1
1

Ulasan MAMI: Stabilitas dan Konsistensi Kebijakan Menjadi Harapan Penopang Kinerja Pasar

Head of Investment Specialist MAMI, Freddy Tedja. (foto: doc. MAMI)

Media Asuransi, JAKARTA – Harga minyak dunia sudah turun dari puncak gejolak tahun ini di level US$118 per barel ke kisaran US$71 per barel di awal Juli. Penurunan harga minyak memang berpotensi membantu normalisasi inflasi, tetapi kenaikan harga energi di paruh pertama 2026 sudah kadung berdampak luas terhadap inflasi AS.

Perkiraan pasar terhadap Fed Funds Rate (FFR) berbalik arah, dari awalnya di akhir tahun lalu konsensus pasar melihat tahun 2026 adalah tahun penurunan FFR, saat ini justru mayoritas pasar memperkirakan akan ada satu dua kali kenaikan FFR. Satu hal yang menarik, dot plot FOMC bulan Juni kemarin menunjukkan sinyal yang lebih berimbang. 8 dari 18 anggota FOMC, hampir setengahnya, masih memandang FFR tahun ini dapat “stay”,  dan sisanya memandang perlu ada kenaikan. Artinya The Fed sendiri belum mencapai konsensus ke mana kebijakan ke depan harus dibawa.

“Kami memandang untuk sementara waktu The Fed akan mempertahankan FFR di level saat ini sambil terus memperhatikan kondisi pasar tenaga kerja yang sedang tidak stabil dan menunggu dampak penurunan harga minyak terhadap inflasi jangka pendek ke depan,” kata Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Freddy Tedja, dalam keterangan resmi.

Ditambahkan bahwa bias hawkish The Fed menjadi salah satu faktor penekan mata uang dunia termasuk Asia. Alhasil bank sentral di berbagai kawasan bersikap waspada dan cenderung ikut hawkish sebagai upaya menciptakan bantalan bagi stabilitas nilai tukarnya. Secara umum kondisi ini baru dapat berubah jika tensi geopolitik benar-benar reda, volatilitas harga minyak dunia turun dan terjadi normalisasi konsisten, inflasi AS kembali menunjukkan tren penurunan, yang pada akhirnya dapat mengubah bias kebijakan The Fed kembali ke arah netral-dovish.

| Baca juga: MAMI Tanam Pohon 1.000 untuk Peringati World Enviroment Day dan Perjalanan 30 Tahun di Indonesia

“Sampai itu terjadi, pasar masih akan sangat sensitif terhadap komunikasi bank sentral dan data inflasi. Tentu saja kondisi makro internal masing-masing negara juga menjadi pertimbangan bank sentral,” jelas Freddy.

Sementara itu, di Indonesia saat ini pasar saham, obligasi, dan nilai tukar masih terus berfluktuasi tinggi, seiring kepercayaan investor yang belum pulih. Namun jika kita perhatikan, ada upaya dari pemerintah untuk memperbaiki kondisi melalui kebijakan-kebijakan yang lebih ramah pasar.

Beberapa kebijakan dan re-kalibrasi ini semakin marak dikomunikasikan sejak bulan Juni, seperti misalnya penurunan anggaran MBG, target jumlah Koperasi Desa yang berkurang dari 80 ribu ke 40 ribu, pembatalan rencana skema bagi hasil minerba, penegasan fungsi PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang lebih jelas dalam wacana ‘ekspor satu pintu’.

Sebelumnya di bulan Maret lalu pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk menjaga defisit fiskal tetap dalam koridor <3%. Dari sisi moneter, Bank Indonesia mempertegas prioritas stabilitas Rupiah melalui kenaikan BI Rate 50bps di Juni, termasuk 25bps pada rapat di luar jadwal biasa.

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Media Asuransi (@mediaasuransinews)

“Sinyal ini penting untuk menjaga kredibilitas dan menegaskan independensi BI dan meningkatkan daya tarik aset domestik, dan berdasarkan proyeksi MAMI, BI rate masih mungkin naik lagi sampai akhir tahun ini,” tutur Freddy.

| Baca juga: Inilah Strategi Portofolio Reksa Dana Obligasi Versi MAMI

Lebih lanjut dia sampaikan bahwa nilai tukar rupiah lebih stabil pada Juni, didukung oleh kebijakan pro stabilitas BI dan perubahan nada kebijakan pemerintah. Tekanan musiman pembayaran dividen dan periode haji juga mulai berkurang.

