1
1

Perlunya Upaya Menjaga Daya Tahan Portofolio di Tengah Gelombang Pasar

Portfolio Manager, Fixed Income MAMI, Laras Febriany. | Foto: MAMI

Media Asuransi, JAKARTA – Narasi higher for longer kembali menguat seiring kenaikan harga energi dan inflasi dunia separuh tahun 2026 ini. Ke mana suku bunga global akan mengarah?

Di bulan Juni lalu AS dan Iran sepakat berunding untuk mencapai perdamaian. Namun konflik senjata justru kembali terjadi di tengah periode negosiasi yang sedang berjalan. Sampai saat ini berita dari Timur Tengah terus silih berganti antara optimisme perdamaian dengan peningkatan konflik senjata.

Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memperkirakan bahwa selama tensi geopolitik, pergerakan harga minyak, dan potensi inflasi masih tidak jelas, bank-bank sentral dunia juga masih akan mempertahankan sikap waspada lebih siap mengantisipasi kenaikan dibandingkan dengan menurunkan suku bunga.

Menurut Portfolio Manager, Fixed Income MAMI, Laras Febriany, hal itu dilakukan seiring risiko peningkatan inflasi global yang masih terus membayangi, seperti yang terjadi di bulan Juli 2026, saat The Fed mempertahankan Fed Funds Rate (FFR) di level 3,50 persen hingga 3,75 persen, mencerminkan sikap kehati-hatian yang masih dipertahankan, sejalan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan akan adanya kenaikan kembali FFR di sisa tahun 2026 ini.

|Baca juga: Ulasan MAMI: Stabilitas dan Konsistensi Kebijakan Menjadi Harapan Penopang Kinerja Pasar

Dia jelaskan bahwa rupiah mulai menunjukkan tanda stabilisasi, dalam arti pelemahan tidak lagi berlangsung secara akseleratif. “Namun stabilitas ini perlu dilihat dengan hati-hati karena dinamika global yang masih sangat dinamis.  Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia yang berperan sebagai bantalan juga masih relatif rendah dibandingkan posisi sebelumnya,” kata Laras dalam keterangan resmi.

Posisi neraca transaksi berjalan pun serupa, diperkirakan kondisi defisit akan terus terjadi sampai akhir tahun walaupun sepertinya periode tersulit telah terlewati di kuartal kedua lalu. Bagi pasar obligasi, stabilitas rupiah sangat penting karena menjadi salah satu pertimbangan utama investor asing dalam masuk kembali ke pasar SBN.

“Jika rupiah dapat bergerak lebih stabil, maka premi risiko dapat menurun dan daya tarik obligasi Indonesia akan kembali meningkat. Kita berharap kondisi stabilitas ini dapat konsisten berlanjut,” jelasnya.

|Baca juga: Inilah Strategi Portofolio Reksa Dana Obligasi Versi MAMI

Di sisi lain, kenaikan agresif BI Rate sebesar satu persen pada periode Mei-Juni 2026, menunjukkan prioritas kebijakan bank sentral untuk menjaga stabilitas rupiah. “Sinyal lain yang kami perhatikan adalah stabilisasi imbal hasil SRBI dan penerbitannya yang lebih terkendali, tidak lagi terlalu agresif. Hal ini dapat diartikan bahwa BI sudah lebih nyaman dengan kebijakan pengetatan dan dampak yang terjadi dalam mengupayakan stabilitas rupiah,” tuturnya.

Walaupun demikian, menurut Laras, pasar masih akan mencermati kesinambungan kebijakan, terutama terkait pergantian Gubernur BI. Bagi pasar obligasi, kredibilitas dan konsistensi kebijakan moneter menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor. Ruang pengetatan tambahan juga sudah mulai terbatas, dan dapat membuat BI menghadapi kondisi yang dilematik jika ke depannya rupiah mendapat tekanan pelemahan lanjutan.

Sementara itu mengenai obligasi, menurut dia daya tarik obligasi Indonesia terutama berasal dari valuasi relatif yang semakin kompetitif. Jika dibandingkan dengan negara-negara berperingkat setara,  imbal hasil  SBN tenor 10 tahun yang ditawarkan Indonesia –dan selisihnya  dengan obligasi negara  Amerika Serikat (UST) tenor yang sama– secara relatif sangat menarik.

