1
1

Bos Indonesia Re: Industri Asuransi Syariah Perlu Fokus Benahi Tantangan Internal

Direktur Teknik Operasi Indonesia Re Delil Khairat. | Foto: Indonesia Re

Media Asuransi, JAKARTA – PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re menilai industri asuransi syariah nasional perlu lebih fokus membenahi berbagai tantangan internal yang masih dihadapi dibandingkan dengan terlalu mengkhawatirkan dampak konflik geopolitik global.

Penguatan fundamental industri dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing dan memperluas pasar asuransi syariah di Indonesia.

|Baca juga: Mirae Asset Sekuritas Sebut Saham Sektor Perbankan Berpotensi Cuan saat IHSG Terjungkal

|Baca juga: Pangsa Pasar Asuransi Syariah Masih Mini, OJK: Peluangnya Besar yang Belum Digarap!

Direktur Teknik Operasi Indonesia Re Delil Khairat mengatakan, di tengah berbagai dinamika global, industri asuransi syariah Indonesia saat ini masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan. Karena itu, perhatian pelaku industri sebaiknya diarahkan pada upaya memperkuat kondisi internal pasar domestik.

“Nah sekarang kita melihat masalah utama kita sekarang. Jadi tadi yang saya katakan adalah bahwa kita sebenarnya sudah punya masalah sendiri. Mari kita fokus sekarang pada masalah kita internal,” ujar Delil, dalam sebuah seminar di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, penguatan industri menjadi semakin penting mengingat sejumlah perusahaan asuransi syariah tengah menghadapi proses spin-off sesuai ketentuan regulator. Kondisi tersebut menuntut perusahaan untuk memperkuat kapasitas bisnis dan memperbesar pasar agar dapat bertumbuh secara berkelanjutan.

|Baca juga: BI Terus Pelototi Gerak Inflasi RI saat Konflik Timur Tengah Kian Membara

|Baca juga: BI Catat Penggunaan QRIS oleh Wisatawan Asing Tembus Rp2,28 Triliun

“Dengan situasi industri syariah Indonesia yang lemah sekarang, bagaimana caranya kita mencari solusi untuk memperkuat industri ini. Apalagi untuk teman-teman yang diharuskan oleh Pak Riswinandi untuk spin-off, kita harus memperkuat market ini,” kata Delil.

Ia menjelaskan, upaya memperkuat industri asuransi syariah tidak hanya berkaitan dengan aspek bisnis, tetapi juga memerlukan pendekatan yang lebih luas dalam membangun sistem perlindungan ekonomi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Delil mengutip pemikiran ulama Yusuf al-Qaradawi yang membahas konsep jaminan ekonomi dalam Islam sebagai salah satu sumber inspirasi bagi pelaku industri asuransi syariah.

Delil mengatakan gagasan tersebut dapat menjadi referensi bagi industri dalam merumuskan strategi pengembangan yang lebih kuat dan berkelanjutan. Menurutnya, sistem jaminan ekonomi Islam memiliki berbagai lapisan yang dapat menjadi landasan dalam memperkuat ekosistem keuangan dan perlindungan syariah.

|Baca juga: Bank DBS Indonesia: Keberlanjutan Harus Terlihat dari Cara Bank Membiayai hingga Menciptakan Dampak

|Baca juga: Daya Beli Tertekan, Prudential Yakin Kebutuhan Asuransi Tetap Dibutuhkan Masyarakat

“Saya rasa ini adalah buku kecil yang menurut saya bisa menjadi aspirasi buat kita praktisi asuransi syariah. Di buku itu Syeikh Qaradawi menyimpulkan bahwa sistem jaminan ekonomi Islam itu punya enam lapisan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Delil menegaskan, penguatan industri asuransi syariah perlu dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh pemangku kepentingan. Dengan fondasi industri yang lebih kuat, ia optimistis sektor asuransi syariah dapat berkembang lebih cepat dan meningkatkan kontribusinya terhadap industri jasa keuangan nasional.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Konflik Timur Tengah Berpotensi Tekan Industri Asuransi RI Lewat Lonjakan Klaim
Next Post Bank JTrust (BCIC) Tegaskan Pembebasan Tanggung Jawab Ganti Rugi Nasabah Antaboga

Member Login

or