1
1

Konflik Timur Tengah Berpotensi Tekan Industri Asuransi RI Lewat Lonjakan Klaim

Direktur Teknik Operasi Indonesia Re Delil Khairat. | Foto: Indonesia Re

Media Asuransi, JAKARTA – Konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap industri asuransi nasional melalui jalur makroekonomi. Hal itu terutama akibat volatilitas harga minyak dunia yang dapat memicu inflasi dan meningkatkan nilai klaim asuransi.

Direktur Teknik Operasi PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re Delil Khairat mengatakan dampak terbesar dari konflik yang terjadi bukan berasal dari eksposur langsung industri asuransi Indonesia terhadap wilayah konflik, melainkan dari efek berantai terhadap kondisi ekonomi global dan domestik.

|Baca juga: BI Catat Penggunaan QRIS oleh Wisatawan Asing Tembus Rp2,28 Triliun

|Baca juga: BI Klaim Pelemahan Rupiah Tidak Lagi Berpengaruh Besar terhadap Kenaikan Inflasi RI

Menurut dia, kenaikan harga energi serta pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi dari normal dan pada akhirnya meningkatkan biaya klaim yang harus ditanggung perusahaan asuransi.

“Yang paling berpengaruh justru nomor dua yang sudah kita rasakan sekarang sebenarnya yaitu transmisi makroekonomi. Dan ini adalah domino effect dari volatilitas harga minyak dunia,” ujar Delil, dalam sebuah seminar di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia mencontohkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing yang semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut pada akhirnya akan berdampak pada berbagai sektor ekonomi karena banyak komoditas penting masih bergantung pada impor.

“Kita paham sekali ini akan memengaruhi banyak hal. Meskipun orang desa tidak pegang dolar, tapi orang desa Indonesia suka tempe dan kedelai itu diimpor. Jadi situasi kita seperti itu,” katanya.

Delil menjelaskan tekanan inflasi yang dipicu gejolak ekonomi global berpotensi memperburuk biaya kesehatan yang selama ini menjadi salah satu tantangan bagi industri asuransi. Menurutnya, kondisi tersebut dapat mendorong inflasi melampaui tingkat normal, sementara inflasi medis di Indonesia saat ini sudah berada di atas rata-rata Asia.

|Baca juga: Pangsa Pasar Asuransi Syariah Masih Mini, OJK: Peluangnya Besar yang Belum Digarap!

|Baca juga: BI Terus Pelototi Gerak Inflasi RI saat Konflik Timur Tengah Kian Membara

Ia menambahkan kenaikan biaya kesehatan tersebut berpotensi meningkatkan nilai klaim asuransi sehingga dapat menekan profitabilitas perusahaan asuransi maupun reasuransi. Selain itu, kondisi tersebut juga berisiko mendorong kenaikan rasio klaim industri ke depan.

“Jadi tanpa disadari atau tidak, ini akan inflating claim amount. Jadi bersiap-siaplah dengan loss ratio yang semakin tinggi,” kata Delil.

Ia menilai dampak langsung konflik di kawasan Timur Tengah terhadap bisnis reasuransi nasional masih relatif terbatas. Hal itu karena eksposur perusahaan asuransi dan reasuransi Indonesia terhadap risiko-risiko di wilayah tersebut tidak terlalu besar dari pasar internasional yang memiliki portofolio bisnis marine dan energi lebih dominan.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Prudential Indonesia Upayakan Harga Premi Asuransi Tetap Terjangkau di Tengah Inflasi Medis
Next Post Bos Indonesia Re: Industri Asuransi Syariah Perlu Fokus Benahi Tantangan Internal

Member Login

or