusahaan Asuransi Jiwa Penuhi Kewajiban Miliki MAB
|Baca juga: Bank Mega Syariah Catat Pembiayaan Rp10,31 Triliun hingga September 2026
Pengalaman itu memperlihatkan transformasi digital dapat memangkas hambatan pelayanan, terutama bagi peserta lanjut usia yang kesulitan bepergian. Per September 2026, aplikasi Andal by Taspen telah diunduh lebih dari 2,9 juta kali.
Saat ini, TASPEN memberikan layanan kepada 9,13 juta peserta, yang terdiri atas 5,85 juta peserta aktif dan 3,28 juta peserta pensiun. Layanan tersebut didukung oleh jaringan TASPEN yang tersebar di 57 kantor cabang, 46 mitra bayar, serta lebih dari 16 ribu titik layanan di seluruh Indonesia.
Meski demikian, digitalisasi perlu berjalan berdampingan dengan bantuan langsung agar peserta yang belum terbiasa menggunakan teknologi tetap memperoleh pelayanan yang memadai. Hal itu yang juga membuat TASPEN menyediakan sejumlah kanal informasi dan pengaduan resmi guna memudahkan para peserta.
Henra mengimbau masyarakat menggunakan kanal tersebut untuk memperoleh informasi yang benar sekaligus menghindari penipuan yang mengatasnamakan perusahaan. Kendati demikian, tidak ditampik, kemudahan yang diberikan juga membutuhkan dukungan sistem di belakang layar.
Karenanya, pada 13 Oktober 2026, TASPEN bersama Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan menandatangani kerja sama pertukaran data untuk memperkuat pengelolaan pensiun, Tabungan Hari Tua (THT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian (JKM).

TASPEN dan Kementerian Keuangan perkuat ekosistem layanan pensiun. | Foto: TASPEN
Direktur Utama TASPEN Rony Hanityo Aprianto dan Direktur Jenderal Perbendaharaan Astera Primanto Bhakti hadir dalam agenda tersebut. Pada kesempatan itu, Henra menjelaskan integrasi data yang aman dan akurat menjadi fondasi agar manfaat diterima tepat waktu dan tepat sasaran.
Adapun perspektif pemerintah turut menegaskan pentingnya kesiapan menghadapi masa pensiun. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Rini Widyantini, dalam kegiatan Kick-off Bulan Dana Pensiun 2026 menekankan masa tua yang mandiri, nyaman, dan sejahtera perlu dipersiapkan sejak masih produktif.
Edukasi mengenai hak peserta dan prosedur layanan perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya menjelang purnabakti. Sementara dukungan pemerintah terkait Bulan Dana Pensiun 2026 bertujuan mengajak masyarakat, khususnya generasi produktif, mulai memahami pentingnya perencanaan masa depan.
Menteri Rini menyampaikan tema Bulan Dana Pensiun 2026 yang bertajuk “Muda Berkarya, Tua Bahagia” memiliki kalimat sederhana, namun mengandung pesan yang sangat penting untuk menjalankan masa tua dengan sehat, tenang, mandiri, dan tetap produktif.
|Baca juga: GoTo Cetak Laba Bersih Rp441 Miliar di Kuartal III/2026
|Baca juga: Prudential Indonesia Perkuat Komitmen Lingkungan Lewat Aksi Bersih Sungai Ciliwung
“Semua itu tentu tidak datang begitu saja. Masa pensiun yang baik tidak dipersiapkan ketika kita akan berhenti bekerja, tetapi sejak kita mulai bekerja,” tuturnya.
Di sisi lain, pengalaman industri keuangan juga menunjukkan kualitas pelayanan harus dibangun dari budaya organisasi. Dalam forum kepemimpinan TASPEN pada Oktober 2026, EVP Contact Center & Digital Services BCA Nathalya Wani Sabu membahas pentingnya customer centricity atau menempatkan kebutuhan pelanggan sebagai pusat pelayanan.
Prinsip ini relevan bagi TASPEN di mana teknologi harus menyederhanakan proses, sementara petugas perlu mampu menjelaskan prosedur dengan bahasa yang mudah dipahami dan empati terhadap kondisi peserta.
“Bagi peserta, kehadiran negara terasa ketika haknya diterima dengan pasti, dan masa tuanya dijalani dengan tenang. Inilah amanah yang harus kita wujudkan dalam setiap keputusan dan setiap pelayanan,” kata Komisaris Utama TASPEN Fary Djemy Franscis.

TASPEN terus memperkuat kualitas pelayanan kepada peserta melalui penyediaan kanal layanan resmi yang semakin lengkap. | Foto: TASPEN
Pada akhirnya, mendekatkan pelayanan bukan semata-mata menambah aplikasi atau memperluas jaringan kantor. Ukurannya adalah seberapa mudah peserta mendapatkan jawaban, seberapa sederhana proses yang harus dilalui, dan seberapa pasti hak mereka diterima.
Melalui perpaduan layanan digital, pendampingan manusiawi, dan integrasi data, TASPEN memiliki ruang untuk terus memperkuat kepercayaan peserta. Sebab, melayani sepenuh hati berarti memastikan setiap peserta merasa didengar, dipermudah, dan memperoleh kepastian ketika memasuki masa purnabakti.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut menempatkan akses dan literasi sebagai bagian penting dari kesejahteraan hari tua. Dalam pencanangan Bulan Dana Pensiun, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menekankan pentingnya meningkatkan literasi dan inklusi dana pensiun.
Hal itu dianggap penting agar masyarakat lebih siap menghadapi masa purnabakti. Perspektif ini relevan bagi peserta TASPEN karena pemahaman atas hak dan prosedur layanan dapat membantu mereka mengakses manfaat dengan lebih percaya diri.
“Tapi tentunya PR-nya enggak cuma membesarkan dana kelolaan dana pensiun, tapi meningkatkan kepesertaannya. Apalagi sekarang banyak masyarakat lebih memilih enggak jadi pegawai, banyak pekerja mandiri dan lain-lain, jadi PR kita bersama untuk meningkatkan bagaimana pengelolaan dana pensiun semakin besar,” katanya.
Sedangkan dalam Indonesia Pension Fund Summit pada September 2026, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono turut menyoroti tantangan perluasan kepesertaan dana pensiun, termasuk literasi, kemampuan menyisihkan pendapatan, akses, dan kepercayaan.
Bagi TASPEN, tantangan tersebut mempertegas pelayanan tidak berhenti setelah manfaat dibayarkan. Peserta juga membutuhkan informasi yang jelas mengenai hak, prosedur autentikasi, kanal pengaduan, dan keamanan data pribadi.
Lebih lanjut, Ogi menegaskan, pengembangan dan pendalaman industri dana pensiun membutuhkan kolaborasi pemerintah, OJK, pemberi kerja dan pekerja, asosiasi, serta penyelenggara program pensiun wajib dan sukarela.
“Terkait dengan kolaborasi, tentunya pengembangan dan pendalaman pasar industri dana pensiun tidak bisa kita lakukan sendiri-sendiri. Kita harus berkolaborasi,” pungkas Ogi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

