Media Asuransi, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada periode 18–22 Mei 2026 dengan koreksi tajam sebesar 8,35 persen ke level 6.162,045. Bahkan, indeks acuan saham Indonesia sempat menyentuh level terendah tahun ini di posisi 5.966.
Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari, kejatuhan ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang meningkatkan sikap menghindari risiko (risk-off) di kalangan investor.
|Baca juga: OJK Bidik Investor Asing Lewat Revisi Aturan Bursa Karbon
Dari sisi eksternal, pasar dibayangi oleh sikap hawkish The Fed yang diprediksi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga memicu penguatan dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah.
Sementara dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps demi menjaga stabilitas mata uang justru menimbulkan kekhawatiran terkait perlambatan likuiditas ekonomi.
Ia menambahkan kekhawatiran investor sempat diperparah oleh rencana implementasi kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas strategis seperti batu bara. Namun, munculnya rumor penundaan kebijakan tersebut hingga 1 Januari 2027 berhasil memicu rebound signifikan pada akhir pekan.
“Khususnya didorong oleh lonjakan sektor basic materials 6,85 persen dan energi 4,84 persen,” jelasnya, dikutip dari risetnya, Senin, 25 Mei 2026.
|Baca juga: BEI dan Industri Aviasi Luncurkan Program Awak Pesawat Investor Saham
|Baca juga: SMBC Indonesia (BTPN) Dukung Stabilitas Ekonomi dan Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Global
Menurut Brigita, pergerakan indeks utama Wall Street dalam sepekan ke depan diperkirakan masih bergerak volatil dengan kecenderungan variatif. Hal ini terjadi setelah pasar sepanjang pekan 18–22 Mei 2026 dipengaruhi kombinasi sentimen geopolitik di Timur Tengah, pergerakan imbal hasil obligasi AS, serta rotasi di sektor teknologi.
Sentimen pasar global sempat tertekan akibat kekhawatiran eskalasi konflik antara AS dan Iran yang berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia lewat Selat Hormuz. Ketakutan akan lonjakan inflasi energi ini sempat mendorong kenaikan yield US Treasury dan memperkuat ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi oleh The Fed.
View this post on Instagram
Berbicara tentang potensi pergerakan market pada sepekan ke depan yang hanya akan berlangsung selama tiga hari perdagangan karena ada libur dan cuti bersama Hari Raya Iduladha, secara teknikal IHSG masih bergerak jauh di bawah SMA-50 di area 7.166 yang mengindikasikan tren pelemahan jangka menengah masih dominan.
“Momentum indeks juga masih relatif lemah tercermin dari indikator MACD yang bertahan di area negatif dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat, sehingga penguatan yang terjadi sejauh ini masih dinilai sebagai rebound teknikal dan belum mengonfirmasi perubahan tren utama,” tuturnya.
|Baca juga: Konflik Timur Tengah Berpotensi Tekan Industri Asuransi RI Lewat Lonjakan Klaim
|Baca juga: Bos Indonesia Re: Industri Asuransi Syariah Perlu Fokus Benahi Tantangan Internal
Merespons dinamika market yang ada, IPOT merekomendasikan trading saham pada emiten-emiten berikut ini:
1. Buy MDKA (Entry: Rp2.720, Target Price (TP): Rp3.000, Stop Loss (SL): Rp2.610)
MDKA secara price structure berhasil ditutup di atas EMA5 disertai spike volume, mengindikasikan momentum rebound jangka pendek mulai terbentuk. Sentimen juga didukung aksi akumulasi asing dengan net buy mencapai Rp691 miliar dalam sepekan terakhir, sehingga membuka peluang penguatan lanjutan selama harga mampu bertahan di atas area support terdekat.
2. Buy BTPN (Entry: Rp2.380, Target Price (TP): Rp2.530, Stop Loss (SL): Rp2.310)
BTPN bergerak uptrend dan masih konsisten bertahan di atas EMA5 hingga EMA50, mencerminkan momentum kenaikan yang masih terjaga. Pergerakan saham juga didukung aksi akumulasi asing dengan net buy sebesar Rp2,3 miliar dalam sepekan terakhir, sehingga membuka peluang penguatan lanjutan selama harga mampu bertahan di area support terdekat.
3. Buy ULTJ (Entry: Rp1.635, Target Price (TP): Rp1.725, Stop Loss (SL): Rp1.590)
ULTJ membentuk pola higher low dengan rebound di area EMA50, mengindikasikan tekanan jual mulai mereda dan peluang rebound jangka pendek mulai terbuka. Momentum penguatan juga mulai terkonfirmasi dari indikator MACD yang bergerak naik dan mengarah ke area bullish crossover, sehingga memperbesar potensi lanjutan kenaikan selama harga bertahan di atas support terdekat.
4. Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD)
Power Fund Series (PFS) berkode XIHD menawarkan strategi income investing yang efisien melalui eksposur ke 20 saham Indonesia dengan dividend yield tinggi dan fundamental yang relatif solid. ETF ini cocok di tengah pasar yang volatil karena mampu mengkombinasikan potensi pendapatan dividen yang stabil dengan peluang capital gain sekaligus solusi praktis bagi investor yang ingin menikmati imbal hasil dividen tanpa perlu melakukan stock picking. Di sisi lain, kenaikan BI Rate ke 5,25 persen berpeluang membawa dampak positif ke sektor perbankan yang mendominasi sekitar 45,6 persen bobot XIHD. Hal ini berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerjanya sekaligus meningkatkan daya tarik yield saham dalam XIHD dibandingkan instrumen fixed income.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