Namun stabilitas rupiah masih rentan. Pasar akan terus memantau perkembangan global, termasuk geopolitik dan arah suku bunga The Fed, serta faktor domestik seperti evaluasi S&P Global Ratings pada Juli-Agustus dan konsistensi kebijakan pemerintah. “Jika semuanya menunjukkan hasil positif, MAMI memproyeksikan di akhir tahun 2026 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat mencapai kisaran Rp17.500,” tegasnya.

Di sisi lain, per akhir Juni, selisih imbal hasil SBN & UST tenor 10 tahun tercatat sebesar 273bps (basis points), lebih lebar dari rata-rata satu tahun sekitar 220bps, dan lebih menarik dibandingkan dengan beberapa negara berkembang lain yang bahkan peringkat kreditnya lebih rendah dari Indonesia. Artinya, secara valuasi sebenarnya obligasi Indonesia saat ini sangat atraktif.

Tetapi masih ada ketidakpastian yang masih ditunggu investor, yaitu stabilitas Rupiah, arah BI Rate, dan konsistensi & komitmen disiplin fiskal. Saat ini setidaknya ada faktor harapan baik untuk stabilitas rupiah, inflasi, dan arah BI Rate, yaitu redanya tensi geopolitik dan normalisasi harga minyak dunia. Mengenai disiplin fiskal, ini yang masih harus terus dikomunikasikan dan dibuktikan oleh pemerintah.

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Media Asuransi (@mediaasuransinews)

Sementara itu, mirip pasar obligasi, kalau dilihat dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia sangat menarik. Ratio forward P/E MSCI Indonesia per akhir Juni sebesar 8,7 kali, sementara rata-rata lima tahun terakhir sebesar 13,2 kali. Di sisi lain, valuasi ‘murah’ juga dapat mencerminkan pandangan pasar yang belum memiliki keyakinan terhadap outlook jangka pendek pasar saham.

|Baca juga: MAMI Perkirakan Kebijakan Pemerintah di 2026 Masih Pro Pertumbuhan

Selain pembenahan dan transformasi pasar saham yang sudah dimulai sejak awal tahun, pasar masih membutuhkan katalis lebih lanjut seperti arah kebijakan ekonomi yang jelas, konsisten, dan dipersepsikan tidak ‘destruktif’, serta adanya sinyal perbaikan pada perekonomian riil seperti konsumsi dan daya beli. “Kita harapkan serangkaian re-kalibrasi kebijakan yang banyak diumumkan pemerintah sejak Juni kemarin dapat diterima investor dengan positif, dan pembenahan pasar saham yang menjadi isu dari lembaga-lembaga internasional pembuat indeks juga dapat berjalan konsisten,” kata Freddy.

MAMI menilai bahwa saat ini pemerintah mulai menata ulang arah kebijakan, BI berupaya menopang rupiah, dan valuasi aset domestik baik pasar saham maupun obligasi saat ini sudah  menarik, tetapi pasar belum sepenuhnya yakin, masih perlu melihat konsistensinya. Menurut Freddy, dalam kondisi ini kuncinya ada dua, yaitu seleksi dan disiplin alokasi.

Seleksi diperlukan karena tidak semua aset yang murah otomatis menarik, sementara disiplin alokasi dan ‘kesabaran akumulasi’ penting agar investor dapat membangun posisi secara terukur di tengah volatilitas yang masih tinggi. Untuk obligasi, naiknya imbal hasil memberi peluang akumulasi selektif, terutama jika stabilitas rupiah terjaga. Sementara di pasar saham, kualitas emiten lebih penting daripada sekadar valuasi murah.

Editor: S. Edi Santosa

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bank Mandiri (BMRI) Salurkan KUR Rp17,77 Triliun hingga Mei 2026
Next Post BMHS Hadirkan Sistem Bedah Robotik Pertama di Sumatra Barat

Member Login

or