Hal ini tecermin dari arus dana investor asing di bulan Juni-Juli yang  mulai kembali masuk ke pasar SBN. Ini menunjukkan bahwa pada level imbal hasil saat ini, pasar mulai menilai obligasi Indonesia memiliki kompensasi risiko yang lebih menarik. “Namun kami tetap menekankan bahwa daya tarik valuasi perlu diimbangi dengan konsistensi kebijakan yang berkesinambungan, karena faktor seperti harga energi, arah kebijakan BI, kondisi fiskal, dan sentimen global masih dapat membebani sentimen investasi,” tegas Laras.

Dia tambahkan, sampai akhir tahun ini ada beberapa risiko yang harus dicermati oleh investor obligasi kita cermati. Pertama adalah risiko eksternal dari volatilitas harga minyak dan hubungannya dengan potensi inflasi. Jika harga minyak tetap tinggi dalam waktu lama, tekanan terhadap inflasi dan neraca eksternal dapat meningkat.

|Baca juga: BEI Komitmen Pacu Transformasi di Pasar Modal RI, Begini Penjelasannya!

Kedua juga masih dari eksternal yaitu iklim suku bunga global, terutama jika The Fed mempertahankan sikap hawkish lebih lama dari ekspektasi pasar. Ketiga adalah risiko domestik terkait  konsistensi kebijakan, kredibilitas dan independensi BI, kedisiplinan fiskal, dan outlook sovereign rating. Keempat, kita juga tidak boleh mengabaikan perkembangan review MSCI.

“Walaupun isu ini lebih terkait pasar saham, dampaknya terhadap sentimen investor asing terhadap Indonesia secara keseluruhan tetap perlu dicermati. Kita harapkan perpanjangan interim freeze MSCI hingga November memberi waktu bagi regulator untuk terus melanjutkan pembenahan, dan transformasi pasar modal yang lebih transparan dapat menjadi faktor positif bagi persepsi investor terhadap keseluruhan pasar modal Indonesia,” kata Laras.

Sementara itu, mengenai strategi pengelolaan portofolio obligasi MAMI saat ini, dia jelaskan bahwa dalam kondisi pasar yang masih fluktuatif, MAMI mengedepankan pengelolaan portofolio yang aktif, selektif, dan disiplin terhadap risiko. Valuasi obligasi Indonesia memang sudah semakin menarik, tetapi MAMI tidak melihat ini sebagai satu-satunya alasan untuk menjadi terlalu agresif tanpa mempertimbangkan volatilitas.

Pengelolaan portofolio tetap dilakukan secara adaptif, menyesuaikan perkembangan rupiah, arah kebijakan BI dan The Fed, postur fiskal, pergerakan UST, dan minat investor asing. Alokasi aset investasi dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, mempertimbangkan semua potensi dan risiko masing-masing kelas aset serta memanfaatkan momentum pasar.

Menurutnya, diversifikasi menjadi kunci penting dalam menjaga tingkat risiko investasi. Dalam hal pengelolaan kelas aset obligasi, strategi investasi difokuskan pada positioning di kurva imbal hasil, pemilihan efek, serta manajemen durasi yang dinamis, guna mengoptimalkan potensi imbal hasil dengan risiko yang terkendali.

Dia tekankan, dalam menghadapi volatilitas jangka pendek di tengah ketidakpastian baik dari sisi global maupun domestik, reksa dana obligasi yang memiliki karakteristik defensif dapat menjadi salah satu opsi bagi investor. Reksa dana obligasi juga unggul dari segi fleksibilitas dalam melakukan pencairan atau pembelian kapan saja dengan harga unit yang jelas.

“Lini reksa dana obligasi MAMI juga memiliki fitur pembagian hasil investasi (PHI) seperti dividen yang dapat dimanfaatkan investor untuk memperoleh pendapatan reguler atau untuk reinvestasi ke kelas aset lain tanpa melakukan pencairan reksa dana,” tuturnya.

Editor: S. Edi Santosa

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Klaim Asuransi Jiwa dan Kesehatan Tembus Rp148,02 Triliun di Semester I/2026
Next Post IHSG Berbalik Melemah Respons Review MSCI

Member Login

or